80 Tahun Kemerdekaan, Indonesia Masih Terbelenggu

Opini732 Views

 

Penulis:  Hildayanti Yunus, S.E | Staf Perpustakaan dan Kearsipan

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Delapan dekade sudah Indonesia merdeka. Namun, peringatan 80 tahun kemerdekaan kali ini justru diliputi ironi. Kemerdekaan yang dahulu diperjuangkan dengan darah dan nyawa para pahlawan, kini terasa hambar di tengah realitas rakyat yang masih bergelut dengan krisis ekonomi dan keterjajahan pemikiran.

Di bidang ekonomi, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) melanda berbagai sektor, mulai dari tekstil, teknologi, hingga manufaktur. Penghasilan masyarakat stagnan, bahkan menurun, sementara harga kebutuhan pokok terus meroket. Tak hanya itu, rakyat juga terbebani dengan berbagai pungutan negara. Banyak keluarga akhirnya “makan tabungan” hanya untuk bertahan hidup. Kelas menengah yang rapuh pun kian terjerumus ke jurang kemiskinan.

Ironi Para Elit vs Rakyat

Di tengah penderitaan rakyat, para elit justru hidup dalam kemewahan. Gaji atau penghasilan anggota DPR bisa kencapai sekitar Rp3 juta per hari—jika dihitung dari total take-home pay termasuk kompensasi. Sementara jutaan rakyat hanya mampu bertahan hidup dengan gaji UMR yang bahkan tidak mencukupi kebutuhan dasar bulanan.

Kontras semakin tampak saat perayaan 17 Agustus di tingkat pusat dibiayai dengan anggaran negara yang besar—pesta, dekorasi megah, hingga seremoni simbolik. Sementara itu, masyarakat di kampung-kampung harus patungan untuk menggelar lomba, memasang bendera, atau sekadar membuat gapura sederhana.

Ketimpangan ini kian menegaskan bahwa kemerdekaan seolah hanya milik elit politik, sedangkan rakyat tetap berjuang dalam keterbatasan.

Penjajahan Pemikiran

Lebih dari itu, generasi muda yang seharusnya menjadi motor penggerak bangsa justru diarahkan untuk menopang sistem kapitalisme. Proses pembajakan intelektual ini adalah bentuk penjajahan dan belenggu pemikiran yang melemahkan umat, hingga tidak lagi mampu berpikir jernih berdasarkan Islam.

Maka jelas, meski Indonesia terbebas dari penjajahan fisik, sejatinya bangsa ini masih terbelenggu penjajahan hakiki—ekonomi, politik, dan pemikiran.

Kemerdekaan Sejati

Hakikat kemerdekaan seharusnya tercermin dari kesejahteraan rakyat. Kemerdekaan bukan sekadar upacara, parade, atau jargon kebangsaan, melainkan terwujud nyata ketika setiap warga negara dapat dengan mudah memenuhi kebutuhan dasarnya. Sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan, dan keamanan adalah hak dasar yang wajib dijamin negara.

Kemerdekaan sejati juga tampak ketika umat Islam mampu berpikir dan beraktivitas sesuai syariat, tanpa tercerabut dari akidahnya oleh paham sekuler yang merusak.

Akar Masalah: Kapitalisme Sekuler

Krisis multidimensi yang melanda bangsa ini adalah buah dari penerapan sistem sekuler-kapitalisme. Sistem ini hanya menguntungkan segelintir kapitalis, sementara rakyat banyak dibiarkan sengsara. Akibatnya, kesenjangan makin lebar, kapitalis semakin kaya, dan rakyat semakin miskin.

Solusi Hakiki: Islam Kaffah
Islam hadir dengan solusi menyeluruh. Sistem Islam kaffah menjamin kesejahteraan rakyat melalui:

– Pengelolaan kepemilikan umum (tambang, energi, air) untuk rakyat, bukan untuk asing atau swasta.

– Pemenuhan kebutuhan pokok (pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan, keamanan) sebagai kewajiban negara.

– Industrialisasi berbasis syariah yang membuka lapangan kerja dan mendorong kemajuan teknologi.

– Reformasi agraria Islam dengan memberikan tanah bagi rakyat yang mampu mengelolanya.

– Santunan fakir miskin melalui baitul mal, sehingga tak ada rakyat yang terabaikan.

Selain itu, Islam menjaga kemurnian pemikiran umat agar tetap berpijak pada syariat, sehingga seluruh aktivitas kehidupan senantiasa berada dalam ketaatan kepada Allah SWT.

Jalan Perubahan

Meraih kemerdekaan hakiki tidak cukup dengan perubahan parsial atau sekadar gerakan moral. Perubahan sejati harus menyentuh akar persoalan, yakni mencari alternatif lebih baik dari  kapitalisme yang jelas gagal mensejahterakan rakyat. Alternatif itu adalah Islam.

Hari ini sudah tampak geliat perubahan di tengah masyarakat, meski masih bersifat permukaan. Namun, transformasi hakiki hanya bisa diwujudkan oleh jemaah dakwah yang konsisten menyeru Islam sebagai solusi terhadap kondisi yang semakin parah.

Dari sinilah akan lahir perubahan besar—dari sistem kufur menuju sistem Islam yang menyejahterakan. Wallahu a’lam bishshawab.[]

Comment