Qiya Amaliah Syahidah: PNS, Antara Prestasi Dan Prestise

Berita406 Views
Qiya Amaliah Syahidah
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Pegawai Negeri Sipil (PNS) merupakan salah satu profesi yang bisa dikata paling  banyak peminatnya. Terbukti, tiap kali pemerintah membuka seleksi CPNS, selalu saja dibanjiri pendaftar. Berbondong-bondong masyarakat mengikuti tes calon pegawai negeri sipil (CPNS). Bahkan jumlahnya jauh melebihi kuota yang disediakan.
Tengok saja tahun 2018 ini, Badan Kepegawaian Negara (BKN) mencatat 2,5 juta orang telah mendaftar sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di SSCN BKN atau sscn.bkn.go.id  (Tirto.id, 11/10/2018). Tercatat sebanyak 72 instansi pemerintahan telah membuka formasi perekrutan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) 2018 hingga Kamis, 20 September 2018 (Liputan6.com, 20/09/2018).  
Sementara itu,  Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Provinsi Sulawesi Tenggara menyebutkan jumlah pendaftar Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) tahun 2018 di Sultra kurang lebih mencapai 40 ribu orang (Sultrakini.com, 15/10/2018).
Nur Endang Abbas selaku Kepala BKD Sultra menuturkan, bahwa ada sekitar 40 ribu orang pendaftar CPNS di seluruh 17 Kabupaten/Kota se-Sultra dengan jumlah rata-rata 3 ribu orang tiap Kabupaten/Kota (Indonesiaberita.com, 15/10/2018).
Berdasarkan data yang sudah ada di BKD sampai tadi malam menunjukkan, Buton Selatan menjadi daerah terbanyak jumlah pendaftar di antara Kabupaten/Kota yang lainnya di Sultra, yakni mencapai 8 ribu orang dibandingkan daerah lainnya yang hanya mencapai 3 ribu.
Sedangkan di Provinsi, lanjut Nur Endang, jumlah pendaftar sampai tadi malam berkisar 2872 orang. Diperkirakan jumlah tersebut akan terus bertambah dengan melihat kondisi pada hari terakhir pendaftaran, masih banyak pendaftar yang menyambangi Kantor Pos guna mengirim berkas. Padahal, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) mendapatkan 4.000an kuota calon pegawai negeri sipil (CPNS) 2018.
Tahun sebelumnya yakni 2017,  pemerintah membuka 37.138 formasi CPNS 2017 di 62 instansi pemerintah,  peminatnya mencapai 2,43 juta orang. Persaingannya pun sangat ketat. Satu formasi CPNS diperebutkan 65 orang (Liputan6.com, 27/09/2017). Saking ketatnya persaingan, tak jarang peserta menghalalkan segala cara agar bisa lolos seleksi CPNS, terutama tes seleksi kompetensi dasar (SKD) berbasis Computer Assisted Test (CAT).   
Kerjanya ringan, pakaian kerjanya rapi dan necis,  masa depan dirinya dan keluarganya dijamin pemerintah, tidak ada target produksi, status sosialnya terangkat, gajinya cukup besar, mau meminjam uang ke bank pun relatif lebih mudah, dan masih banyak kesenangan lain yang dimiliki oleh seorang yang menjadi PNS menjadi alasan mengapa bursa lowongan CPNS selalu diburu bak kacang goreng.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat Badan Kepegawaian Negara (BKN) Muhammad Ridwan menuturkan, ada dua hal yang menjadi alasan kini PNS menjadi digemari dan diburu oleh banyak masyarakat Indonesia.  Pertama, menjadi PNS, pensiun Anda akan terjamin. Kedua, dari kementerian dan lembaga pusat sudah terintegrasi untuk karier menjadi PNS (Liputan6.com, 14/4/2018).
Prestasi atau Prestise?
Jika ditinjau dari aspek politik, sebenarnya pembukaan lowongan PNS adalah bagian dari strategi pemerintah berkuasa untuk mewujudkan salah satu janji kampanye saat pemilihan presiden dulu. Janji yang sering dan akan selalu terucap saat kampanye adalah membuka sekian ribu lapangan kerja. Meski kenyataannya tidak akan mampu menampung semua angkatan kerja. 
