by

Nasihat Bagaimana Menyikapi Kematian Keluarga, Kawan Dan Persiapan Untuk Kita

-Opini-152 views

 

 

 

Oleh: Ustadz Abu Taqi Mayestino, Dosen dan Pengurus Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Jatim

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Ini merupakan sebuah nasihat yang berasal dari Islam sebagai agama tawhid dengan 124.000 nabi dan rosulNya, yang saya kirimkan kepada kenalan yang baru kehilangan sementara anggota keluarga.

Dalam hal berkabung atas kematian keluarga, kerabat dan kenalan.

Sebenarnya, kehilangan itu hanya sementara saja sifatnya karena Pada hakikatnya kita pun akan berjumpa lagi dengan mereka di Surga.

Inilah yang benar-benar kita pahami,  agar sama-sama berjumpa lagi di Surga. Baik kita sendiri, yang masih hidup, maupun membantu mereka yang sudah wafat itu.

Kita boleh bersedih. Tidak dilarang dalam Islam nmun ada batasnya. Ketahuilah, alam Qubr itu berbeda dengan alam dunia.

Boleh jadi, mereka yang sholih dan sholihah selama di dunia justeru lebih senang berada di sana karena amal sholihnya membuatnya nikm

Jangan meratapi berlebihan krena  mayyit justeru dapat tersika di alamnya dan yang meratapi berdosa.

“Ada tiga perkara yang mengikuti mayit sesudah wafatnya, yakni: (1) keluarganya, (2) hartanya dan (3) amalnya.”

“Yang dua kembali dan yang satu tinggal bersamanya. Yang pulang kembali adalah keluarga dan hartanya, sedangkan yang tinggal bersamanya adalah amalnya.” (H. R. Bukhori dan Muslim).

“Seorang mayyit dalam (alam) kuburnya seperti orang tenggelam yang sedang minta pertolongan. Dia menanti-nantikan do’a dari ayah, ibu, anak, dan kawan yang terpercaya.”

“Manakala do’a itu sampai kepadanya baginya lebih disukainya daripada dunia berikut segala isinya.”

“Dan sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla menyampaikan doa penghuni dunia untuk ahli kubur sebesar gunung-gunung.”

“Adapun hadiah dari orang-orang yang masih hidup kepada orang-orang yang telah mati, adalah memohonkan istighfar (ampunan) kepada Allah untuk mereka, dan bersedekah (shodaqoh) atas nama mereka.”(H. R. Ad-Dailami)

Seorang mayyit dapat disiksa di alam kubur disebabkan tangisan keluarganya.(Hadits Mashabih Assunnah)

Penjelasan:

Hal tersebut terjadi bila keluarganya menangisi mayit dengan berlebih-lebihan dan berteriak-teriak, dsb. Menangisi dengan wajar, dibolehkan dalam agama.

“Tidak dibolehkan bagi seorang perempuan yang berimaan kepada Allah dan hari Akhir, berkabung atas suatu kematian lebih daripada tiga malam, kecuali terhadap kematian suaminya, maka masa berkabungnya empat bulan dan sepuluh hari.”(H. R. Bukhori dan Muslim).

Penjelasan:

Kematian ayah, ibu, saudara dan yang lain selain suaminya, masa berkabungnya tidak boleh melebihi tiga hari.

Nasihat khusus untuk kita semua yang masih hidup dan pasti mati ini:

Seorang sahabat Nabi bertanya, “Yaa Rosululloh, pesankan sesuatu kepadaku yang akan berguna bagiku dari sisi Allah.”

Nabi – shollallohu ‘alaihi wa sallam – lalu bersabda:

“Perbanyaklah mengingat kematian maka kamu akan terhibur dari (kelelahan) dunia, dan hendaklah kamu bersyukur. Sesungguhnya bersyukur akan menambahkan kenikmatan Allah, dan perbanyaklah do’a. Sesungguhnya kamu tidak mengetahui kapan do’amu akan dikabulkan.”(H. R. Ath-Thobroni)

“Tidak ada sesuatu yang dialami anak Adam dari apa yang diciptakan Allah lebih berat daripada kematian. Baginya kematian lebih ringan daripada apa yang akan dialaminya sesudahnya.”(H. R. Ahmad)

“Wahai, Rosululloh, manakah di antara kaum mu’miniin (yang berimaan), yang paling utama?”

Beliau – shollallohu ‘alaihi wa sallam – menjawab:

”Yang paling baik akhlaqnya, di antara mereka.”

Dia bertanya lagi:

“Manakah di antara kaum mu’miniin yang paling cerdik?”

Beliau – shollallohu ‘alaihi wa sallam – menjawab:

“Yang paling banyak mengingat kematian di antara mereka, dan yang paling bagus persiapannya, untuk setelah kematian. Mereka itulah orang-orang yang cerdik.” (H. R ‘Ibnu Majah).

Wastaghfirulloh. Walhamdulillaah. Wa laa haula wa laa quwwata illa billaah.[]

Comment

Rekomendasi Berita