by

Sri Indriyani, S.Pd*: Jilbab Anak Disoal, Islam Punya Jawaban

-Opini-11 views

 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Media asal Jerman Deutch Welle (DW) dihujat sejumlah tokoh dan netizen karena membuat konten video yang mengulas tentang sisi negatif anak pakai jilbab sejak kecil.

“Apakah #jilbab itu atas pikiran anak itu sendiri? Apakah anak-anak yang dipakaikan jilbab itu memiliki pilihan atas apa yang ingin ia kerjakan”- DW Indonesia (@dw_indonesia), 25 September 2020.

Postingan DW Indonesia ini sontak menarik perhatian warganet. Pertanyaan tersebut disertai dengan sebuah video yang berisikan tentang orang tua yang mengajari anak mereka untuk mengenakan jilbab. Dan sebuah wawancara dengan seorang psikolog Rahajeng Ika dan seorang feminis muslim Darol Mahmaa.

Rahajeng Ika menyampaikan bahwa anak-anak menggunakan/memakai sesuatu yang belum meraka pahami dan membuat anak-anak berbeda dengan teman-teman, akibatnya akan membuat anak-anak merasa kebingungan. Arol Mahmada sendiri merasa khawatir perihal tersebut akan mempengaruhi pola pikir sang anak.

“…pola pikir si anak itu menjai ekslusif karena dari seja kecil dia ditanamkan untuk misalnya “berbeda” engan yang lain” kata Darol Mahmada.

DW Indonesia sontak menjadi bulan-bulanan netizen. Salah seorang mantan anggota DPR pun turut berkomentar “liputan ini menunukkan sentiment ‘Islamofobia’ n agak memalukan untuk kelas @dwnews” kata Fadli Zon Wakil ketua umum Partai Gerindra melalui akun twittternya, @Fadlizon. (pojoksatu.id)

Apa yang dilakukan oleh DW Indonesia merupakan upaya untuk menyudutkan syariat islam atau ajaran islam. seakan-akan mengajari anak-anak menutup aurat berdampak buruk bagi anak.

Padahal membiasakan anak perempuan untuk mengenakan jilbab merupakan salah satu kebaikan yang harus ditanamkan sejak dini. Apalagi sistem pendidikan saat ini tidak bisa diandalkan untuk melindungi sang anak.

Meski dikata anak-anak, mereka tetap akan menggunakan indera mereka untuk mengamati fakta-fakta yang ada disekitarnya.

Hasil dari pengamatannya akan ia buat dalam bentuk pertanyaan. Kerap kali anak-anak akan bertanya sesuatu hal yang ia lihat atau yang dilakukannya. Misalnya, mengapa si A begini, mengapa si B suka begitu, dsb.

Jawaban yang kita berikan kepada anak-anak akan menjadi pemahamannya dan biasanya akan ia bawa sampai dewasa. Anak yang dibiasakan mengenakan jilbab pun akan bertanya, “mengapa saya harus pakai jilab”. Dan jawaban kita akan mempengaruhi pemahaman sang anak.

Ada bahaya liberalisasi terhadap pakaian muslimah. Jika paham ini terus diopinikan, maka hal itu akan berpengaruh pada aspek aktivitas perempuan muslimah. Muncul keraguan terkait wajibnya berjilbab terlebih membiasakan anak untut taat terhadap syariah di usia dini.

Bila terus terjadi, tak menutup kemungkinan mereka lebih memilih menutup aurat setengah jadi. Sebagaimana yang ditargetkan kaum liberalis, lebih menyukai perempuan muslimah berpakaian ala nusantara dibanding sesuai syariat Allah yang mulia.

Tak perlu heran. Selama ini kelompok pemikir liberal memang dikenal sepak terjang seperti demikian. Bangga menyebut diri kaum pluralis. Sekaligus menganut paham relativisme yang tak percaya bahwa kebenaran mutlak itu benar-benar ada.

Padahal, membiasakan anak-anak melakukan ketaatan kepada Allah, merupakan suatu cara untuk meningkatkan imunitas anak terhadap gaya hidup liberal yang sedang membanjiri negeri ini.

Anak kecil itu ibarat sebuah kanvas kosong. Berharga atau tidak tidaknya kanvas tersebut tergantung bagaimana orang yang melukis di atasnya. Sehingga orangtua pun wajib terlebih dahulu memiliki pemahaman terkait Islam secara menyeluruh. Agar tidak amburadul dalam memberikan pemahaman terkait akhlak dan kepribadian muslim.

