by

Sudahlah Kita Merdeka Seutuhnya?

 

Oleh: Iim Muslimah, S.Pd, Praktisi Pendisikan

__________

RADARINDONESIAMEWS.COM, JAKARTA- Bulan Agustus merupakan bulan istimewa yang menyimpan momen bersejarah bagi seluruh rakyat indonesia. Ya moment itu jatuh pada tanggal 17 Agustus yang diperingati sebagai hari kemerdekaan indonesia. 76 tahun lamanya indonesia telah merdeka dari penjajahan fisik, namun apakah Indonesia sudah merdeka seutuhnya?

Menurut Wikipedia org. Kemerdekaan merupakan keadaan suatu bangsa atau negara yang pemerintahannya diatur oleh bangsanya sendiri tanpa intervensi pihak asing. Kemerdekaan suatu negara erat kaitannya dengan kedaulatan terhadap wilayah teritorial negara.

Sudahkah Kita Merdeka?

Jika melihat secara kasat mata memang saat ini kita sudah merdeka. Namun hanya merdeka dari penjajahan fisik semata. Jika kita merujuk pada pengertian merdeka yang dikutip dari wikipedia tadi, jelas indonesia belum merdeka. Karena indonesia masih tidak bisa lepas dari cengkraman asing aseng.

Mari kita buka mata selebar lebarnya negara yang katanya kaya raya ini hasil bumi dan lautnya belum dinikmati sepenuhnya oleh rakyat. Berdasarkan data tahun 2013 lalu, sektor pertambangan negara ini dikuasai oleh asing sebanyak 75 %.

Jadi tidak heran ketika masih ada rakyat yang belum menikmati listrik, infrastruktur jalan yang memadai, hingga pemenuhan pendidikan yang layak.

Selain itu, banyak kekayaan alam yang hilang seperti kayu, ikan. Indonesia memiliki perairan laut yang cukup luas, akan tetapi masih kalah saing untuk membangun industri ikan dengan Vietnam dan Thailand. Miris bukan?

Indonesia yang kayaaya namun kemiskinan, keterpurukan pendidikan tidak bisa dihilangkan. Bahkan indonesia tidak bisa keluar dari krisis akibat pandemi.

Mengapa demikian? Karena kekayaan alam yang dimiliki tidak dikelola oleh negara, melainkan dikelola asing. Lalu apakah indonesia mampu keluar dari intervensi asing?

Tentu jika indonesia menolak maka akan berhadapan dengan WTO dan lain sebagainya.

Seperti kasus indonesia pernah mengeluarkan larangan ekspor barang mentah nikel ini lantas membuat Indonesia digugat di pengadilan internasional atau WTO.

Karena sejumlah negara tetap menginginkan agar Indonesia mengirimkan barang mentah tersebut untuk kemudian diolah menjadi sesuatu yang bernilai tambah.

Kemudian hutang juga merupakan faktor indonesia tidak lepas dari jerat asing. Utang luar negeri tidak hanya dijadikan alat untuk memaksakan kebijakan.

Seperti disinyalir oleh banyak pihak, utang juga digunakan untuk memaksakan penggunaan bahan dari negara pemberi utang meski di dalam negeri banyak tersedia; juga penggunaan tenaga kerja hingga level pekerja kasar, meski masih banyak rakyat tidak punya kerjaan.

Inilah fakta bahwa indonesia tidak akan lepas dari intervensi asing. Upaya menghentikan intervensi asing ini tentu harus dilakukan melalui sistem yang memang didesain untuk memerdekakan umat manusia dari segala bentuk penjajahan dan eksploitasi.

Kemerdekaan Hakiki

Islam diturunkan oleh Allah SWT memang untuk memerdekakan umat manusia secara hakiki dari segala bentuk penjajahan. Penjajahan itu hakikatnya merupakan bagian dari bentuk penghambaan kepada manusia.

Penghambaan kepada sesama manusia tidak hanya diartikan secara harfiah sebagai perbudakan seperti dulu. Penghambaan kepada sesama manusia pada masa modern ini terwujud dalam bentuk penyerahan wewenang pembuatan aturan, hukum dan perundang-undangan kepada manusia, bukan kepada Allah SWT.

