14 Tahun PJMI, Antara Remaja Labil dan Organisasi Matang

Nasional321 Views

 

RADARINDONESIANEWS.COM, BEKASI — Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia (PJMI) memasuki usia ke-14, sebuah fase yang oleh sebagian pengurus dipandang sebagai titik kritis dalam perjalanan organisasi. Peringatan ulang tahun yang digelar di kawasan wisata ekologi Sumur Alet, Kranggan, Kota Bekasi, Ahad (16/11/25) menjadi momentum refleksi arah gerak lembaga yang menaungi ratusan jurnalis Muslim di berbagai daerah.

Dalam kesempatan milad tersebut, Wakil Ketua Umum PJMI, Dr. H. J. Faisal, yang juga akademisi Universitas Djuanda (UNIDA) Bogor, menyampaikan bahwa usia 14 tahun, bila dianalogikan dengan perkembangan manusia, merupakan masa pencarian jati diri.

“Ini usia yang mudah terpengaruh, baik secara positif maupun negatif,” ujarnya.

Ia merujuk teori Konvergensi William Louis Stern yang menekankan bahwa pembentukan kepribadian dipengaruhi perpaduan antara faktor bawaan dan lingkungan. Menurut Faisal, prinsip itu relevan pula bagi organisasi kejurnalisan.

“Bagi manusia, usia 14 tahun sering disebut masa transisi yang penuh turbulensi. Organisasi pun bisa mengalami hal yang sama—berdiri di persimpangan antara menjadi ‘remaja labil’ atau tampil sebagai ‘organisasi matang’,” ucapnya.

Shaping, Positioning, dan Branding

Dalam refleksinya, Faisal menilai ada tiga agenda penting bagi PJMI untuk memasuki fase kedewasaan organisasi: shaping, positioning, dan branding.

Pertama, shaping organisasi, yang ia ibaratkan seperti remaja yang mulai sadar akan bentuk tubuhnya tetapi belum menentukan gaya.

Menurut dia, PJMI perlu memastikan bentuk peran yang ingin diambil—apakah sekadar ruang diskusi intelektual atau lembaga yang membangun standar etika dan identitas jurnalistiknya sendiri.

Kedua, positioning organisasi di tengah lanskap media yang kian ramai oleh konten dan kompetisi algoritma.

“Di era teriakan digital, posisi sering ditentukan oleh siapa yang paling keras berbicara. PJMI harus memilih apakah duduk di depan sebagai penentu arah, atau sekadar menjadi penonton,” katanya.

Ketiga, branding organisasi yang menekankan substansi ketimbang tampilan. “Logo besar tidak boleh menutupi isi yang kecil. Branding sejati lahir dari konsistensi, bukan kemasan,” ujar Faisal.

Ia menegaskan bahwa PJMI harus menjaga identitas yang ia sebut sebagai jurnalistik kenabian—jurnalisme yang mengutamakan kebenaran, amanah, dan integritas.

Komisi Kerja sebagai Laboratorium Gagasan

Faisal juga menyoroti pentingnya peran komisi kerja yang sudah dibentuk PJMI. Menurut dia, komisi bukan sekadar unit organisasi, tetapi “laboratorium ide” yang perlu menghasilkan karya nyata.

“Laboratorium tanpa eksperimen hanya akan menjadi ruang penuh alat berdebu. Begitu pula komisi yang berhenti pada laporan rapat,” ujarnya.

Ia mendorong agar komisi PJMI membalik pola lama, karya lebih diutamakan, laporan menjadi jejak.

Konsistensi Diutamakan Ketimbang Motivasi Sesaat

Dalam pesan penutup, Faisal kembali menekankan pentingnya konsistensi bagi keberlanjutan organisasi. Ia mengibaratkan motivasi sebagai kembang api—mencuri perhatian namun cepat padam.

Sementara konsistensi ia gambarkan sebagai mesin diesel yang mungkin tidak glamor, tetapi berjalan stabil dan panjang.

“PJMI tidak lagi berada pada fase membutuhkan motivator – yang diperlukan adalah konsistensi internal yang melahirkan karya,” imbuhnya.

Ia menambahkan bahwa organisasi yang hanya bergerak berdasarkan momen akan terjebak dalam siklus euforia sesaat. “Organisasi yang hanya lahir di panggung tetapi tidak tumbuh di lapangan akan menjadi bayi abadi—terus merayakan ulang tahun tanpa pernah dewasa,” ujar Faisal.

Menapaki Usia Baru

Peringatan ulang tahun PJMI ke-14 ditutup dengan ajakan untuk menjadikan momentum tersebut sebagai langkah awal konsolidasi organisasi.

“Jika PJMI ingin menulis sejarahnya sendiri, biarkan konsistensi yang bekerja. Bukan motivasi yang hanya memenuhi caption media sosial,” kata Faisal.

Acara yang digelar di salah satu situs yang dikaitkan dengan sejarah Pajajaran itu diakhiri dengan refleksi bersama dan peneguhan komitmen kerja jurnalistik yang lebih terarah.[]

Comment