Rohingya, Mereka Juga Manusia

Opini33 Views

 

 

Penulis : Anna Ummu Maryam
Pegiat Literasi Peduli Negeri

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Laman detik.com (29/12/2023) menulis sebuah peristiwa mengenaskan terkait pengusiran para pengungsi Rohingya, dari Balai Meuseuraya ke kantor Kanwil Kemenkumham Aceh dan mengembalikan lagi ke Balai Meusraya Aceh (BMA) Rabu (27/12/2023)

Alasannya, kantor Kemenkumham tidak memfasilitasi pengungsi dengan baik.
“Benar (mengembalikan pengungsi ke penampungan), malam itu juga,” kata salah seorang perwakilan mahasiswa, Teuku Wariza, seperti ditulis laman detik.com Rabu (29/12/2023).

Siapa yang ingin bernasib seperti mereka, tentu semua manusia ingin hidup di tempat yang aman bersama keluarga membangun kehidupan yang baik hingga anak cucu.

Mungkin inilah sedikit harapan yang ingin digapai oleh para pengungsi Rohingya yang berhasil berlabuh di dibeberapa titik pulau Sumatra. Walaupun sebagian besar selamat namun kondisi mereka belum lah lebih baik.

Pilu saat mendengar puluhan mahasiswa yang melakukan kekerasan dan pengusiran terhadap para pengungsi Rohingya ini. Sedangkan sebagian lelaki diantaranya sedang melaksanakan shalat berjamaah. Sedangkan pengungsi lainnya ketakutan terhadap aksi tersebut.

Pengaruh Media Sosial

Sebuah keheranan akan sikap yang muncul terhadap beberapa masyarakat Aceh dan masyarakat lainnya. Yaitu mereka menaruh kebencian kepada pengungsi Rohingya yang jelas jelas tidak mendatangkan kerugian apapun pada mereka.

Jika sebagian kecil masyarakat tidak suka itu masih dapat diterima namun jika sudah menjadi ujaran kebencian tanpa kesalahan atau kriminalitas hal yang begini harus ditelusuri penyebab awalnya.

Yang bikin miris adalah keterlibatan beberapa media bahkan para selegram dan tiktoker yang tiba tiba memberi komentar pedas hingga pengusiran pengungsi Rohingya. Padahal para pengungsi diterima baik oleh masyarakat Aceh. Kepedulian yang tinggi berupa bantuan makan, pakaian hingga tenda darurat dilaksanakan segera oleh masyarakat tanpa ada tuntutan dari pihak lain.

Namun secara mencengangkan seperti ada upaya pembentukan opini sehingga orang membenci hingga mencaci para pengungsi. Pihak penghujat sebenarnya tidak tinggal di tempat tersebut namun seolah-olah berada di tempat kejadian.

Mengapa demikian? Apa yang menyebabkan ini terjadi? Kian memanasnya opini buruk terhadap pengungsi Rohingya adalah karena salahnya analisa akar masalah. Karena masalah pengungsian telah melanda beberapa wilayah dan sebagian besarnya adalah mayoritas muslim.

Akar dari permasalahan yang dialami para pengungsi adalah penerapan sistem kapitalisme yang diusung oleh negara-negara pada hari ini. Di mana dalam sistem tersebut, manusia diberikan empat kebebasan. Kebebasan kepemilikan, kebebasan bertingkah laku, kebebasa berpendapat dan kebebasan berekspresi.

Ditambah dengan sistem yang kayakinannya berazaskan sekuler –  membuang aturan sang Pencipta dan membuat hukum buatan manusia.  Sehingga wajar manusia kehilangan pedoman hidup, yang tersisa adalah saling mendominasi layaknya hewan di hutan. Kehancuran, pembunuhan, berselisih menjadi ritme kehidupan manusia.

Rohingya terusir karena dianggap bukan warga negara padahal mereka telah berabad-abad tinggal di sana. Namun penguasa bertindak kejam dengan mengusir, membakar, membunuh, memperkosa. Sebenarnya penguasanya lah yang bersalah, namun rakyat Rohingya yang dituduh melakukan perbuatan keji.

Saat mereka diurus oleh pihak internasional pun nasib mereka masih dalam kondisi sangat miris. Bahkan bertahun-tahun harus hidup menderita tanpa kepastian dimanakah mereka harus tinggal dan melanjutkan kehidupan mereka.

