by

Sumiati Abdullah: Khilafah Pelindung Dan Martabat Kaum Perempuan

Sumiati Abdullah

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA –  Sampai hari ini nasib perempuan masih dilecehkan dan banyak dari mereka belum tercukupi hak haknya. Anak- anak pun menjadi korban kejahatan dan keretakan rumah tangga semakin menjadi jadi. Hal ini disebabkan oleh syariat islam yang tidak di terapkan secara praktis dalam kehidupan berkeluarga, masyarakat, dan bernegara. Islam masih diposisikan hanya sebatas sebagai agama ruhiya dan jauh dari hal hal berbau politik, selama itupula lah persoalan tersebut tidak terselesaikan. 

Islam adalah agama ruhiya dan sekaligus siyasah (politik) dalam kehidupan muslim.  Islam akan menyelesaikan semua persoalan manusia  dalam berbagai bidang dan untuk itu penerapan islam memerlukan negara dan memerlukan seseorang pemimpin. Seorang pemimpin dan negara adalah perisai hakiki bagi umat termasuk perempuan dan anak-anak namun perisai itu belum terwujud kembali. Sejak  92 tahun khilafah Turki Usmani diruntuhkan nasib perempuan dan anak anak sangat menderita. Karena setelah khilafah runtuh urusan umat dilakukan oleh pemerintahan demokrasi yang berasas pada ideologi kapitalis sekuler yang mempunyai prespektif berbeda dalam memandang perempuan dan mengatur urusan umat. 
Khilafah, yaitu pemerintahan islam –  memandang perempuan sebagai kehormatan yang wajib dijaga dan islam telah memberikan peran penting yang strategis bagi mereka yaitu sebagai ummu ajjial atau ibu generasi. Dengan peran ini,  kehormatan perempuan akan terjaga, rumah tangga akan aman dan damai. Anak-anak pun akan tumbuh dengan baik dan terselamatkan dari hal-hal buruk, berbeda dengan kapitalisme dalam memandang perempuan dan memperlakukan mereka.
Kapitalis memandang perempuan sebagai komoditi, sebagai barang, yang bisa menghasilkan keuntungan. Karenanya, tidak heran bila perempuan  dijadikan model iklan, pragawati, alat promosi barang-barang yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan perempuan bahkan perempuan dijadikan barang utuk pemuas sahwat laki laki. 
Dalam prespektif kapitalis, peran penting perempuan sebagai ibu justru dihinakan mereka mengklaim bahwa dengan peran itu perempuan tidak akan menghasilkan materi justru yang terjadi adalah distriminasi karena ketika perempuan tidak punya materi dia akan diperlakukan semena mena oleh laki-laki. 
Nilai nilai kebebasan inilah yang sekarang tengah ditanamkan kepada para muslimah dan sesungguhnya itulah bahaya sesungguhnya bagi umat ini. Karena justru dengan ide kebebasan perempuan tersebut, mereka telah merendahkan martabatnya sendiri.  Sesungguhnya ide kebebasan itu lah yang merendahkan martabat wanita atas nama HAM. Pilihan perempuan untuk menjadi PSK atau menjadi pragawati, model iklan ataupun aktifitas hak moral lainnya tidak boleh dihalang halangi padahal justru mereka sedang merendahkan diri mereka dan menentang Allah swt atas nama kesetaraan. Kaum ibu (perempuan) pun dijauhkan dari anak anak sehingga banyak sekali yang kurang mendapatkan pendidikan yang semestinya mereka dapatkan.
Bandingkan bila kemudian islam diterapkan oleh khilafah maka kehormatan seorang perempuan dan anak anak pun terjaga. Mengapa? Karena islam mewajibkam laki laki (para wali) untuk menjaga, melindungi dan memenuhi semua kebutuhan hidup mereka. Hubungan laki laki dan perempuan akan terjaga karena interaksi mereka hanya dibolehkan berinteraksi dalam hal hal yang terkait dengan pendidikan, bisnis,pengobatan dan tidak akan pernah terjadi hubungan yang dilarang oleh islam demikian juga dengan orang tua tidak akan pernah merasa was-was anaknya bermain di lingkungan rumahnya karena warga sekitarnya akan menyayangi anak-anak sebagaimana mereka menyayagi anak-anaknya sendiri. Tidak sebagimana yang banyak terjadi sekarang, anak-anak akan menjadi korban kejahatan seksual yang dilakukan oleh tetangga mereka. 
