by

Yuni Damayanti: Kendali Korporasi Kukuhkan Kapitalisasi?

Yuni Damayanti

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan sumber daya alam.
Dari pulau Sumatera hingga Papua. Potensi
 
kekayaan sumber daya alam yang dimiliki Indonesia tentunya berbeda-beda.
Selain kaya sumber daya alam, kualitasnya pun termasuk yang terbaik di dunia.
  Karena kekayaan sumber daya alam mineral belum
dimanfaatkan secara maksimal, cadangan mineral di negeri ini pun berlimpah. Kekayaan
akan sumber daya energi dan mineral di Indonesia tidak lepas dari kondisi geografis
serta posisi Indonesia yang terletak di jalur gunung api dunia.
Kekayaan sumber energi yang ada di seluruh penjuru nusantara menjadi
peluang sekaligus tantangan bagi Indonesia untuk menjamin ketersediaan energi serta
akses terhadap energi yang dapat dijangkau dan terjangkau oleh semua lapisan masyarakat.
Berdasarkan data tahun 2015 dari Kementerian Energi Sumber Daya Alam
dan Mineral, cadangan batubara Indonesia berlimpah dengan total cadangan 32 miliar
ton yang terbukti, sedangkan yang terkira mencapai angka 74 miliar ton. Dua pulau
Indonesia  memiliki kandungan batubara terbesar
adalah Sumatera dan Kalimantan. Sumatera mempunyai 12 miliar ton untuk cadangan
terbukti dan 55 miliar ton cadangan terkira, sedangkan Kalimantan cadangan batubara
terbukti 19 miliar ton dan terkira 68 miliar ton. Selain batubara Indonesia masih
menyimpan cadangan mineral lain.
Dari data Kementerian ESDM per Desember 2014 cadangan tembaga di Indonesia
berlimpah yang terbukti  2 miliar tons ore
dan terkira 18 miliar tons ore, cadangan terkira timah  sebesar 3,9 
miliar tons ore dan terbukti 1,3 miliar tons ore. Selain itu ada pula cadangan
nikel terbukti 1,1 miliar tons ore dan 3,7 miliar tons ore cadangan terkira. Cadangan
emas yang terbukti di Indonesia 2,8 miliar tons ore dan yang terkira ada 8,3 miliar
tons ore. Indonesia masih menyimpan cadangan cadangan sebesar 151,33 triliun kaki
kubik untuk gas bumi, sedangkan cadangan minyak bumi di Indonesia ada 7,31 triliun
barel, (Newswantara.com, 25/01/2019).
Jika kekayaan sumber daya energi dan mineral Indonesia dapat dikelola
dengan baik, niscaya negeri ini tentu mampu menjadi negara yang kaya raya dan mandiri.
Namun, fakta di lapangan menggambarkan buruknya pengelolaan sumber daya alam dan
energi yang mengorbankan rakyat. Hal ini terjadi karena sebagian besar kekayaan
alam dikuasai oleh asing dan pihak swasta, bukan dikelola oleh negara untuk kepentingan
hajat hidup rakyatnya.
Semua itu dilakukan atas nama pertumbuhan ekonomi dan pemenuhan kebutuhan
energi, sehingga pengelolaan sumber daya alam diserahkan kepada kalangan pengusaha
yang berdampingan dengan penguasa. Keuntungan materi yang berlipat-lipat hanya berputar
dikalangan orang-orang yang berada dalam lingkaran penguasa. Setelah itu kebijakan
eksplorasi tidak mampu memberikan jaminan keamanan dan perlindungan bagi rakyat
setempat, sehingga rakyat pun menjadi korban.
Banyak konsensi batu bara yang dimiliki perusahaan berada dekat pemukiman
maupun lahan pertanian warga. Praktis ia mengambil lahan pertanian dan perkebunan,
serta tempat hidup warga, seperti yang terjadi di kota Samarinda Kalimantan Timur.
Selain itu hidup bertetangga dengan tambang batubara, mengakibatkan munculnya banyak
masalah. Dari air bersih yang langka bahkan tercemar, lumpur/limbah cemari sawah,
wilayah pertanian kurang produktif sampai polusi udara karena debu lalu lintas pengangkutan
batubara.
Di Desa kertabuana, Nyoman Derman, seorang pekebun, sempat masuk penjara
tiga bulan karena protes tambang. Nyoman ikut program transmigrasi dari pemerintah
