Penulis: Sherly Agustina, M.Ag. | Pemerhati Kebijakan Publik
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Permasalahan negeri ini begitu kompleks. Bukan hanya satu bidang, melainkan hampir di semua lini kehidupan. Salah satunya adalah dunia kesehatan yang semakin tampak kelam. Banyak rakyat masih sulit mengakses layanan kesehatan yang mudah, murah, dan berkualitas.
Padahal, negeri ini disebut-sebut kaya sumber daya alam yang seharusnya mampu menyejahterakan rakyatnya.
Namun kenyataan berkata lain. Publik kembali dikejutkan oleh kisah pilu seorang balita bernama Raya, yang meninggal dunia dalam kondisi mengenaskan.
Tragedi Raya
Raya, balita tiga tahun asal Sukabumi, harus meregang nyawa akibat infeksi cacing yang sudah menjalar hingga ke otaknya. Video tentang kondisinya beredar luas di media sosial—cacing sepanjang 15 sentimeter keluar dari hidung serta lubang tubuh lainnya.
Keluarga Raya yang hidup dalam keterbatasan dibantu Yayasan Rumah Teduh membawa sang anak ke RSUD R. Syamsudin S.H, Sukabumi. Namun masalah muncul karena Raya tidak memiliki identitas resmi: tak ada kartu keluarga, apalagi BPJS. Rumah sakit memberikan kelonggaran untuk melengkapi berkas dalam waktu tiga kali 24 jam.
Sayangnya, dokumen tak kunjung selesai. Akibatnya, biaya perawatan yang mencapai puluhan juta rupiah harus ditanggung keluarga miskin tersebut. Setelah sembilan hari dirawat, Raya seperti ditulis beritasatu.com (20/8/25) mengembuskan napas terakhir pada 22 Juli 2025.
Peristiwa ini memantik perhatian publik. Anggota Komisi IX DPR, Netty Prasetiyani seperti dikutip kompas.com (22/8/2025) menyampaikan duka cita dan menegaskan bahwa kasus Raya mencerminkan lemahnya sistem perlindungan sosial di Indonesia. Menurutnya, perangkat desa, posyandu, hingga bidan semestinya menjadi garda terdepan dalam upaya menjaga kesehatan masyarakat pedesaan.
Potret Kelam Sistem Kesehatan
Kasus Raya mengungkap sejumlah persoalan mendasar:
1. Minimnya pengetahuan orang tua dalam pengasuhan dan pendidikan anak, ditambah kondisi ekonomi yang sulit.
2. Lingkungan rumah yang tidak sehat serta gizi yang jauh dari cukup.
3. Kurangnya kepedulian pemerintah setempat, sehingga warga miskin tidak tersentuh perlindungan sosial dan layanan kesehatan.
4. Birokrasi yang rumit dan biaya kesehatan mahal, yang semakin meminggirkan rakyat kecil.
Tragedi ini menjadi alarm bahwa akses kesehatan tidak boleh ditentukan oleh birokrasi atau kemampuan ekonomi. Saat nyawa dipertaruhkan, penyelamatan harus menjadi prioritas utama. Sayangnya, dalam sistem kapitalisme, birokrasi justru sering menjadi tembok penghalang, terutama bagi rakyat miskin.
Kasus Raya hanyalah puncak gunung es. Masih banyak kisah serupa yang luput dari sorotan. Di balik jargon pelayanan kesehatan universal, kenyataan di lapangan menunjukkan sebaliknya: kesehatan diperlakukan sebagai komoditas, sementara rakyat menjadi korban.
Ancaman bagi Generasi Muda
Jika persoalan ini terus dibiarkan, masa depan bangsa akan tergadai. Anak-anak tumbuh menjadi generasi “pesakitan”—baik fisik maupun psikis. Fisik, karena tidak memperoleh jaminan kesehatan dan gizi yang layak. Psikis, karena tidak mendapat pola asuh yang sehat dan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang mereka.
Padahal, anak adalah investasi terbesar bangsa untuk melanjutkan estafet perjuangan dan mengharumkan nama Indonesia di dunia.
Pandangan Islam: Negara Menjamin Kesejahteraan
Dalam perspektif Islam, keluarga adalah fondasi utama. Laki-laki dan perempuan dianjurkan menimba ilmu tentang rumah tangga, hak dan kewajiban, hingga pola asuh Islami sebelum menikah. Tujuannya agar lahir generasi saleh-salihah dan berkualitas.
Namun tanggung jawab tidak hanya berhenti di keluarga. Negara dalam Islam wajib menjamin pemenuhan kebutuhan pokok rakyat: pangan, sandang, papan, kesehatan, pendidikan, dan keamanan. Kesehatan, misalnya, diberikan secara gratis, tanpa birokrasi berbelit.
Rasulullah saw. menegaskan bahwa setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya. Bahkan, nyawa seorang mukmin lebih berharga daripada dunia dan seisinya (HR. Nasai, Tirmidzi).
Sumber Dana dalam Islam
Jaminan kesehatan dan kesejahteraan rakyat dibiayai melalui Baitulmal, dengan pemasukan dari kharaj, fa’i, jizyah, zakat, serta pengelolaan sumber daya alam sebagai milik umum. Bila dikelola sesuai syariat, kekayaan alam cukup untuk menyejahterakan rakyat. Sayangnya, dalam sistem kapitalis saat ini, SDA justru dikuasai asing sehingga yang kaya makin kaya, sementara rakyat kecil semakin terpuruk.
Jejak Sejarah: Kesehatan dalam Peradaban Islam
Sejarah mencatat, pada abad ke-9 hingga 10 M, peradaban Islam telah memiliki sistem kesehatan maju. Kota-kota bersih karena pengelolaan sampah teratur, tenaga kesehatan diuji kompetensinya, dan rumah sakit dibangun hampir di setiap kota. Bahkan pada tahun 800 M di Baghdad sudah berdiri rumah sakit jiwa pertama di dunia—gratis bagi seluruh rakyat, termasuk musafir.
Hanya Islam yang mampu menghadirkan sistem paripurna, yang menjadikan kesehatan dan kesejahteraan rakyat sebagai prioritas, bukan sekadar retorika. Allahu a’lam bish-shawab..[]









Comment