by

Ucie Siregar: Buka Mata Telingamu Untuk Khilafah

Ucie Siregar
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA  Ajaran Khilafah yang terus digaungkan oleh salah satu kelompok umat Islam menjadi tren perbincangan diberbagai kalangan. Baik kaum akademisi, awak media, politisi, ulama, bahkan masyarakat umum. Terlepas apakah mereka memandangnya sebagai ajaran kebaikan atau keburukan. 
Pandangan baik atau buruknya Khilafah tidak terlepas dari maklumat tsabiqah (informasi sebelumnya) yang di terima oleh masing-masing pihak. Menganggapnya buruk disebabkan informasi yang didapat tentang Khilafah adalah informasi-informasi yang buruk, negatif, tendensius bahkan banyak mengandung fitnah-fitnah keji. Namun tidak sedikit yang memandangnya baik, sebuah ajaran mulia yang lahir dari aqidah Islam. 
Jika informasi sebelumnya yang dia dapatkan tentang Khilafah adalah sesuatu yang buruk, pemecah belah bangsa, anti kebhinekaan, keras, kejam bahkan ada yang menyamakan ajaran Khilafah dengan ajaran komunis dan mengkaitkannya dengan gerakan ISIS tentunya orang akan ketakutan dan akan menjauh dari ajaran ini. Maka informasi sebelumnya menjadi hal yang sangat menentukan sudut pandang dan sikap seseorang.
Seperti yang dilontarkan oleh Katib Aam Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf, Dia menyebut organisasi yang mencita-citakan Khilafah, seperti Hizbut Tahrir dan Ikhwanul Muslimin, tak beda dengan gerakan komunis internasional yang menghendaki rezim tunggal di dunia. “Jadi mereka sama dengan gagasan komunis internasional yang memungkinkan satu rezim komunis untuk satu dunia,”. Dia mengatakan ideologi dan gerakan yang membawa gagasan secara universal seperti Khilafah maupun komunis hanya menghasilkan kemelut dan kekacauan di seluruh dunia. “Maka harus ditolak dan kembali pada asal dari nilai agama yaitu rahmah, kemanusiaan, dan akhlaqul karimah,”. Ujar pria yang akrab dipanggil Gus Yahya, di sela-sela Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (NU), di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, Kota Banjar, Jawa Barat.  (cnnindonesia,28/02/2019). 
Apa yang dikatakan oleh Gus Yahya ini sangat tendensius bahkan mengarah kepada fitnah yang keji. Bagaimana mungkin Khilafah bisa disamakan dengan komunis?!. 
Khilafah sangat bertolak belakang dengan ajaran komunis. Komunis merupakan ajaran yang tidak mengakui adanya Tuhan sebagai pencipta.  Sementara Khilafah adalah ajaran Islam yang merupakan ajaran tauhid.   Dalam memandang individu, konsep komunis memandang individu seperti gigi dalam roda dan negara sebagai pelaksana sistem sebagai tangan besi yang tidak memberikan individu untuk memiliki apapun. Sementara Khilafah adalah ajaran Islam yang memandang individu bagaikan satu tubuh, dan negara Islam sebagai pelaksana sistem mengakui adanya kepemilikan individu dan melindunginya.
Konsep negara komunis dengan tangan besinya, sangat menakutkan, kejam dan bengis terhadap rakyat, ini telah terbukti oleh sejarah. Wajar konsep komunis, tidak bertahan lama dimanapun negara yang menerapkannya. Sementara Khilafah menurut sejarah dan bukti empiris telah diterapkan selama 13 abad lamanya menyelimuti 2/3 dunia. Tidak ada satupun catatan dalam sejarah penegakan Khilafah, Khilafah memperlakukan rakyat dengan semena-mena. Karena Khilafah adalah ajaran Islam yang memberikan rahmat bagi siapapun yang bernaung dibawah kepemimpinannya. 
Khilafah adalah institusi negara Islam yang pernah menjadi adidaya dunia selama berabad-abad. Kegemilangan Khilafah meliputi seluruh aspek kehidupan. Ekonomi sejahtera, pendidikan maju dan terdepan, hukum adil tanpa tebang pilih, sosial masyarakat terjaga, keamanan dilindungi, pemerintahan yang berwibawa, bersih jauh dari praktek korup, militer dalam Khilafah sangat disegani dan ditakuti oleh musuh. 
