by

Raden Ayu Ekalina Amd: Bui Aduhai Bikin Terbuai

Raden Ayu Ekalina, Penulis
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Lagi lagi terjadi dinegri kita tercinta ini, hukum ternyata bisa dibeli. Khususnya bagi mereka yang mumpuni. 
Terkuaknya kasus Napi koruptor Fahmi Darmawangsa yang di duga menyuap Kalapas Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat, Wahid Husen untuk bisa membeli hunian lapas yang nyaman dengan segala kemewahannya, menjadi salah satu bukti yang tak bisa di pungkiri.
Saat KPK menayangkannya dalam sebuah konferensi pers, di dalam Lapas Sukamiskin bisa dilihat pendingin ruangan (AC), kamar mandi berserta toilet duduk, televisi, rak buku, dan lain-lain. Sel Fahmi direnovasi ala apartemen (Lipiutan6.com, Jakarta)
Menurut peneliti Divisi Korupsi Politik Indonesia Corruption Watch (ICW) Almas Sjafrina, kasus fasilitas mewah lapas para napi bukan kali ini terjadi.
Tahun 2010, fasilitas mewah juga pernah ditemukan di sel terpidana narkoba Artalyta Suryani atau Ayin di Rutan Kelas II A Pondok Bambu, Jakarta Timur.
Selain Ayin, fasilitas mewah lapas juga dinikmati oleh terdakwa kasus mafia pajak Gayus Tambunan. Tahun 2010, Gayus ketahuan sering keluar lapas Mako Brimob Depok dengan menyuap sejumlah petugas.
Tak hanya ke luar kota, Gayus bahkan sempat bepergian ke luar negeri dengan menggunakan paspor palsu atas nama Sony Laksono. (JAKARTA, KOMPAS.com)
Berdasar beberapa kasus diatas, kita bisa melihat betapa mudahnya pelanggaran hukum terjadi dikalangan para penegak hukum. Hal ini menunjukkkan lemahnya hukum itu sendiri. Hukum tidak bertindak adil, tetapi pilih kasih. Tumpul keatas tapi tajam ke bawah.
Bagi yang kere, akan merasakan pahitnya menderita di dalam bui, sementara bagi mereka yang berduit, bui bikin betah layaknya rumah. 
Mendekam dalam bui tak memberikan effect jera, meskipun banyak yang sudah kena sanksi hukum. Selalu saja terulang episode baru dengan cerita yang sama. Bobroknya akhlaq para petinggi negri ini mencerminkan rendahnya moral bangsa. Jika para penegak hukum saja bisa melanggar aturan, bagaimana dengan rakyatnya?
Tatanan hukum kita sepertinya memberikan celah bagi siapa saja untuk bisa melanggarnya. Hukum yang dibuat oleh manusia pasti mempunyai cacat/kelemahan, sebagaimana manusia itu sendiri, tidak sempurna. Berbeda dengan hukum syara yang bersumber dari ketentuan Allah. Tak ada keraguan didalamnya. Jelas dan tak pandang bulu. 
Islam agama yang sempurna. Di dalam islam diatur semua urusan manusia. Penerapan islam secara kaffah/menyeluruh harusnya diberlakukan pada semua lini kehidupan, dalam mengatur negara, politik, ekonomi, hukum, sosial budaya, sampai urusan rumah tangga. 
Jika tegak syariat maka tegak lah keadilan dan berkurang kemaksiatan serta kedzoliman. Dengan demikian negara bisa berfungsi sebagai ujung tombak pemberlakuan hukum di negri ini.[]

Penulis adalah anggota komunitas revowriter.

Comment