by

Yanti: Tanpa KHILAFAH Umat Terpecah Belah

Yanti
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Islam adalah agama yang sempurna yang mengatur segala lini kehidupan. Segala masalah ada aturannya dalam islam. Ummat islam adalah umat terbaik yang telah dijanjikan oleh Allah SWT. Tetapi yang anehnya kenapa masalah selalu ditimpa oleh kaum muslim?, kenapa banyak perpecahan dan adu domba melanda kaum muslim?,, 
Untuk menjawab pertanyaan tersebut mari lah kita melihat sejarah dahulu.. yaitu pada tanggal 3 Maret 1924 Kekhalifahan di Turki Dibubarkan. Dalam sejarah bahwa penyebab kehancuran Daulah Khilafah Islamiyyah terjadi karna adanya antek-antek dari Yahudi dan Inggis yang mana mereka berperan atau pun bercita-cita menghancurkan Negara Khilafah. Namanya adalah Mustafa Kemal Ataturk seorang Militer Turki dari Solonica. Sayang nama yang bagus tidak seindah dengan pribadinya. Mustafa Kemal Ataturk dalam masa kecilnya sudah tertanam jiwa pemberontak dalam dirinya. Sehingga ia sering bertengkar dengan gurunya. Dalam kurikulum disekolahnya pun adalah kurikulum barat. Dalam usia ke 17 tahun, dia masuk ke sekolah tentara Monaster. Di sinilah pengenalannya tentang memasuki wilayah bawah tanah sebagai antek-antek barat. 
Apa hubungannya dengan adanya kehancuran dalam daulah khilafah islamiyyah?
Justru ada hubungannya dengan antek-antek barat yang sudah dijelaskan diatas. Dengan paham nasionalisme yang dia agung-agungkan serta menghasut pemikiran ummat islam untuk memikirkan Negara yang cinta dengan tanah airnya saja. Serta tidak ingin memikirkan Negara selain negaranya sendiri. Yaitu dimulai dari mengadu Turki dengan Arab. Mengutif dari pakar sejarah Mahmud Syakir dalam buku Tarikh Islam Daulah Utsmaniyyah. 
Kenapa mesti kedua Negara ini?… 
Menurut Muhammad Adduh, dalam Al-Jam’iyah al-Islamiyyah wa al-Fikrah al-Qawniyyah, Dar asyu-syuruq, 1414-1994, hal.53-54 karangan Dr. Muhammad Imarah. Maka dengan kedua Negara tersebut ummat islam akan lemah, dan siapa yang lemah diantara keduannya itu yang ditunggu-tunggu oleh Eropa untuk mereka kuasai. Padahal waktu itu Turki dan Arab sangat kuat. Tetapi dengan adanya paham nasionalisme itu membuat Negara tersebut tidak lagi sama-sama memperkuat kekuatan mereka dalam berpolitik. Mereka sudah lama mengiginkan pertarungan kedua umat islam tersebut. Kemudian berusaha mengambil atau menguasai kedua bangsa tersebut. (www.islampos.com/sejarah-hari-ini-3-maret-1924-kekhilafahan-di-turki-dibubarkan). 
Dari sejarah tersebut, Sudah 95 tahun ummat islam sengsara, tercerai belai, dan terjajah salah satu akibatnya karena paham nasionalisme ditengah-tengah kaum muslimin sudah tertanam dalam benak umat. Sehingga umat islam tidak peduli lagi terhadap saudara-saudaranya yang tertindas, baik itu di palestina, miyanmar, alepo, suria, rohingya dan lain-lain. 
Disebabkan karna paham nasionalisme sudah terkontaminasi dalam jiwa-jiwa kaum muslimin, yang mengakibatkan individu hanya memberikan kesetiaan tertingginya kepada Negara kebangsaannya. Sehingga untuk menyelamatkan saudaranya mereka harus berpikir ulang. Padahal itu adalah kewajiban mereka dengan melanjutkan kembali kehidupan islam, agar suruhan atau perintah jihad fisabilillah dapat di praktekkan. Bukan hanya demikian, dari paham nasionalisme yang menjangkiti tubuh ummat islam menjadikan umat sekarang terkotak-kotakkan. Tidak ada lagi persatuan dalam tubuh ummat islam. Sehingga dengan mudah antek-antek barat menghancurkan islam itu sendiri. Mereka tidak menginginkan umat islam bersatu dan bangkit dari promlematika sekarang ini. 
Paham nasionalisme bukan hanya menyebabkan cinta tanah air saja, yang dipedulikan hanya negaranya sendiri, tetapi paham tersebut juga dapat menyebabkan persatuan umat islam dalam satu kepemimpinan (khalifah) yang mengambil aturan islam secara keseluruhan juga menjadi sebab terhalangnya system islam di dalam kehidupan kita. Seperti yang telah terjadi baru-baru ini PBNU: mengatakan Hizbut Tahrir mempunyai gagasan Komunis Internasional. 
Banjar, CNN Indonesia… katib Aam pengurus besar nahdatul ulama (PBNU) Yahya Cholil Shaquf menyebut organisasi yang mencita-citakan khilafah, seperti hizbut tahrir dan ikhwanul muslimin, tak beda dengan gerakan komunis internasional yang menghendaki rezim tunggal di dunia. 
Menurutnya, gerakan yang bercita-cita tentang khilafah tersebut ytergolong gagasan baru yang dipaksakan terhadap dunia islam. Ujar pria yang akrab dipanggil Gus Yahya, di sela-sela Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (NU), di Pondok Pesanteren Miftahul Huda Al-Azhar, Kota Banjar, Jawa Barat, Kamis(28/2). 
Gus Yahya juga menyebutkan bahwa tidak ada kekajiban ummat islam untuk menerapkan system islam dalam naungan khilafah yang mencakup seluruh dunia dalam satu kekuasaan system politik. (pbnu-hizbut-tahrir-sama-dengan-gagasan-komunis-internaional?) 
Ketika mendengar pernyataan kaum muslimin tersebut apa yang anda pikirkan?..yaa,,saya juga merasakan aneh kepada muslim yang mengatakan hal yang demikian. Padahal Allah menyuruh kita untuk melakukan hikum qishos, razam, dera, potong tangan, menghindari riba dan lain-lain. 
Apakah itu bukan kewajiban kita sebagai ummat islam?… 
Tentu itu adalah kewajiban kita semua. Khilafah yang dikoar-koarkan hizbut tahrir adalah hal yang benar, mereka menyeru agar umat islam kembali pada fitrahnya masing-masing dengan menerapkan islam secara kaffah atau secara menyeluruh dan itu bisa diterapkan dengan adanya institusi islam yaitu khilafah islamyyah yang menjadi janji Allah SWT. Dari kondisi umat sekarang dengan ketiadaan khilafah dalam menjaga kehidupan ini, banyak ketidakadilan, kesengsaraan, tercerai berai dan terjajah. Banyak yang menolak gagasan khilafah, membenci perjuangannya, demikian bisa terjadi karna paham Nasionalisme. Walaupun banya yang menghadang, memusuhi, bahkan yang sudah membubarkan. Tetapi hal yang perlu diketahui khilafah tetap kewajiban dan janji Allah SWT. 
Wallahu a’lam bissowab.[]
Penulis adalah mahasiswi UIN Imam Bonjol, Padang, 
Fakultas Syari’ah, jurusan Hukum Keluarga, semester 6

Comment

Rekomendasi Berita