Begitupun dengan orang tua, tidak akan cemas ketika anak-anak  berangkat sekolah karena pihak sekolah akan amanah, menjaga dan mendidik putra putri mereka dan juga bisa mewujudkan harapan orang tua menjadi pribadi islam yang sempurna. Ketika islam diterapkan dalam skup negara, ekonomi, sosial, budaya, layanan publik dan keidupn sosial, maka keluargapun akan merasakan ketenagan.
Perempuan pun tidak perlu keluar rumah, meninggalkan anak-anak mereka karena kebutuhan ekonominya sudah tercukupi bahkan khalifah akan memberikan sanksi kepada ayah atau suami atau saudara laki-laki yang tidak memberikan nafkah kepada kaum perempuan. Seperti itulah jika syariat islam diterapkan dalam keluarga dan negara; kaum perempuan akan mulia dan bermartabat sehingga keluargapun menjadi kokoh dan anak-anakpun terselamatkan 
Dalam kaidah syarah dikatakan bahwa perempuan adalah kehormatan yang wajib dijaga. Islam memandang laki laki dan perempuan sama di hadapan Allah swt, yang dinilai dari ketakwaannya. 
“Barang siapa yang menegerjakan amal saleh, baik laki-laki dan perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik” (TQS an Nahl (16): 97). Dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (TQS an Nahl (16): 97)
Bahkan sejak perempuan dilahirkan, islam memberikan ganjaran besar bagi orang tuannya. Rasulullah SAW bersabda, barangsiapa memiliki 3 anak perempuan, lalu dia bersabar menghadapinya serta memberikan pakaian kepadanya dari hasil usahanya, maka anak anak itu akan menjadi dinding pemisah baginya dari siksa Neraka. (HR. Al Bukhari). 
Bahkan ketika menjadi istri, para suami harus memperlakukan istrinya dengan baik. “dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An Nisa (4):19). 
Terlebih ketika menjadi seorang ibu, islam mewajibkan anaknya untuk mengutamakan ibunya. “wahai Rasulullah siapakah diantara manusia yang paling berhak untuk aku berbuat baik kepadanya? Rasulullah menjawab; ‘ibumu’, kemudian siapa? ‘ibumu; jawab beliau… kembali orang itu bertanya, kemudian siapa? ‘ibumu’, kemudian siapa, Tanya orang itu lagi, ‘kemudian ayahmu; jawab beliau.” (HR. Bukhari dan Muslim. Dalam islam menjadi perempuan adalah anugrah yang patut disyukuri karenanya.
Rasulullah saw, bersabda, “takutlah kepada Allah dan hormatilah kaum wanita” (HR. Muslim)
Kemudian islam menjaga agar terlindugi kehormatannya dengan kewajiban  menutup aurat, tidak ber khalwat, ghadul basher, tidak tabarruj, tidak berikhtilath dan lain lain. Khilafah melarag pekerjaan yang mengeksploitasi perempuan semisal model, penyanyi, penari, dan sebagainya. Sejatinya, islam membolehkan individu memiliki kebebasan berpikir dan berbuat selama syariah membolehkannya,. Syariah tidak memperkenankan kebebasan secara mutlak karena akan mengganggu institusi masyarakat yang dibangun melalui asas kehormatan dan ketinggian martabat kemanusiaan.
Khilafah menjaga kehormatan dan martabat kaum perempuan
Perlindungan dan penjagaan kehormatan perempuan, bahkan rakyat secara keseluruhan oleh negara khilafah telah banyak dibuktikan dalam sejarah pemerintahan islam dengan diterapkannya seluruh aturan islam bagi seluruh rakyat khilafah maka penjagaan kehormatan perempuan, bahkan keseluruh umat akan terjamin, bukti-bukti tentang tingginya tingkat kesejahteraan masyarakat di bawah naungan khilafah pun telah banyak dituliskan.

