Penulis: Dr Shamsi Ali, Lc | Direktur Jamaica Muslim Center, Presiden Nusantara Foundation New York
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Esensi hidayah sejatinya terletak pada kemampuan manusia menangkap makna di balik setiap peristiwa kehidupan. Ketika Allah menciptakan Adam, Dia mengajarkan kepadanya “nama-nama seluruhnya”. Dalam tafsir para ulama, “nama-nama” itu bukan sekadar sebutan, melainkan kemampuan memahami makna dari segala sesuatu.
Ambil contoh sebuah bangunan yang disebut “masjid”. Apakah maknanya sekadar gedung berkubah dan menara, atau tempat di mana jamaah bersujud dalam ketaatan? Pemahaman terhadap makna itu yang kemudian membentuk cara pandang dan sikap seseorang terhadap masjid. Begitu pula dalam hidup—cara kita memaknai kehidupan menentukan bagaimana kita menjalaninya.
Sebagian orang memandang hidup sebagai upaya menumpuk materi, menganggap kesuksesan diukur dari harta dan jabatan. Bagi yang lain, hidup adalah perjalanan spiritual menuju kebenaran. Di sanalah letak perbedaan: bukan pada apa yang kita alami, melainkan pada bagaimana kita memaknai pengalaman itu.
Demikian pula dalam beragama. Saat membaca Al-Qur’an, apakah kita hanya melafalkan huruf dan kalimat, atau menelusuri makna di baliknya? Sebab, hidayah sesungguhnya lahir dari pemahaman makna, bukan sekadar bacaan.
Pelajaran dari Sejarah
Sekitar dua pertiga isi Al-Qur’an memuat kisah sejarah—para nabi dan umatnya, serta tokoh-tokoh yang menentang kebenaran. Di antara yang paling sering diulang adalah kisah Musa dan Fir’aun.
Fir’aun bukan nama, melainkan gelar bagi mereka yang bertindak zalim dan melampaui batas. Dalam kesombongannya, ia bahkan mengaku sebagai tuhan tertinggi: “Ana rabbukum al-a’la.” Namun kejahatan paling besar Fir’aun, sebagaimana dicatat dalam Al-Qur’an, adalah membantai anak-anak laki-laki dan membiarkan perempuan hidup, demi menyingkirkan ancaman terhadap kekuasaannya.
Di tengah penderitaan Bani Israil, Allah mengutus Musa untuk menantang tirani dan membawa perubahan. “Pergilah kepada Fir’aun,” demikian perintah Allah, “sesungguhnya dia telah melampaui batas.”
Fir’aun-Fir’aun di Zaman Modern
Sejarah selalu berulang, hanya saja dalam bentuk yang berbeda. Fir’aun masa kini tidak lagi berbentuk satu sosok penguasa Mesir, tetapi hadir dalam berbagai wajah—dalam politik yang otoriter, ekonomi yang menindas, dan sistem global yang tidak adil.
Jika Fir’aun dahulu membunuh anak-anak laki-laki, Fir’aun modern justru membunuh semua—anak-anak, perempuan, orang tua—dan menghancurkan rumah, sekolah, rumah sakit, bahkan tempat ibadah. Kejahatannya melampaui batas kemanusiaan.
Maka muncul pertanyaan penting: jika pada masa lalu Allah mengutus Nabi Musa untuk menantang Fir’aun, siapakah Musa pada masa kini? Tentu bukan nabi baru, melainkan sosok yang memiliki semangat dan keberanian Musa: menantang tirani dan membawa perubahan pada setiap tingkat kehidupan.
Sifat Musa yang Diperlukan Dunia
Sosok “Musa modern” itu mestilah memiliki empat karakter dasar kepemimpinan:
1. Amanah (dapat dipercaya) — memiliki integritas untuk mengemban tanggung jawab kepemimpinan tanpa pamrih pribadi.
2. Shidq (jujur) — jujur kepada Tuhan, pada nurani, dan kepada rakyatnya.
3. Fathonah (cerdas) — kecerdasan yang berpadu dengan kebijaksanaan dalam berpikir dan bertindak.
4. Tabligh (mampu menyampaikan) — kemampuan berkomunikasi yang efektif dan meyakinkan dalam menyuarakan kebenaran.
Empat sifat ini bukan hanya simbol spiritual, tapi prinsip universal bagi siapa pun yang ingin melawan ketidakadilan dan menegakkan kemanusiaan.
Perubahan Konstruktif dan Partisipasi Politik
Ketika Allah memerintahkan Musa menghadapi Fir’aun, Dia berpesan: “Katakanlah kepadanya dengan kata-kata yang lembut.” Pesan ini mengandung makna bahwa perubahan harus ditempuh dengan cara yang konstruktif, bukan destruktif.
Dalam konteks masa kini—khususnya di Amerika, tempat saya bermukim—perubahan konstruktif itu dapat diwujudkan melalui partisipasi publik, terutama dalam politik. Di sinilah masyarakat bisa menentukan siapa yang akan mengendalikan arah kebijakan dan keadilan sosial.
Zohran Mamdani, Musa dari New York?
Dalam lanskap politik Kota New York saat ini, saya melihat sosok yang merepresentasikan semangat Musa: Zohran Mamdani. Politisi muda ini dikenal memiliki integritas tinggi, jujur pada nuraninya, dan berani menyuarakan kebenaran.
Di tengah sistem ekonomi New York yang superkapitalistik—di mana segelintir 1–2 persen orang menguasai kekayaan dunia—Zohran tampil dengan gagasan Democratic Socialist, bukan komunisme, melainkan ideologi keadilan distribusi agar kemakmuran dirasakan lebih merata.
Zohran memiliki keempat sifat kepemimpinan Musa: amanah, jujur, cerdas, dan komunikatif. Ia berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan, menolak penindasan, dan berani bersuara membela rakyat tertindas, termasuk bangsa Palestina.
Tentu, Zohran bukan malaikat. Ia manusia biasa dengan segala keterbatasan dan kemungkinan salah. Namun justru di situlah maknanya—ia bagian dari kita, dan kita bagian darinya. Sebab umat ini bagaikan satu tubuh: jika satu bagian tersakiti, seluruhnya ikut merasakan.
Maka, mendukung pemimpin seperti Zohran bukan sekadar pilihan politik, melainkan bagian dari perjuangan menegakkan kemanusiaan dan keadilan.
* Tulisan ini merupakan ringkasan khutbah di Jamaica Muslim Center, New York. Jumatan bersama Zohran Mamdani, calon Wali Kota New York berikutnya.









Comment