Zero Waste di Gunung Butak, Dari Aturan Menjadi Budaya

Daerah, Jawa Timur834 Views

RADARINDONESIANEWS .COM, KOTA BATU – Kabut tipis turun perlahan di jalur pendakian Gunung Butak. Jalannya menanjak, basah oleh embun, tapi nyaris tanpa jejak sampah. Dari pos pertama hingga puncak, pemandangan bersih itu terus terjaga—seolah berada di kawasan taman nasional.

Fenomena langka ini menandai perbedaan Butak dengan banyak gunung lain yang kerap tercemar plastik dan sisa makanan pendaki.

Fenomena inilah yang sedang diteliti Arga Fatir Rinjani (22), mahasiswa Sosiologi Universitas Brawijaya.

“Awalnya saya masuk Sosiologi itu kecelakaan, maunya Psikologi. Tapi sekarang saya sadar, justru di sinilah passion saya. Saya bisa melihat langsung bagaimana persoalan sosial, seperti sampah di alam terbuka, bisa dikelola,” ujarnya di sela-sela pendakian, Jumat (3/10/25).

Di Gunung Butak, setiap pendaki wajib membawa kantong sampah. Nama dan identitas mereka dicatat, memastikan tanggung jawab tidak berhenti di pos pendakian. “Mirip sistem di pegunungan Amerika atau Kanada. Sampah dianggap tanggung jawab pribadi, bukan beban pengelola,” kata Arga, mahasiswa semester tujuh itu.

Menurut pengamatannya, aturan itu telah berkembang menjadi nilai sosial. “Terjadi kontrol sosial. Pendaki saling mengingatkan. Ada kebanggaan kolektif ketika mereka berhasil membawa sampahnya turun. Aturan ini sudah bergeser menjadi budaya,” jelasnya.

Dampaknya terasa. Kawanan monyet di puncak tak lagi agresif karena tak ada sisa makanan yang memancing perhatian mereka. Harmoni kecil antara manusia dan alam pun tercipta.

Laporan lengkap investigasi ini dapat disaksikan dalam program Lensa Alam SiapTV, pekan depan.[]

Comment