Karena sudah jelas, berhijab adalah salah satu kewajiban dari Allah SWT yang dengan jelas dinashkan dalam Al Qur’an yang mulia.

Orang-orang yang menganggap bahwa syariat Allah tak perlu diterapkan atau melarang penerapannya jelas adalah pengidap liberalisme akut.

Islam Punya Solusi
Taklif syariat memang belum dibebankan kepada anak-anak. Ia hanya dibebankan kepada orang-orang yang telah dewasa atau baligh. Rasulullah saw., “Diangkat pena (taklif hukum) dari tiga golongan; orang tidur hingga bangun, anak-anak hingga balig dan orang gila hingga sadar.” (HR al-Baihaqi).

Hanya saja Islam memerintahkan kita untuk melatih anak-anak kita sejak dini. Dengan itu, kelak saat mereka baligh, mereka sudah paham dengan hukum-hukum Islam dan siap serta istiqamah dalam menjalankannya.

Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, peliharah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu..”(QS Tahrim: 6).

Dasar-dasar keimanan tersebut yang akan memperkuat dan memperkokoh pondasi agama anak bila diajarkan sejak dini. Oleh karenanya sebagai orang tua harus bisa menjadi role model/contoh teladan yang baik melakukan ibadah vertikal dengan Allah (hablum minallah) dan melakukan ibadah secara horizontal dengan sesama manusia (hablum min nannas).

Orang tua harus pandai memfilter tata cara mendidik anak (parenting) menurut teori-teori/pandangan para pakar di bidang tersebut. terutama pada sistem sekuler saat ini, yang membuka keran libreralisme. Sehingga paham liberalisme (paham kebebasan) mengalir deras menggenangi tiap-tiap aspek kehidupan.

Kehidupan sosial, kebudayaan, bahkan pendidikan. Orang tua harus pandai memilah alat lukis yang akan digunakan untuk melukis. Mendidik anak merupakan suatu kewajiban.

Rasulullah SAW bersabda tentang pentingnya mendidik anak untuk melaksanakan perintah Allah sejak dini: “Dari Amr bin Syuaib ari ayahnya dari kakeknya berkata: Rasulullah SAW bersabda: suruhlah anak-anak kecil kamu melakukan sembahyang (usia) tujuh tahu, dan pukullah mereka (bila lalai) atasnya pada usia sepuluh tahun…” (HR. Ahmad an Abu Dawud).

Ini mengisyaratkan tentang kewajiban orang tua untuk mendidik anak, agar menjadi anak-anak yang bertaqwa dan berakhlak mulia.

Menurut Imam Al-Ghazali, anak adalah amanah bagi kedua orang tuanya. Hati yang bersih suci merupakan perhiasan yang sengat berharga. Bila ia dilatih untuk mengerakan kebaikan, ia akan tumbuh menjadi orang yang baik dan bahagia dunia akhirat. Sebaliknya, bila ia dibiarkan mengerjakan keburukan dan dibiarkan begitu saja bagaikan hewan, ia akan hidup sengsara dan binasa.

Dalam sistem sekuler demokrasi, sangat jauh dari harapan aqidah anak-anak terlindungi. Terutama semakin gencarnya agenda islamopobia, oleh orang-orang yang membenci Islam.

Negara cq Kementerian Agama, seharusnya melindungi ajaran Islam serta para pengemban dakwah bukan sebaliknya.

Masih hangat diingatan kita, pernytaan menteri agama yang mengkaitkan radikalisme dengan mereka yang good looking itu.

Sangat berbeda ketika Islam menjadi sistem suatu Negara. Islam akan menjamin seluruh masyarakat termasuk generasi muslim untuk memiliki kepribadian Islam melalui sistem pendidikan dengan kurikulum Islam, sehingga membentuk pribadi-pribadi yang taat.

Walhasil, kita sebagai orang tua, tidak perlu takut dengan ocehan barisan kaum liberal ini. Meskipun mereka mempunyai akses yang kuat bahkan hingga kekuatan negara.

Mmmaa, sebagai seorang ibu, teruslah tanamkan akidah Islam sebagai dasar berpikir anak-anak dan juga kecintaan mereka kepada Islam, membiasakan mereka taat kepada Allah SWT. Wallahu a’lam.[]

*Praktisi pendidikan

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

nine − 2 =

Rekomendasi Berita