pada tahun 1980. Di Kalimantan, dia diminta membuka lahan pertanian namun izin tambang
telah merenggut lahan bertani Nyoman dan warga Kertabuana lainnya. Nyoman masuk
penjara membuat warga tak berani protes. Otomatis perusahaan tambang makin leluasa
beroperasi. Selain rusaknya lahan pertanian, lubang tambang yang menganga bahkan
ada yang ditinggal begitu saja oleh perusahaan. Hal ini menyebabkan setidaknya 32
orang meninggal, kebanyakan diantaranya adalah anak-anak.
Dalam perjalanan mendistribusikan batubara ke berbagai wilayah, antara
lain ke pulau Jawa, tongkang batubara menghancurkan terumbu karang, seperti yang
terjadi di Taman Nasional Karimunjawa. Tongkang-tongkang ini kerap menepi atau berlindung
dari ombak di perairan Karimunjawa, hingga merusak terumbu karang sekitar. Di Sanga-sanga,
Kalimantan Timur pada November 2018, rumah warga dan jalan aspal ambles karena aktifitas
tambang batubara kurang 500 meter dari pemukiman (Mongabay.co.id, 16/04/2019).
Seperti inilah kondisi negara dalam cengkraman sistem kapitalisme,
orientasi hidup hanya mengejar materi. Para penguasa minim pertanggungjawaban dalam
mengurusi rakyatnya, bahkan tidak ragu menjadikan rakyatnya sebagai tumbal kerakusan
materi dengan alasan pertumbuhan ekonomi. Pengelolaan sumber daya alam dalam sistem
ekonomi kapitalisme pun dalam kendali korporasi yang merusak lingkungan.
Kapitalisme melegalkan swasta dan asing menguasai sumber daya alam,
sementara menurut syariah Islam, hutan, air dan energi  yang berlimpah itu wajib dikelola negara.
Sumber daya alam tersebut pengelolaannya tidak boleh diserahkan kepada
swasta (corporate based management) tetapi harus dikelola sepenuhnya oleh negara
(state based management) dan hasilnya harus dikembalikan kepada rakyat dalam berbagai
bentuk. Dalam pandangan sistem ekonomi Islam sumber daya alam termasuk dalam kategori
kepemilikan umum sehingga harus di kuasai oleh negara berdasarkan dalil Abyadh bin
Hamal, sedangkan untuk SDA yang menguasai hajat hidup orang banyak. Kekayaan alam
termasuk tambang, batubara dan sebagainya merupakan pemberian Allah kepada hamba-Nya
sebagai sarana memenuhi kebutuhannya agar dapat hidup sejahtera dan makmur serta
jauh dari kemiskinan. Sebagaimana dalam alquran surah Al-Baqarah ayat 29 yang artinya,
Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu ”.
Dengan demikian, batubara bagian dari Sumber Daya Alam (SDA) yang berfungsi
sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan semua manusia dan penunjang kehidupan mereka
di dunia ini sebagai kebaikan dan rahmat untuk dimanfaatkan oleh manusia dalam rangka
mengabdi dan menjalankan perintah Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda yang artinya, “Kaum muslim bersekutu dalam tiga hal; air, padang dan
api”
(H.R. Ahmad).
Hadis tersebut juga menegaskan bahwa yang termasuk harta milik umum
yang menguasai hajat hidup masyarakat adalah semua kekayaan alam yang sifat pembentukannya
menghalangi individu untuk mengeksploitasinya.
Selama pengelolaan sumberdaya alam didasarkan pada
aturan-aturan sekuler kapitalis dan tidak diatur dengan syariah Islam, semua itu
tak akan melahirkan banyak manfaatnya bagi rakyat dan pastinya akan kehilangan berkahnya.
Terbukti, di tengah berlimpahnya sumberdaya alam kita, mayoritas rakyat negeri ini
miskin. Pasalnya, sebagian besar kekayaan alam kita hanya dinikmati oleh segelintir
orang, terutama pihak asing, bukan oleh rakyat kebanyakan. Wallahu a’lam bisshowab.[]

Penulis adalah anggota komunitas WCWH, Revowriter, Sultra

Comment

Rekomendasi Berita