Inilah yang menjadi doktrin demokrasi: kedaulatan di tangan rakyat (manusia). Lebih parah lagi jika aturan, hukum dan perundang-undangan tersebut diimpor dari pihak asing/penjajah.

Mewujudkan penghambaan hanya kepada Allah SWT sesungguhnya berarti mewujudkan kemerdekaan hakiki untuk umat manusia. Inilah yang merupakan misi utama Islam.

Dalam pandangan Islam, kemerdekaan hakiki terwujud saat manusia terbebas dari segala bentuk penghambaan dan perbudakan oleh sesama manusia. Dengan kata lain Islam menghendaki agar manusia benar-benar merdeka dari segala bentuk penjajahan, eksploitasi, penindasan, kezaliman, perbudakan dan penghambaan oleh manusia lainnya.

Terkait misi kemerdekaan hakiki dalam Islam ini, Rasulullah saw pernah menulis surat kepada penduduk Najran. Di antara isinya berbunyi:

«… أَمّا بَعْدُ فَإِنّي أَدْعُوكُمْ إلَى عِبَادَةِ اللّهِ مِنْ عِبَادَةِ الْعِبَادِ وَأَدْعُوكُمْ إلَى وِلاَيَةِ اللّهِ مِنْ وِلاَيَةِ الْعِبَادِ …»

…Amma ba’du. Aku menyeru kalian untuk menghambakan diri kepada Allah dan meninggalkan penghambaan kepada sesama hamba (manusia). Aku pun menyeru kalian agar berada dalam kekuasaan Allah dan membebaskan diri dari penguasaan oleh sesama hamba (manusia)… (Al-Hafizh Ibnu Katsir, Al-Bidâyah wa an-Nihâyah, v/553).

Misi Islam mewujudkan kemerdekaan hakiki untuk seluruh umat manusia itu juga terungkap kuat dalam dialog Jenderal Rustum (Persia) dengan Mughirah bin Syu’bah yang diutus oleh Panglima Saad bin Abi Waqash ra. Pernyataan misi itu diulang lagi dalam dialog Jenderal Rustum dengan Rabi bin Amir (utusan Panglima Saad bin Abi Waqash ra). Ia diutus setelah Mughirah bin Syu’bah pada Perang Qadisiyah untuk membebaskan Persia.

Jenderal Rustum bertanya kepada Rabi bin Amir, “Apa yang kalian bawa?” Rabi bin menjawab, “Allah telah mengutus kami. Demi Allah, Allah telah mendatangkan kami agar kami mengeluarkan siapa saja yang mau dari penghambaan kepada sesama hamba (manusia) menuju penghambaan hanya kepada Allah; dari kesempitan dunia menuju kelapangannya; dan dari kezaliman agama-agama (selain Islam) menuju keadilan Islam…” (Ath-Thabari, Târîkh al-Umam wa al-Mulûk, II/401).

Islam sebagai agama dan sistem yang berasal dari Allah Yang Mahabijak telah didesain akan mengantarkan ke kehidupan “terang-benderang” untuk umat manusia. Sebab Allah SWT telah menyatakan bahwa Islam diturunkan agar dengan itu Rasul saw mengeluarkan umat manusia dari kegelapan menuju cahaya.

Allah SWT berfirman:

Alif, laam raa. (Inilah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita menuju cahaya terang-benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji (TQS Ibrahim [14]: 1).

Harus dicatat, mewujudkan kehidupan dan masa depan yang “terang-benderang” sekeligus memerdekakan manusia dari segala bentuk penjajahan, kuncinya adalah dengan menerapkan Islam dan syariahnya secara kaffah secara totalitas dan menyeluruh.

Itulah tanggung jawab dan kewajiban kita sebagai hamba Allah dan tanggung jawab kita kepada umat manusia. WalLâh alam bi ash-shawâb.[]

Comment

Rekomendasi Berita