Perlindungan khilafah terhadap kaum perempuan telah menorehkan tinta emas dala sejarah yang tidak akan terlupakan sepanjang zaman tidak dijumpai pada masa khilafah berbagai tindak kekerasan dan pelecehan apalagi kepada perempuan ketika seseorang muslimah berbelanjah di pasar Bani Qainuqa seorang Yahudi mengikat ujung pakaiannya tanpa dia ketahui sehingga ketika ia berdiri aurat perempuan tersebut tersingkap diiringi derai tawa orang orang Yahudi di sekitarnya. Perempuan tersebut berteriak kemudian salah seorang sahabat datang menolong dan langsung membunuh pelakunya, namun kemudian orang orang Yahudi mengeroyok dan membunuh sahabat.

Ketika berita ini sampai kepada Rasulullah saw, beliau langsung mengumpulkan tentaranya, pasukan Rasulullah saw mengepung mereka dengan rapat selama 15 hari hingga akhirnya Bani Qainuqa menyerah karena ketakutan.

Selanjutnya apa yang terjadi pada masa khilafah al- Mutashinm Billah berkaitan dengan pembelaan khilafah terhadap kehormatan perempuan ketika seorang perempuan menjerit di Negeri Amuria karena dianiaya dan dia memanggil nama Al-Mutashim, Jeritannya didengar dan diperhatikan dengan serta merta khalifah al- Mutashim mengirim surat untuk Raja Amuria “ Dari Al- Mutashim Billah kepada Raja Amuria. Lepaskan wanita itu atau kamu akan berhadapan dengan pasukan yang kepalanya sudah di tempatmu sedang ekornya masih di negeriku. Mereka mencintai mati syahid seperti kalian menyukai khamar”.

Singgasana Raja Amuria bergetar ketika membaca surat itu. Lalu perempuan itupun segera dibebaskan kemudia Amuria ditaklukkan oleh tentara kaum muslim. Demekianlah segelumit sejarah kaum muslim yang menunjukkan betapa islam yang mereka terapkan ketika itu benar- benar membawa keberkahan dan ketinggian kehormatan bagi semua.

Khilafah islam benar- benar akan menjadi penjaga, sekaligus pengatur, dan pengurus setiap warga negaranya tentu saja semua ini tidak akan terwujud kecuali ketika islam tegak dalam institusi yang menaunginya yaitu khilafah islam.

Jelaslah sangat berbeda kondisi umat yang menerapkan sistem kapitalis: dimana perempuan dibiarkan mengumbar auratnya bahkan eksploitasi harga diri mereka begitu murah yang sesungguhnya justru menghinakan perempuan itu sendiri. Sementara dalam sistem khilafah umat hidup dalam ketenangan dan rasa aman, karena khilafah akan memberikan perlindungan dan pertolongan kapan saja.

Kaum perempuan sebagaimana kaum laki laki, keduanya berada dalam kemuliaan dengan melaksanaan seluruh aturan Allah dan Rasulnya. Namun sayang hari ini, umat islam tak memiliki negara yang bisa menerapkan hukum hukum tersebut setelah lebih dari 95 tahun yang lalu dihancurkan oleh musuh musuh islam. Sehingga umat merndukan adanya penerapan khilafah secara kaffah agar kaum perempuan dimuliakan.[]

Penulis adalah mahasiswi universitas Khairun Ternate, semester 6

Comment

Rekomendasi Berita