Namun kegemilangan ini telah ditutup-tutupi oleh musuh-musuh Islam. Selama 13 abad lamanya Khilafah menjadi pelindung dan perisai umat Islam. Seluruh aspek kehidupan diatur sesuai dengan Islam. Sementara itu, umat yang hidup dibawah naungan Khilafah bukan hanya umat Islam, namun juga ada kaum Nasrani, Yahudi dan kaum Musyrikin. Semua kaum hidup dengan sukacita dipenuhi segala kebutuhannya oleh Khilafah tanpa memandang agama, ras, warna kulit ataupun suku. Bahkan saat runtuhnya Khilafah pada 3 Maret 1924 M, kaum Yahudi dan Nasrani yang hidup dalam naungan Khilafah turut bersedih, menangisi keruntuhannya. Ini tidak lain disebabkan perlindungan dan penjagaan Khilafah yang sangat manusiawi terhadap mereka, tidak berbeda dengan kaum Muslimin lainnya. Aqidah, ibadah, makanan, pakaian mereka dijamin dan terjaga, mereka diberikan kebebasan untuk menjalankannya sesuai dengan ajaran agamanya. Hanya dalam aspek mu’amalah saja mereka harus tunduk dengan aturan Khilafah. Namun ketundukan itulah yang membuat hidup mereka sejahtera, dimanusiakan dan  terlindungi.
Bahkan seorang mantan biarawati, Karen Amstrong memuji Khilafah. Diapun takjub akan Khilafah. Karen Amstrong yang juga penulis terkenal memuji kehidupan beragama yang ada dalam negara Khilafah. Dalam negara Khilafah, agama selain Islam mendapatkan perlakuan yang sangat baik. Bahkan menurut Karen Amstrong, kaum Yahudi menikmati zaman keemasan di Andalusia. “Under Islam, the Jews had Enjoyed a golden age in al-Andalus” tulis Karen Amstrong.
Begitu juga dengan sejarahwan Barat, Will Durant. Dia memuji kesejahteraan negara Khilafah. Dalam buku yang ia tulis bersama Istrinya Ariel Durant, Story of Civilization, ia mengatakan, “Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapapun yang memerlukan dan memberikan kesejahteraan selama beradab-abad dalam wilayah yang sangat luas. Fenomena seperti itu belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka”.
Maka suatu kelainan, apabila ada umat Islam bahkan ulama yang membenci Khilafah bahkan menuduhnya sebagai ajaran yang berbahaya, dapat memecah belah bangsa dan anti kebhinekaan. Justru dengan khilafah umat akan jauh dari perilaku tidak manusiawi seperti yang terjadi dalam sistem kehidupan sekuler demokrasi yang diterapkan saat ini.
Berbagai produk kejahatan, angka kriminalitas semakin meningkat, pendidikan yang melahirkan kemerosotan moral dan akhlak, ekonomi melemah, yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin, yang kuat menindas yang lemah, hukum amburadul, pergaulan seks semakin liar, krisis multidimensi terjadi di seluruh aspek kehidupan. Ini semua terjadi disebabkan karena penerapan sistem yang lahir dari buah akal manusia yaitu sistem sekuler demokrasi.
Sekuler demokrasi dan turunan-turunannya telah membuahkan penderitaan, kesengsaraan dan terbuka lebarnya  penjajahan asing yang masuk melalui kebijakan-kebijakan liberal. Bahkan  adanya gerakan ataupun kelompok separatisme  tidak bisa dielakkan dari penerapan sistem busuk ini.
Maka sebagai umat yang waras, yang diberikan potensi akal. Hendaknya bukalah mata juga telingamu untuk Khilafah. Berpikirlah sehat dan jernih dalam memandang setiap permasalahan. Apa sebenarnya yang menjadi sumber masalah negeri ini?. Siapa dalang yang membuat negeri ini terus dalam masalah, penderitaan yang berkepanjangan dan hidup dalam cengkeraman penjajahan?. Siapa sebenarnya yang mengancam kedaulatan negeri ini?. Pantaskah fitnah keji dan tendensius terus kita tuduhkan pada ajaran  Khilafah?.
Padahal jelas-jelas penderitaan, kesengsaraan, penjajahan atas negeri ini akibat kita mencampakkan hukum-hukum Allah dan ajaranNya (Khilafah). Negeri ini lebih mau mengambil dan manut pada sistem kufur jahiliyah buatan manusia ala sekuler demokrasi yang lahir dari penjajah Barat daripada sistem yang lahir dari penciptanya.
Mari kembali kita renungkan firman Allah SWT : 
وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ  أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ 
“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?”. (TQS. Al Maidah [49-50]). Wallahu A’lam bisshawab.[]



Penulis adalah Aktivis Muslimah Peduli Negeri-Banda Aceh).

Comment

Rekomendasi Berita