Psikoligi Islam (Bagian 1)

Opini98 Views

 

 

Penulis: Dr. Wido Supraha, M.Si. | Kepala Pusat Studi Sains Sekolah Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Akhir-akhir ini isu-isu kesehatan di masyarakat semakin variatif terutama dengan bertambahnya persoalan terkait gangguan kejiwaan yang meliputi kecemasan overthinking, insecure, stress, burnout, depresi dan isu-isu lainnya. Bahkan kasus bunuh diri terlihat meningkat.

Konsep psikologi Barat terlihat belum mampu menjadi solusi terhadap persoalan di atas diagnosis dan resep yang diberikan terlihat seperti tidak menguasai hakikat jiwa manusia. Terlihat sangat teknis dan cenderung membatasi pada yang bersifat empirik

Aliran-aliran dalam dunia psikologi modern dewasa ini terbagi pada transpersonal, behaviorisme, psikoanalisa, dan humanistik. Dunia Islam butuh segera hadir dengan solusi psikologi Islami yang ditargetkan menjadi solusi bagi kebingungan yang dialami kaum intelektual hari ini.

Pendekatan psikologi Islam adalah pendekatan yang holistik yang tidak membatasi sekedar aspek fisik dan psikologis namun mengintegrasikan dengan aspek spiritual dan keimanan. dibutuhkan pengkajian hingga pengembangan sehingga menjadi sebuah alternatif bahkan mazhab baru yang dapat dirujuk bagi Seluruh manusia dalam mengatasi persoalan-persoalan yang berkembang.

Banyak sekali tokoh-tokoh atau pakar yang sangat otoritatif di bidang Psikologi Islam sejak abad keemasan Islam hingga hari ini, masing-masing mewakili perkembangan persoalan psikologi di zamannya. Di antara mereka tersebut nama seperti al-Kindi (805-873 M), al-Balkhi (850-934 M), ar-Razi (865-925 M), al-Farabi (870-950 M), Ibn Sina (980-1037 M), al-Ghazzali (1058-1111 M), Ibn al-Jauzi (1114-1201 M), Ibn Qayyim al-Jauziyyah (1292-1350 M), Ibn Khaldun (1332-1406 M), dan sekian banyak tokoh hingga sosok-sosok hari ini seperti Muhammad Iqbal, Rania Award, Amber Haikyuu, G. Hussein Rasool dan Malik Badri (1932-2021 M).

Sejatinya, siapapun membutuhkan ilmu psikologi, terlebih seorang Ayah atau Bunda yang menjadi pendidik bagi anak-anaknya, atau para da’i yang menjadi pendidik bagi umat, atau bahkan pemimpin yang menjadi pendidik bagi rakyatnya.

Penelitian dan pengkajian atas hal ini perlu terus dilanjutkan dan dikembangkan bersama-sama sehingga melahirkan sebuah disiplin yang sangat kokoh untuk menjadi jawaban bagi problematika dunia hari ini.[]

Comment