by

Sunarti: Saat Benih Maksiat Mulai Merambat

Sunarti.[dok/pribadi]
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Dulu aku memgenalmu sebagai sosok pejuang yang tangguh. Ketakutanmu hanya pada pemilik raga. Setiap sikap dan perbuatan berstandarkan nilai-nilai SyariatNya. Akhlaq baik menjadi kebiasaan dalam setiap langkah dan menjadi keteladanan orang-orang di sekitarmu. Meski terseok-seok langkah orang lain mengikutimu, justru kau ajarkan kekuatan dan keyakinan pada mereka bahwa semua yang sulit bisa dilalui. Jujur, pemaaf, rendah hati, berusaha untuk tidak sombong dan tinggi hati, menjadi ciri khas dalam keseharianmu.
Dari sisi lain, kau tunjukkan sikap tegas terhadap yang haq dan yang batil. Hingga kau jaga segala pergaulan agar tidak terbawa arus kemaksiatan. Engkau membatasi dalam pertemanan. Bergaul dengan orang sholih menjadi pilihanmu. Menjaga setiap lisan maupun tulisan yang kau kuasai. Tidak lagi mementingkan baqa’ bahkan nau’ yang sedang bergejolak. Karena ketaatan pada Allah lebih menguasai benak dan hatimu. 
Waktu berubah, tatkala kecanggihan teknologi menghampirimu. HP, mengantarmu bertemu dengan teman-teman lamamu. Perubahanpun mulai terjadi. Bertemu dengan teman-teman seperjuangan seolah menjadi tidak penting lagi. Curhatanmu kini, bukan pada amanah dakwah, tapi pada teman-teman lamamu. Sedari perhatian kecil teman lamamu, hingga reaksi besar mereka, kini menjadi kebanggaanmu. Tak tanggung-tanggung, perhatian balasan meluncur darimu, melebihi perhatianmu pada anak dan istrimu. Dari mulai perasaan, perhatian, perbuatan hingga materi yang berlimpah. Tak biasa, memang.
Kini kau telah lupa dengan prinsip tegasmu. Dari sedikit kau berbohong hingga berani melangkah pada dosa-dosa kecil yang dulu sangat engkau hindari. Hingga tak jelas lagi mana yang menjadi prinsip baku darimu. Bergaul dengan orang shalih atau bergaul dengan teman yang salah? Dari mulai lisan dan tulisan yang sudah mulai sedikit demi sesikit berani melanggar hukum syara’. Meskipun dengan alasan bercanda .
Kini sudah pudar prinsip yang kau pegang. Satu persatu keyakinanmupun luntur. Karena merasa satu perjuangan di masa lalu. Merasa satu nasib di masa lalu. Dan merasa memiliki masa-masa indah di masa silam. Tak ada salahnya bernostalgia. Tidak ada hukum yang menghalangi menyambung ukuwah. Namun engaku seolah lupa, batasan mana yang harus tegas engaku pilih. Hingga berfoto ria bersama hanya berdua dengan lawan jenis, ikhtilat hingga bertandang tanpa mahram.
Tidak berhenti sampai di situ. Semua berlanjut tanpa kendali, yang tidak bisa aku kuasai. Karena aku tahu kita individu yang berbeda. Bagaimanapun juga pemikiran dan perbuatanmu hanya dirimu yang menguasai. Kesadaran sebenarnya masih ada. Kau berusaha menolak semua, namun antara bibir, hati dan perbuatan jauh berbeda. Isi benakmu, memang aku tak tahu. Tapi tanganmu meninggalkan tulisan yang membuat nyata. Jejak tulisan di HP, yang masih tersisa. Meski pelbagai alasan mengemuka dengan lesan. Sisi-sisi mendalam yang orang lain rasakan, tak pernah kau pertimbangkan. Gelagat yang tidak bisa kau sembunyikan, tatkala perpaduan hati dipertemukan. Memang kata manis selalu menyapa, namun perbuatan jauh dari rasa. Semua membuatku layak berkata ” Hambar “
Aku juga mulai merasakan, dari sedikit kebohongan yang kau buat yang lama-lama semakin kuat. Padahal dulu tak begini kau perbuat. Juga tak pernah kau teladankan menggadaikan kejujuran demi memenuhi  ” rasa sungkan ” dengan teman. Juga, demi engkau tidak mendapatkan sebutan sombong dari teman lamamu. Sedikit banyak aku tahu, bukan itu standart kejujuran yang kau pegang. Tapi karena Allah Maha Tahu tentang apa yang kau katakan, kau perbuat dan kau sembunyikan. Sekarang semua bertolak belakang. Memang, sikap masih halus, tapi itu sebagai kamuflase saja. Agar kau bisa menutupi kebohongan dan kebohongan berikutnya.
