by

Noor Hidayah,SIP, MPA*: Membaca Ulang Sejarah, Adakah Jejak Khilafah di Nusantara?

-Opini-15 views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Indonesia adalah Negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam. Tempat ibadah umat Islam ini mudah ditemukan, tidak hanya di kota tapi sampai ke pelosok desa. Pondok pesantren juga banyak tersebar di berbagai daerah.

Indonesia pun menjadi penyumbang terbesar dalam jumlah jamaah haji yang berangkat ke tanah suci Mekah. Bahkan ada satu daerah yang mendapat keistimewaan untuk menerapkan aturan Islam dalam kehidupan publiknya, yaitu Aceh.

Namun, seberapa banyak orang Islam Indonesia yang memahami sejarah agamanya?

Tahukah mereka, dari mana keislaman yang ia dapatkan atau siapa yang pertama kali menyebarkan Islam di Indonesia? Pertanyaan ini penting dijawab, sebagaimana diketahui, salah satu fungsi sejarah adalah sebagai sumber pengetahuan. Sejarah merupakan media untuk mengetahui masa lampau, yaitu mengetahui peristiwa – peristiwa penting di masa lalu dengan perbagai permasalahannya.

Dari sejarah, manusia belajar berbagai cara untuk memecahkan problematika kehidupannya yang berguna baik di masa kini maupun masa mendatang.

Islam bukanlah agama dari Nusantara. Akar dan asal muasal agama masyarakat di Nusantara adalah Hindu, Budha, serta kaum penyembah batu dan roh nenek moyang. Islam sendiri berasal dari Arab dan merupakan agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Sampainya Islam di Nusantara tidak lain adalah karena dakwah; yang dapat tersampaikan karena adanya peran kekuasaan Islam yakni Khilafah. Mengapa?

Sebab misi utama Khilafah selain menerapkan hukum Islam adalah juga mengemban risalah Islam hingga ke seluruh penjuru alam. Sehingga menjadi sesuatu yang logis tatkala Islam mampu mengislamkan Nusantara secara massif hingga Raja Jawa dan sejumlah kerajaan Nusantara berkhidmat kepada Islam. Penduduknya memeluk Islam, sementara para raja menjadi bagian dari kekuasaan Islam. Hal ini tidak akan mungkin terjadi manakala Islam hanya disebarkan oleh kaum pedagang, sebagaimana umumnya anggapan masyarakat selama ini, bahwa Islam adalah agama yang dibawa pedagang Gujarat dari India.

Jika Islam dibawa para pedagang dari Gujarat atau wilayah lainnya, berarti upaya mendakwahkan Islam ini hanya upaya “sambilan”, sementara yang utama bagi para pedagang adalah berdagang. Mungkinkah, dakwah yang dibawa secara “sambilan” itu bisa menyebarkan Islam sedemikian rupa hingga muncul berbagai kesultanan di seantero Nusantara?

Bagaimana mungkin Kesultanan Cirebon (1430 – 1666), Kesultanan Demak (1500 – 1550), Kesultanan Banten (1524 – 1813), Kesultanan Pajang (1568 – 1618), Kesultanan Mataram (1586 – 1755), Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, (1755-sekarang), Kasunanan Surakarta Hadiningrat (1755-sekarang) mendapat gelar kesultanan tanpa peranan Kekuasaan Islam?

Kehadiran para Wali (Walisongo) bukanlah sebagai pedagang biasa yang mencari kehidupan dunia melalui perniagaan sambil mengemban misi dakwah Islam. Hijrahnya para Wali dari daerah asalnya ke Nusantara adalah dalam rangka mengemban misi dakwah Islam. Adapun berniaga, hanyalah aktivitas tambahan untuk mencukupi kebutuhan.

Para Wali bukan hijrah ke Nusantara demi dunia, demi mencukupi kebutuhan nafkah. Akan tetapi, para wali mengemban misi dakwah Islam, misi pembebasan manusia dari penghambaan kepada makhluk menuju menghamba hanya kepada Allah SWT semata.

Dalam kitab Kanzul ‘Hum yang ditulis oleh Ibn Bathuthah yang kini tersimpan di Museum Istana Turki di Istanbul, disebutkan bahwa Walisongo dikirim oleh Sultan Muhammad I. Awalnya, ia pada tahun 1404 M (808 H) mengirim surat kepada pembesar Afrika Utara dan Timur Tengah yang isinya meminta dikirim sejumlah ulama yang memiliki kemampuan di berbagai bidang untuk diberangkatkan ke pulau Jawa.

