Suhaeni, M.Si: Tauhid, Kalimat Mulia Bernilai Surga

Berita372 Views
Suhaeni, M.Si
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Tanggal 22 Oktober 2018 bukan hanya sekedar peringatan hari santri. Tapi juga menjadi penanda kembali berkobarnya semangat kaum muslimin. Menyala seolah tak terbendung lagi. Pasalnya, bertepatan dengan hari santri tersebut ada aksi pembakaran bendera kalimat tauhid “Laa ilaha ilallah, Muhammad Rasulullah” yang terekam dan diduga dilakukan di Garut oleh sejumlah oknum Banser. Kontan umat Islam pun bereaksi. Mulai dari para tokoh, artis, pemuda sampai emak-emak ikut berkomentar. Tak sudi jika bendera Rasulullah dihinakan. 
Ribuan muslim menunjukkan pembelaannya pada bendera Nabi. Baik di medsos maupun di dunia nyata. Di medsos ramai dengan tagar #BelaBenderaTauhid #BubarkanBanser. Tagar ini hingga menjadi trending topic twitter. Di dunia nyata pun sama. Ribuan umat Islam berkumpul di berbagai kota di seantero negeri menggelar aksi bela bendera tauhid. 
Oknum Banser berdalih bahwa bendera yang dibakar adalah bendera milik ormas tertentu padahal kaum muslim sudah kadung memahami bahwa bendera hitam bertuliskan “Laa ilaha illallah, Muhammad Rasulullah” adalah bendera Nabi dan bukan milik organisasi manapun di dunia ini. 
Sabda Nabi SAW, “Panji Rasulullah (Rayyah) berwarna hitam dan benderanya (liwa) berwarna putih, tertulis di dalamnya Laa ilaha ilallah Muhammad Rasulullah.” (HR. Ath Thabrani)
Kalimat tauhid inilah yang mempersatukan seluruh kaum muslimin di dunia. Mempersaudarakan umat Islam meski terhalang samudra dan benua. Kalimat tauhid adalah dasar dan visi kaum muslimin menjalani kehidupan dan kalimat yang kita inginkan mengiringi saat kematian menjelang hingga kita layak ke surga-Nya. 
Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa yang akhir perkataannya sebelum meninggal dunia adalah ‘lailaha ilallah’, maka dia akan masuk surga.” (HR. Abu Daud. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih no. 1621)
Abu Dzar berkata, “Katakanlah kepadaku wahai Rasulullah, ajarilah aku amalan yang dapat mendekatkanku pada surga dan menjauhkanku dari neraka.” Nabi SAW bersabda, “Apabila engkau melakukan kejelakan (dosa), maka lakukanlah kebaikan karena dengan melakukan kebaikan itu engkau akan mendapatkan sepuluh yang semisal.” Lalu Abi Dzar berkata lagi, “Wahai Rasulullah apakah ‘laa ilaha ilallah’ merupakan kebaikan?” Nabi SAW bersabda, “kalimat itu (laa ilaha ilallah) merupakan kebaikan yang paling utama. Kalimat itu dapat menghapuskan berbagai dosa dan kesalahan”. (Dinilai hasan oleh Syaikh Al Albani dalam tahqiq beliau terhadap Kalimatul Ikhlas, 55)
Tauhid adalah kalimat mulia yang ringan diucapkan tapi berat dalam timbangannya di akhirat. Barangsiapa yang mengucapkan dan mengamalkan kalimat tesebut Allah bayar dengan surga-Nya. Namun, melihat kejadian pembakaran bendera tauhid yang terjadi di Garut kemarin, sungguh menunjukkan kesombongan, kepongahan dan kebodohan yang sangat luar biasa. Karena meraka mengaku Islam, tapi tidak paham dengan bendera kaum muslimin bahkan berusaha untuk mengkriminalisasikannya. Semoga yang melakukan pembakaran tersebut segera bertaubat dan minta maaf kepada seluruh kaum muslimin. 
Bendera tauhid tersebut menjadi simbol ketinggian dan kemuliaan Islam. Maka siapapun yang mengaku muslim, harus merasa marah dan geram ketika bendera yang bertuliskan kalimat tauhid itu dihinakan. Kita wajib membela dan memperjuangkannya. Bahkan kalau kita lihat sirah Nabi, betapa heroiknya para sahabat Nabi yang ikhlas mempertaruhkan nyawanya demi membela bendera betuliskan kalimat tauhid tersebut. 
Sahabat Nabi yang bernama Zaid bin Haritsah dengan gagah berani memanggul rayyah ke medan perang, ketika beliau syahid digantikan oleh Ja’far Bin Abi Thalib, ketika Ja’far syahid bendera tersbut langsung diambil alih oleh Abdullah bin Rawahah. Ketika ia terbunuh rayyah dibawa Tsabit bin Arkom, Khalid bin Walid dan yang lainnya. Mushab bin Umair pun ketika perang Uhud rela mempertaruhkan nyawanya demi bendera rasulullah, sampai kedua tangannya tertebas dan akhirnya ia syahid. 
Jadi, makna bendera tauhid bagi kaum muslimin bukanlah sekedar selembar kain namun ia adalah lambang kejayaan dan kemuliaan sebuah peradaban. Kalimat yang tertulis didalamnya pun bukanlah hanya sekedar simbol tanpa makna. Tapi dengan kalimat tersebut kita hidup dan mati. Ya, kalimat mulia yang bernilai surga. Pantang Al-liwa dan Ar-rayaah turun ke bumi apalagi sampai dihinakan. So, pantaskah yang mengaku muslim namun justru malah memusnahkannya?
Wallahu a’lam bishawab.[]

Comment