by

Suara Hati Generasi : Permendag No. 20 Tahun 2021 Kokohkan Sekulerisasi?

-Opini-43 views

 

 

Oleh : drh. Lailatus Sa’diyah

__________

RADARIDONESIANEWS.COM, JAKARTA –Belum reda pro-kontra terkait Permendikbud PPKS yang diduga publik berpotensi memfasilitasi perbuatan zina, kini publik kembali digemparkan terkait dikeluarkannya Permendag No. 20 Tahun 2021 tentang pelonggaran wisatawan asing boleh membawa minol sebanyak 2.500 ml.

Pemerintah berharap, adanya pelonggaran wisatawan asing dengan diperbolehkannya membawa minol lebih banyak, akan semakin menarik mereka untuk berwisata ke Indonesia. Dengan kebijakan tersebut diharapkan mampu mendatangkan devisa sebagai tambahan pemasukan negara.

Mirisnya di saat yang sama tambang negara justru diserahkan dan dikelola oleh asing dan negara memilih mengais pemasukan dari devisa wisatawan asing yang belum tentu mampu memberikan sumbangan untuk perbaikan masalah perekonomian nasional.

Belum lagi dampak psikologis yang akan terbentuk di tengah-tengah masyarakat. Mau diakui atau tidak, pemerintah secara tidak langsung telah melanggengkan budaya asing di Indonesia. Masyarakat yang berbudi luhur sekalipun, jika terus dipapar dengan kemaksiatan, tidak ada yang mampu menjamin seberapa kuat dan sampai kapan dia mampu menjaga keluhuran budinya. Akhirnya terbawa arus, ikut mewajarkan dan yang lebih parah berpotensi mengikuti budaya yang jauh dari ajaran Islam. Ini adalah ancaman nyata bagi generasi bangsa Indonesia.

Ironi hidup di negeri yang notabene mayoritas masyarakatnya beragama Islam, namun justru dipertontonkan dengan kebijakan yang jelas-jelas diharamkan oleh ajaran Islam. Negara yang harusnya menjadi pelindung utama rakyatnya agar tidak berbuat maksiat kepada Allah, justru mengeluarkan kebijakan yang memiliki indikasi menjadi stimulus rakyatnya melakukan kemaksiatan. Ini semakin menguatkan bukti bahwa semakin kuatnya sekulerisasi di negeri ini.

Inilah konsekuensi nyata hidup di bawah pemerintahan yang menghamba pada kapitalisme. Halal dan haram tidak lagi diperhitungkan, Ridho Allah tidak lagi menjadi tujuan demi teraihnya keuntungan materi. Padahal jelas, Nabi saw. pun menegaskan dalam sabdanya, “Minuman keras itu induk dari hal-hal yang buruk, siapa yang meminumnya, salatnya tidak akan diterima selama empat puluh hari. Jika ia meninggal sedangkan minuman keras berada di dalam perutnya, ia akan meninggal dunia dalam keadaan jahiliah.” (HR Ath-Thabarani).

Sudah tidak layak kita menggantungkan masa depan generasi kita kepada sistem yang ada saat ini. Alih-alih melahirkan generasi yang berkualitas dan taat pada agama, justru kebijakan yang dicetuskan menjauhkan generasi dari keislamannya. Kapitalisme hanya melihat dan memperlakukan generasi sebagai asset untuk melangengkan kedudukannya, tidak perduli kebijakan yang dibuat akan merusak generasi tersebut.

Berbeda jika aturan Islam yang diambil dan diterapkan dalam kehidupan bernegara.  Dalam Islam, negara bertanggung jawab mewujudkan generasi yang bersyaksyiah Islam. Menjauhkan generasi dari kemaksiatan yang akan mendatangkan murka Allah.

Sebagaimana yang dilakukan oleh Khalifah Ummar, beliau menetapkan hukuman had bagi peminum khamar adalah 80 cambuk. Bukan hanya peminum yang mendapat hukuman berat, toko penjual dan pabriknya pun menjadi sasaran Khalifah Umar.

Yahya bin Said bin Ubaidillah meriwayatkan dari Nafi’ dari Ibnu Umar. Dia berkata, “Umar menjumpai minuman keras di rumah salah seorang lelaki dari Suku Tsaqif. Kemudian Umar menyuruh agar membakar rumah itu. Umar berkata kepada lelaki pemilik rumah yang bernama Rawisyad, “Perbuatanmu adalah perbuatan fasik.” Menurut Ibnu al-Qayyim, Khalifah Umar membakar warung khamar dan seisinya. Dia juga membakar satu kampung yang di sana menjual khamar. Inilah cerminan pemimpin yang memiliki Syaksiyah Islam dan layak dijadikan panutan.

Sebagai seorang Muslim kita juga harus tegas menolak segala kebijakan pemerintah yang berpotensi melahirkan kemaksiatan. Sebagai seorang muslim harus menyadari secara penuh bahwa kita membutuhkan penerapan Sistem Islam secara Kaffah sebagai konsekuensi keimanan kita. Dan ketiadaanya saat ini menjadi kewajiban kita untuk memperjuangkan tegaknya Islam.[]

Comment

Rekomendasi Berita