by

Siti Sukaesih: Guru Sejahtera Di Bawah Naungan Khilafah

Siti Sukaesih
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru, Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku, Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku, Sebagai prasasti terima kasihku
Tuk pengabdianmu_
Sepenggal lagu di atas yang diciptakan oleh Sartono berjudul Hymne Guru. Lagu tersebut menggambarkan betapa terpujinya seorang guru sehingga namanya selalu hidup dalam sanubari. Sebagai bentuk penghargaan atas jasanya, di negeri ini guru mendapat gelar mulia yaitu pahlawan tanpa tanda jasa.
Guru adalah sosok yang berjasa, sebagai pendidik dan pengajar serta turut mencerdaskan kehidupan bagsa. Guru dapat dikatakan sebagai orang tua kedua bagi kita, karena guru ikut berperan penting dalam mendidik kita selain orang tua kita di rumah.
Di tengah beratnya tugas guru, namun pemerintah saat ini belum maksimal memperhatikan kesejahteraannya. Sebagai bukti gaji yang diterima guru tak sebanding dengan realita. Belum lagi pendistribusiannya itupun biasanya kerap kali molor dari tanggal penerimaannya lantaran kisruhnya di Dinas Pendidikan Provinsi Banten. Simpang siur penyababnya karena pergantian pejabat, pengkroscekan pendataan, simral bermasalah namun entah apa yang menjadi penyebab pastinya, gaji guru honorer dari januari hingga kini belum bisa dicairkan. Bayangkan, sungguh ironinya negeri kita.
Dengan terlambatnya pendistribusian gaji, Lalu bagaimana dengan nasib guru honorer, apakah mereka bisa memenuhi hidupnya dalam sehari-hari ketika gajinya telat untuk dibayarkan?… Maka tak sedikit dari mereka untuk memutar otak bagaimana caranya memenuhi kebutuhan sehari-hari sehingga banyak yang mencari usaha sampingan agar terpenuhinya suatu kebutuhan karena bagaimanapun dapur keluarga harus tetap mengepul terlebih lagi untuk mereka yang sudah memiliki anak dan istri, selain itu banyak juga yang berpontang panting kesana kemari untuk mencari pinjaman agar bisa memenuhi hajat hidupnya. Karena hajat hidup itu suatu keharusan yang harus terpenuhi dalam seharinya, jika tidak bisa menyebabkan kepada kematian. Itulah gambaran nasib guru honorer di negeri kita saat ini. Mereka dituntut untuk profesional tapi hak mereka terabaikan.
Jelas jika demikian maka berat bagi para guru honorer ini dalam waktu yang bersamaan harus membagi tenaga dan pikiran antara mengajar dan kerja paru waktu di tempat lain. Sehingga jika hal ini terus terjadi maka guru yang dijuluki sebagai pencetak generasi unggul akan kehilangan fokus dalam tugas utamanya sebagai pengajar. Namun, entah sampai kapan kesejahteraan guru honorer itu pada akhirnya akan tercapai.
Posisi Guru dalam Islam
Dalam Islam, guru memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan mulia di sisi Allah SWT. Karena guru adalah sosok yang dikarunia ilmu oleh Allah SWT yang dengan ilmunya itu seorang guru menjadi perantara manusia yang lain untuk mendapatkan, memperoleh, serta menuju kebaikan di dunia maupun di akhirat. Selain itu guru tidak hanya bertugas mendidik muridnya agar cerdas secara akademik, tetapi juga guru mendidik muridnya agar cerdas secara spritual yakni memiliki kepribdadian Islam.
Sejarah telah mencatat bahwa guru dalam naungan Khilafah mendapatkan penghargaan yang sangat tinggi dari negara termasuk pemberian gaji yang melampaui kebutuhannya. Di riwayatkan dari Ibnu Abi Syaibah, dari Sadaqoh ad-Dimasyqi, dar al- Wadl-iah bin Atha, bahwasanya ada tiga orang guru di Madimah yang mengajar anak-anak dan Khalifah Umar bin Khattab memberikan gaji lima belas dinar (1 dinar = 4,25 gram emas; 15 dinar = 63,75 gram emas; bila saat ini 1 gram emas Rp. 500 ribu, berarti gaji guru pada saat itu setiap bulannya sebesar 31.875.000).
Sungguh luar biasa, dalam naungan Khilafah para guru akan terjamin kesejahteraannya dan dapat memberi perhatian penuh dalam mendidik anak-anak muridnya tanpa harus dipusingkan lagi untuk membagi waktu dan tenaga untuk mencari tambahan pendapatan.Tidak hanya itu, negara dalam naungah Khilafah juga menyediakan semua sarana dan prasarana secara cuma-Cuma dalam menunjang profesionalitas guru menjalankan tugas mulianya.
Sehingga selain mendapatkan gaji yang besar, mereka juga mendapatkan kemudahan untuk mengakses sarana dan prasarana untuk meningkatkan kualitas mengajarnya. Hal ini tentu akan membuat guru bisa fokus untuk menjalankan tugasnya sebagai pendidik dan pencetak SDM berkualitas yang dibutuhkan negara untuk membangun peradaban yang agung dan mulia.
Sayangnya, kesejahteraan guru seperti diatas tidak akan didapatkan jika Islam tidak diterapkan secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan.  Karena hanya sistem Islam dalam naungan Khilafahlah kesejahteraan akan tercipta. Wallahu A’lam Bissawab.[]

Comment

Rekomendasi Berita