Sehingga, Walisongo sesungguhnya adalah para dai atau ulama yang diutus khalifah di masa Kekhilafahan Utsmani untuk menyebarkan Islam di Nusantara. Dan jumlahnya ternyata tidak hanya sembilan (Songo). Ada 7 angkatan yang masing-masing jumlahnya sekitar sembilan orang. Memang awalnya dimulai oleh angkatan I yang dipimpin oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim, asal Turki, pada tahun 1400 an. Ia yang ahli politik dan irigasi itu menjadi peletak dasar pendirian kesultanan di Jawa sekaligus mengembangkan pertanian di Nusantara. Seangkatan dengannya, ada dua Wali dari Palestina yang berdakwah di Banten yaitu Maulana Hasanudin, kakek Sultan Ageng Tirtayasa, dan Sultan Aliudin.

Jadi, masyarakat Banten sesungguhnya punya hubungan biologis dan ideologis dengan Palestina. Lalu ada Syekh Ja’far Shadiq dan Syarif Hidayatullah yang di sini lebih dikenal dengan sebutan Sunan Kudus dan Sunan Gunung Jati. Keduanya juga berasal dari Palestina. Sunan Kudus mendirikan sebuah kota kecil di Jawa Tengah yang kemudian disebut Kudus – berasal dari kata al-Quds (Jerusalem) (https://web.facebook.com/MuslimahNewsID)

Jelas, bahwa ada jejak Khilafah di Nusantara. Diantara bukti yang ada yaitu tersimpannya bendera Khilafah di Keraton Yogyakarta, sebagaimana dinyatakan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X dalam Kongres Umat Islam Indonesia ke-6 pada tahun 2015 di Yogyakarta.

Dalam pidato pembukaannya, Sultan HB X mengungkapkan bahwa “Pada 1479, Sultan Turki mengukuhkan R. Patah (sultan Demak pertama) sebagai Khalifatullah ing Tanah Jawa, perwakilan kekhalifahan Islam (Turki) untuk Tanah Jawa, dengan penyerahan bendera Laa ilaah illa Allah berwarna ungu kehitaman terbuat dari kain Kiswah Ka’bah, dan bendera bertuliskan Muhammadurrasulullah berwarna hijau. Duplikatnya tersimpan di Kraton Yogyakarta sebagai pusaka, penanda keabsahan Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat wakil Kekhalifahan Turki” (https://republika.co.id).

Bukti lain yaitu adanya dua pucuk surat yang dikirimkan Maharaja Sriwijaya di tanah Syamatirah (Sumatera), penguasa di Nusantara yang masih beragama Hindu kepada Khalifah masa Bani Umayah. Surat pertama dikirim kepada Muawiyah dan surat kedua dikirim kepada Umar bin Abdul Aziz. Ditemukan dalam sebuah diwan (arsip) Bani Umayah oleh Abdul Malik bin Umair yang disampaikan kepada Abu Ya‘yub ats-Tsaqafi, yang kemudian disampaikan kepada Haitsam bin Adi. Al-Jahizh yang mendengar surat itu dari Haitsam menceritakan pendahuluan surat itu sebagai berikut:

“Dari Raja al-Hind yang kandang binatangnya berisikan seribu gajah, yang istananya terbuat dari emas dan perak, yang dilayani putri raja-raja, dan yang memiliki dua sungai besar yang mengairi pohon gaharu, kepada Muawiyah…”

Dalam literatur yang lain dijelaskan, sejak Islam masuk, Raja Sriwijaya Jambi bernama Srindravarman mengirim surat kepada Khalifah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz dari Khilafah Bani Umayah pada 100 H (718 M). Salah satu isi suratnya berbunyi,
“Dari Raja di Raja (Malik al-Amlak) yang adalah keturunan seribu raja; yang beristri juga cucu seribu raja; yang di dalam kandang binatangnya terdapat seribu gajah; yang di wilayahnya terdapat dua sungai yang mengairi pohon gaharu nan harum, bumbu-bumbu wewangian, pala, dan kapur barus yang semerbak wanginya hingga menjangkau jarak 12 mil; kepada Raja Arab yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Tuhan. Saya telah mengirimkan kepada Anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekadar tanda persahabatan. Dengan setulus hati, saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya dan menjelaskan kepada saya tentang hukum-hukumnya.”

