by

Muslim Arbi: #2019GantiPresiden

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Dalam iklim Demokrasi, Tagar 2019 Ganti Presiden seperti yang sedang ngetrend sekarang ini, sah sah saja. Jika ada yang gerah dengan tagar itu, patut di pertanyakan. Apalagi, jika ada partai yang berlabel perjuangan demokrasi emosi dengan tagar itu. 
Bahkan saking populer nya tagar Ganti Presiden 2019 di kaos kaos yang di cetak dan menjamur, sehingga mengundang perhatian Presiden Jokowi yang menyinggung dalam sebuah pidato nya. Apakah kaos bisa mengganti Presiden? Memang bukan kaos yang mengganti Presiden. Tapi Rakyat yang pakai Kaos itu yang ingin Presiden di ganti pada 2019.
Tagar 2019 Ganti Presiden yang menggema di medsos, sudah menjadi kekuatan yang di takuti. Masyarakat malah bukan saja mencetak kaos, tapi pin, mangkuk2, sapnduk2, poster yang sudah bertebaran di dunia maya maupun dunia nyata. Meski dengan gusar Menko Maratim, Luhut Bibsar Panjaiatan menyebut nya hanya sebgaian kecil. Tapi kenapa di tanggapi Bos nya? 
Kalau melihat, semangat Rakyat menyebarkan Tagar #2019GantiPresiden, ini adalah kekuatan dahsyat yang tidak bisa di bendung lagi, meski Pilpres masih setahun lagi. Tagar 2019 Ganti Presiden itu, adalah koreksi total masyarakat atas kepemimpinan Jokowi sejak 2014 sampai sekarang. Rakyat lah yang merasakan. Dan Rakyat telah memberi vonis dengan tagar tersebut. Dan Palu Sosial #2019GantiPresiden sudah di jatuhkan. Dan penulis kira itu menjadi kekuatan dan pukulan telak atas rezim ini. 
Setelah menontot di ILC, semalam, selasa, 10 April, Bang Mursalin Dahlan, Senior dalam Dunia Gerakan, menulis di sebuah WAG, “…Kita tidak mau terlibat dalam serang menyerang antara pendukung Jokowi dan pendukung Prabowo. Karenanya kita batasi sampai di situ. Namun, kita berkewajiban menyelamatkan NKRI dari perpecahan, pertarungan ambisi kekuasaan, korupsi, manipuiasi, intervensi dan invasi Asing dan Aseng, pemimpin yang lemah. Karena nya hak kita sebagai rakyat secara bebas mengganti Presiden 5 tahun sekali melalui Pilpres. 
Ada Puisi menarik yang ditulis oleh seorang Alumni ITB Mesin 98. Puisi yang di tulis oleh Achmad Akhyar cukup mewakili, rintihan Rakyat: 
Kau ini bagaimana?
Kau janji tidak bagi bagi kursi
Aku lihat di tivi
Kau malah bagi bagi ke mentri
Aku harus bagaimana?
Kau bilang kita harus mandiri
Aku cape cape nanam padi
Kau impor lagi impor lagi
Kau ini bagaimana?
Kau bilang dana ada, 
tinggal kerja kerja kerja
aku mau kerja dananya tidak ada
Aku harus bagaimana? 
Kau bilang kita harus berdikari
Aku lihat di koran tiap hari 
Kau malah utang sana sini
Kau ini bagaimana?
Kau bilang kita harus cabut subsidi
Aku sudah makan hati
Konglomerat malah kau kasih subsidi
Aku harus bagaimana?
Kau bilang aku harus kerja
Aku susah cari kerja kau malah impor
pekerja dari Cina
Kau ini bagaimana?
Kau bilang aku harus kreatif
Aku coba bikin kaos
bisa bisa di tuduh subversif
Aku harus bagaimana?
Aku kritik kau bilang harus pakai data
Aku kasih data kau bilang harus ada solusi
Aku kasih solusi malah aku dibuli
Kau ini bagaimana?
Kau janji ekonomi bakal meroket
Yang ada hidupku tambah sereeertt
Kau ini bagaimana
Atau aku harus bagaimana?
Apa kau berhenti saja
Atau aku ganti saja?

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

12 + fourteen =

Rekomendasi Berita