Paradoks Sikap Muslim di Momen Pergantian Tahun

Opini79 Views

 

 

Penulis: Anggia Widianingrum | Aktivis Muslimah

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Dunia sedang tidak baik-baik saja. Lebih khusus terjadinya pembantaian masyarakat Palestina oleh zionis Israel. Namun demikian, momen perayaan pergantian tahun seolah tidak boleh dilewatkan bagi sebagian besar masyarakat di negeri ini. Pesta kembang api, terompet, bakar-bakaran, serta tak ketinggalan suara musik yang keras menjadi ciri khasnya.

Terlepas dari larangan bagi muslim yang ikut merayakannya, ternyata perayaan pergantian tahun kali ini banyak mengundang antusias masyarakat di berbagai tempat.

Di ibu kota Jakarta misalnya, terdapat beberapa rekomendasi yang difasilitasi untuk dijadikan spot kemeriahan pesta kembang api pergantian tahun. Seperti Monas, Bundaran HI, Gelora Bung Karno, SCBD, dan masih ada beberapa lainnya.

Bahkan menurut laman cnn.indonesia.com (31/12/2023), di penghujung 2023, Ancol mengadakan pesta kembang api beserta acara Jakarta Biggest Musical Firework dan Gempita 2023 yang menghadirkan sejumlah artis dan musisi ternama.

Tidak hanya di ibu kota Jakarta, di sejumlah wilayah lain juga sama seperti di Daerah Istimewa Yogyakarta misalnya. Menurut survei Kementerian Perhubungan, bahwa ada pergerakan 9,6 juta wisatawan di sana saat libur Nataru 2023 dan 2024. Dan salah satu wisata tujuan adalah Tugu Pal Putih Malioboro dan Keraton Yogyakarta.

Menurut pantauan Republika.co.id (31/12/2023) pengunjung sudah mulai memadati lokasi sejak sore untuk merayakan pergantian tahun.

Namun perlu diwaspadai, di balik gemerlap dan harapan di tahun yang baru, ada sisi gelap pada momen pergantian tahun yang identik dengan perilaku maksiat. Terlebih di wilayah perkotaan seperti pacaran dan seks bebas. Hal tersebut sudah menjadi lumrah dikalangan remaja dengan dalih sebagai pembuktian cinta. Sungguh miris!

Tersandera Sekat Kebangsaan

Perlu disadari bahwa muslim di tanah air juga tidak lebih baik keadaannya. Dengan penerapan gaya hidup sekuler liberal, menjadikan masyarakatnya hidup bebas tanpa adanya aturan Ilahi. Terjadi kemaksiatan, kriminal, maraknya pergaulan bebas dan segala penyimpangan yang seolah menjauhkan dari sifat-sifat kemanusiaan di tengah masyarakat. Inilah realitas kaum muslim di seluruh dunia, banyak tapi tak memberi pengaruh. Tak ubahnya buih di tengah lautan.

Adapun ideologi kapitalis yang bercokol di dunia hari ini hanyalah alat penjajahan yang ditebar Barat untuk menjajah negeri-negeri muslim. Barat dengan mudah menghancurkan suatu negara ketika keinginannya untuk menjajah ditentang. Tentu saja Barat tidak akan pernah rela umat Islam bersatu, karena itu Barat terus-menerus mempropagandakan strateginya, salah satunya yaitu nasionalisme yang dihembuskan di tengah-tengah umat.
Walhasil umat Islam saat ini tercerai-berai dan bangga dengan slogan-slogan jahiliyah.

Dengan realita yang sedemikian rupa dan jauh dari islam bukan berarti umat boleh bersikap fatalis dalam menghadapi hal tersebut, melainkan harus berupaya mengubah kehidupan berjalan sesuai aturan yang shahih dan wajib menolong orang-orang yang berada dalam kesusahan.

Mirisnya lagi, hari ini umat hanya bisa menyaksikan ketika saudaranya di Palestina dizalimi tanpa melakukan perlawanan secara nyata. Menganggap jika apa yang terjadi seperti di Palestina adalah urusan mereka sendiri. Para pemimpin pun hanya sibuk beretorika di atas podium tanpa mengambil opsi jihad tentaranya untuk melawan kezaliman karena tersandera berbagai kepentingan kekuasaan.

Mereka bergandengan tangan dengan zionis dengan terus memasok kebutuhan bahan bakar yang digunakan untuk menjalankan tank-tank mereka untuk memborbardir rakyat Palestina. Umat tercabik-cabik oleh sekat kebangsaan yang ditanam oleh barat. Menjadikan mereka tak tau mana musuh yang mesti dilawan dan saudaranya yang mesti dibela.

Urgensi Kepemimpinan islam dunia sebagai Pemersatu Umat

Sesunggunya akar seluruh permasalahan di negeri-negeri muslim saat ini ialah karena ketiadaan kepemimpinan umat Islam dunia yang dapat melindungi dan menjaga umat manusia seluruhnya. Mengapa bisa dikatakan demikian?

Karena Islam lah satu-satunya aturan yang datang dari Sang Pencipta manusia itu sendiri, yang akan menjamin keberlangsungan hidup manusia sesuai fitrahnya dan sudah terbukti kegemilangannya selama 13 abad bahkan menguasai 2/3 belahan dunia.

Negeri-negeri yang berada dalam naungan Islam adalah negeri yang terkenal Masyhur peradabannya. Manusia yang hidup di dalamnya terjamin jiwa, harta, akal, keturunan, serta agamanya. Karena Islam adalah rahmat untuk seluruh alam.

Sejarah mencatat ketika Raja Ferdinand II dan Ratu Isabella I melakukan Reconquista atas Granada, tidak hanya kaum muslimin yang mengalami kekejaman, persekusi, dan pengusiran, tetapi juga Yahudi.

Mendengar berita tersebut, Turki Utsmani tidak tinggal diam dan langsung mengirimkan donasi, armada angkatan laut dan duta besarnya untuk menghadap Paus dan tokoh Katolik Eropa kala itu agar bersikap baik terhadap penduduk di sana. Tidak hanya itu, Turki Utsmani juga menerima para pengungsi Yahudi yang hendak menyelamatkan diri, dan menempatkan mereka di wilayah Kekhilafahan Islam.

Begitulah semestinya seorang pemimpin, mampu mengayomi umat manusia, dan kepemimpinan tersebut hanya akan didapat dari sistem yang shahih pula yaitu khilafah Islamiyyah. Negara yang menerapkan Islam secara kafah akan membentuk pribadi masyarakat dan pejabatnya memiliki perasaan yang sama.

Ketakwaan akan terbentuk dan muncul rasa kasih sayang tanpa memandang perbedaan. Serta memandang semuanya kecuali akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT. Wallahu’alam bishowwab. []

Comment