by

Pannindya Surya Rahma Sari Puspita: Demokrasi Berdarah Nyawa Dipandang Murah

 Pannindya Surya Rahma Sari Puspita
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA  Anggota Dewan Pengarah Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Fadli Zon saat menjadi narasumber di CNN Indonesia, Jumat (24/5/2019). Fadli Zon menyebutkan, masyarakat Indonesia kini sedang menghadapi sebuah tragedi di dalam demokrasi Indonesia. 
Fadli Zon menjelaskan, dirinya menyampaikan hal tersebut berdasarkan adanya ratusan korban yang gugur selama proses pemilu 2019 berlangsung.Bahkan setelah diumumkan pemenang capres dan cawapres 2019 yaitu pasangan terpilih Joko Widodo Dan KH. Ma’ruf Amin, Indonesia kembali dikejutkan dengan aksi berdarah pada 22 Mei lalu, aksi yang memakan banyak korban baik korban terluka ataupun korban jiwa, kini menyisakan duka bagi keluarga yang ditinggal. 
Pihak kepolisian belum menetapkan tersangka pasti dibalik semua aksi kekisruhan yang terjadi pada 22 Mei lalu. Menurut Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigadir Jenderal Polisi Dedi Prasetyo, tidak dapat menyangkal bahwa telah terjadi kesalahan prosedur dalam yang dilakukan oknum Brimob dalam penangkapan Andri Bibir. Apa yang dilakukan petugas oknum tersebut, tidak dapat dibenarkan. 
Ironi kepemimpinan di dalam demokrasi begitu menyesakan, bagaimana tidak? Untuk tahun pemilu saat ini saja, indonesia disuguhkan dengan berita miris ratusan korban jiwa melayang begitu saja, bahkan setelah pemilu selesai pun indonesia kembali berdarah dengan aksi kisruh. Saat ini nyawa manusia dihargai begitu murah, seolah olah nyawa manusia sudah tidak berharga lagi jika sudah berhadapan dengan tahta dan harta.
Jika sudah menjadi mayat, tak ada yang mau disalahkan bahkan tak ada satupun yang mau bertanggung jawab, sehingga untuk menutupi dalang dibalik itu semua, dihadirkan tokoh pelaku bayaran hanya untuk menutupu segala kebusukan yang terjadi dibalik kamera yang tak dapat dijangkau oleh masyarakat Indonesia. Berbeda jika kepemimpinan di dalam Islam, semua dilalui dengan adil, tanpa ada nya tumpang tindih apalagi dengan adanya sogok menyogok. 
Pemimpin di dalam Islam benar benar dipilih sesuai suara rakyat tanpa adanya manipulasi apalagi suara ghaib. Bahkan pemilihan khalifah (Pemimpin) didalam Islam tanpa harus adanya pertumpahan darah untuk memperkukuh kekuasaan atau jabatan untuk menjadi seorang khilafah. Perbedaannya begitu kentara dengan kepemimpinan di dalam Demokrasi, setiap lima tahun ajang pemilihan umum terjadi selalu ada kisah baru yang diauguhkan dari capres dan cawapres untuk Indonesia. 
Rasanya tak ada satupun yang benar benar menetap untuk menjadi pengabdi negara paling setia untuk menjadi pemimpin bagi negeri ini untuk mengayomi masyarakat, untuk manjadi tameng bagi rakyatnya, bukan malah memakan nyawa rakyat hanya untuk kepentingan jabatan, apalagi sampai bersikap acuh, tak peduli dan tak bertanggung jawab seperti ini. 
Di dalam Islam nyawa manusia bukan hal main main bukan juga sesuati yang diharagai murah, nyawa manusia di dalam Islam benar benar dilindungi bahkan Islam menetapkan sanksi qisos jika ada yang membunuh tanpa hak. 
Nyawa yang Allah titipkan pada masing masing jiwa itu hanya sekali, tidak dapat dibeli jika nyawa sudah habis, maka dari itu nyawa benar benar harus direngkuh seerat eratnya, harus dijaga sekuat kuatnya.[]
*Mahasiswi UIN SMH Banten jurusan Pend. Bahasa Arab) 

Comment

Rekomendasi Berita