Ini adalah surat dari Raja Sri Indrawarman kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang baru saja diangkat menggantikan Khalifah Sulaiman (715-717 M). Surat kedua didokumentasikan Abd Rabbih (246-329/860-940) dalam karyanya, Al-Iqd al-Farîd. Potongan surat tersebut berisi sebagai berikut:

“Dari Raja Diraja…, yang adalah keturunan seribu raja… Kepada Raja Arab (Umar bin Abdul Aziz) yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Tuhan. Saya telah mengirimkan kepada Anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekadar tanda persahabatan. Saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya dan menjelaskan kepada saya hukum-hukumnya.” (https://www.muslimahnews.com).

Bukti lain adanya jejak Khilafah di Nusantara adalah Sultan Ibrahim Aceh yang mengirim dua surat kepada Khalifah secara berturut-turut. Yang pertama dikirim pada tahun 1849 dan ditulis dalam bahasa Arab-Melayu, sedangkan yang kedua dikirim setahun kemudian yang ditulis dalam bahasa Arab fushha serta dilampirkan juga sebuah peta kepulauan dan jazirah Melayu, dan sebagian dataran India. Setelah pembukaan berisikan doa dan pujian dalam surat yang dikirim tahun 1850, Sultan Ibrahim menulis, yang artinya “Saya istimewakan dengan semua itu Hadarat Sultan yang agung dan Khaqan yang besar; Pewaris Khilafah, Kesultanan dan Kerajaan; Sultan orang-orang Arab, ‘Ajam dan Turki; Pembela panji-panji keagamaan; Penghancur orang-orang yang bersikap keras kepala terhadap Agama Muhammad; Pembela Iman dan Islam; Pembentang hamparan kedamaian dan keamanan, Hadarat yang Berbahagia Tuan kami Sultan ‘Abdul Majid Khan; semoga Allah mengekalkan kerajaan dan kesultanannya, menjadikan segenap penjuru dunia sebagai kerajaan dan wilayahnya, dan semoga senantiasa panji keadilannya yang bertebaran kekal abadi sampai dengan hari dibangkitkan, amin.” (http://jejakislam.net)

Selanjutnya, sejumlah kesultanan di Nusantara juga telah bersekutu dengan Kekhalifahan Turki Utsmaniyah, seperti Kesultanan Buton, Sulawesi Selatan. Salah satu Sultan Buton, Lakilaponto, dilantik menjadi “Sultan” dengan gelar Qaim ad-Din yang memiliki arti “penegak agama”, yang dilantik langsung oleh Syekh Abdul Wahid dari Makkah. Sejak itu, Sultan Lakiponto dikenal sebagai Sultan Marhum. Penggunaan gelar “Sultan” ini terjadi setelah diperoleh persetujuan dari Sultan selain di Buton, di barat pulau Jawa yaitu Banten yang sejak awal memang menganggap dirinya sebagai kerajaan Islam, dan tentunya termasuk Dar al-Islam yang ada di bawah kepemimpinan Khalifah Turki Utsmani di Istanbul.

Sultan Ageng Tirtayasa mendapat gelar sultan dari syarif Makkah. Pada akhir abad ke-20, Konsul Turki di Batavia membagi-bagikan Alquran atas nama Sultan Turki.

Di Istanbul, dicetak tafsir Alquran berbahasa Melayu karangan Abdur Rauf Sinkili dengan tertera: “Dicetak oleh Sultan Turki, Raja seluruh orang Islam.”
Sultan Turki juga memberikan beasiswa kepada empat orang anak keturunan Arab di Batavia untuk bersekolah di Turki. Turki Utsmani juga mengamankan rute haji dari wilayah sebelah barat Sumatra dengan menempatkan angkatan lautnya di Samudra Hindia. (https://www.muslimahnews.com).

Iniah beberapa bukti yang menunjukkan adanya hubungan yang dekat antara beberapa kesultanan di Nusantara dengan Khilafah.

Jadi selain wajib bersyukur kepada orang tua atau kakek buyut, masyarakat Indonesia wajib bersyukur atas adanya aktivitas dakwah dan Khilafah yang menyebabkannya beragama Islam; yang mengalihkan kehidupan dari penyembahan kepada berhala menuju penghambaan hanya kepada Allah SWT; yang membawa manusia dari kegelapan menuju cahaya.[]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 × 2 =

Rekomendasi Berita