Rohingya Saudara Kita

Allah SWT adalah Pencipta alam semesta, manusia dan kehidupan dan mengaturnya dengan sebaik mungkin dalam Al Qur’an dan hadits Nabi Saw. Islam lah telah menjelaskan kepada kita bahwa pedoman kita satu, manusia teladan dalam kehidupan adalah Nabi Saw.

Islam memiliki aturan khusus yang harus ditaati oleh penganutnya yaitu menjalankan hukum Allah SWT dalam seluruh aspek kehidupan. Mencintai dan menolong orang lain adalah ajaran Islam. Islam bahkan menganjurkan pada orang kafirpun layak mendapatkan perlakuan yang sama.

Mengapa kita seolah latah dan mudah terpancing dengan arus buruk yang sengaja dicipta. Hendaklah seorang muslim memahami beberapa hal penting dalam menyikapi sebuah masalah di antaranya, tidak sembarang menuduh tanpa bukti.

“Jika semua orang dibiarkan menuduh semaunya, niscaya akan ada banyak orang yang menuduh harta suatu kaum dan darahnya. Oleh karenanya, haruslah seseorang yang menuduh itu menunjukkan bukti-buktinya dan yang menolak wajib untuk bersumpah.” (Hadits hasan diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dan yang lainnya, sebagiannya terdapat dalam kitab Shahih).

Maka sebuah berita apapun hendaklah kita telusuri bahkan jika perlu hendaklah bertanya pada orang yang amanah tentang sesuatu.

Kedua, kita sesama muslim adalah saudara.

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat” (Q.S. al-Hujurat [49]: 10).

Bagaimana kita merendahkan diri kita dengan menganggap rendah orang lain. Padahal setiap diri akan menjadi saksi pada yang lainnya.

Ketiga, setiap perbuatan manusia akan dimintai pertanggungjawaban.

Diriwayatkan dari Abu Sa’id al Khudri RA, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Allah SWT akan mempertanyakan manusia pada hari kiamat nanti, hingga menanyakan tentang apa yang menghalangimu ketika melihat kemungkaran sehingga engkau tidak mencegah kemungkaran itu? Ketika Allah SWT mengajarkan kepada sang hamba untuk menjawabnya, sang hamba akan segera menjawab, “Wahai Rabbku, aku hanya mengharapkan-Mu, dan aku telah meninggalkan manusia.” (HR Imam Ahmad).

Maka atas dasar apa kita bersikap sombongan terhadap saudara kita? Mengapa kita merasa dengki dan hasad padahal bukan harta kita yang kita beri pada mereka dan mereka hidup di atas belas kasihan dari saudara muslim lainnya.

Keempat, media hari ini dikuasai sebahagia besar oleh dunia Barat yang selalu melakukan sesuatu sarat dengan kepentingan dan keuntungan di dalamnya. Maka pandai-pandailah kita dalam mendapatkan informasi karena banyak yang hoax.

Jadilah pemain media yang cerdas dan mencerdaskan orang lain dengan ilmu dan kebaikan yang kita bagikan dengan harapan dapat memotivasi dan berguna bagi agama dan dunia.

Kelima, jadilah penolong dan berkasih sayang.

Dari An-Nu’man bin Basyir RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Perumpamaan kaum mukmin dalam saling cinta, saling mengasihani, dan belas kasih mereka bagaikan satu jasad. Apabila satu anggotanya sakit maka seluruh tubuh akan merasakan tidak bisa tidur dan demam.” (HR Muslim)

Mari tumbuhkan rasa cinta dan taqwa kita kepada Allah SWT dengan beramal sesuai kesanggupan kita. Karena kita juga pernah merasakan hal yang sama yaitu saat tsunami 2014. Mungkin tanpa bantuan orang lain, masyarakat Aceh tak mungkin bisa bangkit kembali.

Terapkan jiwa dan akhlak mulia pada sesama terlebih-lebih pada sesama umat muslim. Persoalan pengungsian di berbagai belahan dunia akan terselesaikan jika syariat Islam terterapkan secara sempurna dalam seluruh aspek kehidupan.

Islam akan terserap sempurna jika pemerintahannya mengikuti Rasulullah Saw. Hanya islam yang mampu memberi solusi tuntas karena berjalan sesuai Wahyu dan terbimbing dengan Al Qur’an. Wallahu ‘alam.[]

Comment