Di sisi lain,  gambaran realitas masyarakat kita hari ini, paradigma berpikir mereka telah terkungkung dengan anggapan bahwa yang namanya pekerjaan itu ya jadi pegawai negeri. Kalau bukan pegawai, kendati penghasilannya jauh lebih besar, tetap saja masih dianggap belum menjanjikan. 
Belum lagi, ukuran keberhasilan orangtua menyekolahkan anaknya dikaitkan dengan status pekerjaan setelah selesai kuliah. Jika kelak anaknya tamat dan bisa menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), maka dikatakan anaknya telah sukses, dan jika bekerja di luar PNS  seolah-olah dianggap sebagai pekerjaan kelas dua. 
Hal tersebut tentu sangat membebani para kaum muda pencari kerja hari ini. Bagaimana tidak, mereka baru dianggap sukses dengan status PNS-nya. Di sini, prestise lebih diunggulkan dibandingkan dengan prestasi. Pencitraan seperti ini telah terwariskan dari generasi ke generasi yang telah menjelajah pemikiran masyarakat kita. 
Menjadi “orang gajian” lebih baik dari pekerjaan sebagai wirausaha. Orang berlomba mengejar status, kedudukan dan materi, alasannya sangat pragmatis, jadi PNS memiliki keunggulan dibanding dengan profesi lainnya. 
Padahal begitu banyak orang yang harus berjuang mencari kerja. Sedangkan daya tampung untuk menjadi PNS tidak sebanding. Logikanya, tidak mungkin semua orang menjadi PNS. Namun wacana yang terlanjur berkembang adalah kesuksesan seseorang diukur dari SK dan seragam. Bahkan ada lagi yang lebih ekstrem. Kalau tidak jadi pegawai bukan kerja namanya. Seolah-olah yang kerja itu hanya pegawai
Realitas menunjukan PNS terlalu disakralkan dan dikultuskan sehingga dianggap itulah yang terbaik, dan itulah segala-galanya. Kalau jadi PNS, dunia sudah di tangan. Orang akan lebih dihormati dan dihargai, status sosialnya jadi melejit di tengah masyarakat.
Islam Memandang 
Bekerja merupakan sebuah hal yang pasti guna memenuhi penghidupan.  Maka Islam telah mewajibkan  juga mendorong kepada setiap laki-laki untuk bekerja memenuhi kebutuhannya serta orang-orang yang menjadi tanggungannya. Tentunya dengan pekerjaaan yang halal.
Bekerja atau mencari rezeki yang halal merupakan ibadah bukan prestise. Rasulullah Saw menegaskan, bekerja untuk mencari nafkah merupakan kewajiban (fardlu). “Mencari rezeki yang halal adalah wajib sesudah menunaikan yang fardhu (seperti salat, puasa, dan lain-lain)” (HR ath-Thabrani dan al-Baihaqi).
Bahkan bekerja mencari nafkah dan rezeki halal dinilai sebagai salah satu bentuk jihad. Lelah karena bekerja, bahkan menjadi penggugur dosa-dosa kecil. “Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil (profesional atau ahli). Barangsiapa bersusah-payah mencari nafkah untuk keluarganya maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah Azza wajalla.” (HR Ahmad).
Tak hanya individu. negara pun bertanggung jawab untuk  membuka lapangan pekerjaan yang seluas-luasnya bagi masyarakat. Memastikan orang yang mampu secara fisik untuk bekerja.  Rasulullah telah mengingatkan kepada setiap peminpin untuk tidak lalai dari tanggung jawab ini. “Imam itu adalah laksana penggembala, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban akan rakyatnya (yang digembalakannya)” (HR. Imam Al Bukhari  dan Imam Ahmad).
Negara pun turut andil memahamkan kepada masyarakat untuk tidak hanya berharap hanya satu jenis pekerjaan saja yakni PNS. Toh, rezeki Allah sangat luas. Wallahu a’lam bishawab.[]

Penulis adalah anggota komunitas muslimah media, Konawe

Comment