Hanya Jihad Militer yang Mampu Bebaskan Palestina dari Penjajahan Zionis

Opini450 Views

 

Penulis: Raihun Anhar, S.Pd |Aktivis Muslimah

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Sejak Deklarasi Balfour tahun 1917 yang menjanjikan “tanah air bagi orang Yahudi” di Palestina, penderitaan rakyat Palestina tak pernah berhenti. Tahun 1948 menjadi titik kelam: ratusan ribu warga Palestina terusir, hidup di kamp-kamp pengungsian, dan peristiwa itu dikenang sebagai Nakba (malapetaka).

Pada tahun yang sama, Zionis mendeklarasikan berdirinya Israel, lalu terus melancarkan perampasan,  pembunuhan dan penindasan, terutama di Gaza yang tetap mempertahankan tanah suci Baitul Maqdis.

Dukungan penuh Amerika Serikat membuat Israel semakin leluasa. Ironisnya, negara-negara mayoritas Muslim tak ada yang benar-benar berdiri tegak bersama Palestina. Para pemimpin Muslim cenderung takut kehilangan hubungan dengan Barat. Dukungan yang diberikan pun hanya sebatas bantuan kemanusiaan, bukan langkah militer yang mampu mengusir penjajah.

Padahal, yang dibutuhkan rakyat Gaza bukan sekadar makanan atau pakaian. Lebih dari itu, mereka butuh kemerdekaan dari penjajahan Zionis yang terus membunuh mereka.

PBB kerap menawarkan solusi two-state solution (solusi dua negara). Namun, ini jelas tidak adil. Ibarat dua ibu merebut seorang anak, tentu mustahil anak itu dibagi dua. Selama Israel berdiri, penindasan akan terus berlangsung. Bagaimana mungkin rakyat Palestina diminta berdampingan dengan penjajah yang setiap saat bisa kembali membantai mereka?

Sejarah Islam menunjukkan bahwa Baitul Maqdis pernah dibebaskan oleh Rasulullah SAW, lalu dipertegas pada masa Khalifah Umar bin Khattab setelah kemenangan Perang Yarmuk, hingga masa Salahuddin al-Ayyubi. Metode yang ditempuh Islam selalu berawal dari dakwah, lalu jihad jika penolakan terjadi.

Dalam konteks hari ini, Israel jelas telah melakukan genosida. Maka, jihad adalah jalan syar’i untuk melawannya. Sayangnya, para pemimpin negeri  Muslim tidak ada yang menyerukan jihad padahal sebagian besar ulama telah berulang kali menyerukan hal itu.

Satu-satunya yang melawan hanyalah Hamas, sebuah gerakan rakyat, bukan negara. Karena tak mampu mengalahkan Hamas, Israel pun melampiaskan kebiadaban dengan membantai warga sipil.

Jika Hamas dengan senjata seadanya bisa membuat pasukan Israel Defense Forces (IDF) kewalahan, seharusnya ini menjadi cambuk semangat bagi negara-negara Muslim. Apalagi, sejarah membuktikan pasukan Islam di masa lalu mampu membuat Romawi dan Persia tunduk karena keunggulan militernya.

Kekhawatiran akan terjadinya Perang Dunia Ketiga sering dijadikan alasan untuk menghindari konfrontasi. Padahal, yang dibutuhkan adalah sistem kepemimpinan umat Islam seperti dulu, yang hanya memerangi tentara musuh, bukan membantai warga sipil seperti IDF.

Membebaskan Gaza dan Baitul Maqdis dari penjajahan Zionis bukan sekadar wacana kemanusiaan, tapi kewajiban umat Islam.

Dibutuhkan kekuatan, jihad militer, persatuan di bawah satu kepemimpinan Islam dan seorang khalifah (pemimpin) —yang mampu mempersatukan umat, melindungi rakyat sipil, dan mengusir penjajah dari tanah suci. Tanpa persatuan itu, penderitaan Gaza akan terus berlangsung.[]

Comment