Entahlah sekarang apakah kondisi hatimu masih salim? Atau menuju hati yang sakit?
Allah yang tahu.
Akupun hanya bisa memohon pada pemilik hati. Agar menjaga hatimu dengan menghapus titik-titik cinta terlarang yang hinggap. Agar tidak menjadi sebuah lubang, yang syeitan bisa leluasa keluar masuk. Hingga menjadi lubang besar dan menjadi hati yang sakit.
Di sisi yang lain aku juga memohon ampun. Akan segala prasangka. Agar aku tidak shuudhzan dengan perkataan dan perilakumu.
Apakah tak pantas kalau orang lain bertanya, “ada apa dengan pemikiranmu?”
“Sudah hilangkah prinsip yang kau pegang selama ini?”
“Atau aku yang salah menilaimu?” Jawabkupun hanya satu “Fakta ketulusanmu untuk taat pada Illahi Rabbi, sudah luntur !”
Menelisih Persoalan
Gambaran di atas adalah salah satu contoh permulaan dari percek-cokan suami dan istri. Sedangkan secara keseluruhan, fenomena perpecahan rumah tangga yang berujung perceraian tak bisa lagi dihitung dengan jari. Semakin hari semakin bertambah. Jadilah ikatan rumah tangga hanya sebatas perjanjian di atas kertas.
Tidak bisa dipungkiri, permasalahan muncul tatkala teknologi kecanggihan HP merambah di tangan masyarakat. Dalam hal ini hendaknya kita bijak dalam menggunakan benda yang satu ini. Kalau memang tidak ada uzur syar’i,  harusnya chat atau pertemuan tidak perlu terjadi. Di sini seseorang dituntut kuat dalam mengendalikan naluri nau’ dan baqa’nya. Bisa “meper hawa nafsu” (gejolak nalurinya) dengan mengingat dosa.
Ada benarnya, ketika hati sudah dihiasi nafsu maka syaitan menggebu-gebu dalam membakarnya. Agar semakin tumbuh dan tumbuh menjadi gejolak yang tidak bisa dipendam. Jadilah pelampiasan itu menuntut untuk dipenuhi. Padahal, naluri seandainya tidak dipenuhi maka seseorang tidak akan mati. Kemungkinan yang muncul adalah gelisah atau resah saja.
Dalam pergaulan di dunia maya, hendaknya memperhatikan juga batas-batasnya. Sebagai standar harusnya dikembalikan pada hukum Islam, bukan hukum sungkan atau “pekewuh”. Islam sudah mengatur seluruh sistem, termasuk sistem pergaulan (interaksi laki-laki dan oerempuan). Mulai dari cara berpakaian, cara bergaul, tempat pertemuannya dan hal-hal yang muncul dari pertemuan/interaksi laki-laki dan wanita misalnya perkawinan, thalaq, hadlanah (mengasuh anak), dll. 
Secara umum syari’at Islam mengatur pertemuan/interaksi laki-laki dan wanita. Serta hal-hal yang muncul sebagai akibat dari pertemuan/interaksi tersebut atas dasar keberadaan mereka sebagai laki-laki dan wanita yang berlainan jenis yang masing-masing mempunyai gharizah an-nau (naluri seks). Aturan ini tidaklah menjadikan pemisahan laki-laki dan wanita didasarkan atas munculnya naluri seksual ketika mereka bertemu/berinteraksi. Aturan ini juga tidaklah mengekang/mematikan gharizah an-nau ini, tetapi mengatur pemenuhannya dengan cara yang proporsional dan wajar. Agar menghasilkan ketenangan dan ketentraman. 
Pertemuan antara laki-laki dan wanita adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari selama mereka hidup bermasyarakat. Islam telah menjadikan kerjasama antara laki-laki dan wanita dalam aspek kehidupan. Interaksi antara laki-laki dan wanita sebagai sesuatu yang pasti dalam seluruh muamalah. Namun ketaqwaan terhadap Allah SWT dan beribadah kepada-Nya harus menjadi patokan yang mendasar. (Dikutip dari buku Sistem Pergaulan dalam Islam).[]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four × 2 =

Rekomendasi Berita