RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA— Gelombang kritik terhadap Badan Gizi Nasional (BGN) terus menguat setelah kasus keracunan massal dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) meluas di berbagai daerah.
Demikian terungkap dari rilis big data Indef ke Redaksi, Selasa (14/10/25)
Hasil riset big data yang dilakukan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menunjukkan, hingga akhir September 2025 tercatat 8.649 siswa mengalami gejala keracunan.
Data yang dikumpulkan dari media sosial X dan TikTok periode 1–27 September 2025 itu menunjukkan tingginya sentimen negatif terhadap BGN.
Dari total lebih dari 444 ribu percakapan warganet, sebagian besar menyoroti lemahnya pengawasan serta komposisi pimpinan lembaga yang dinilai tidak memiliki latar belakang gizi atau kesehatan.
Sebaran Kasus dan Dugaan Penyebab
Riset INDEF yang dipimpin Wahyu Tri Utomo mencatat, kasus keracunan tersebar di 17 provinsi. Kasus tertinggi ditemukan di Jawa Barat (3.554 kasus), diikuti Yogyakarta (1.047 kasus) dan Jawa Tengah (1.078 kasus).
Adapun dugaan utama penyebab keracunan berasal dari kontaminasi bakteri Salmonella dan Bacillus cereus akibat proses pengolahan, penyimpanan, dan penyajian makanan yang tidak memenuhi standar kebersihan dan keamanan pangan.
“Publik melihat kasus ini bukan sekadar insiden teknis, tetapi kegagalan sistemik dalam tata kelola dan pengawasan,” demikian temuan riset tersebut.
BGN Tuai Kecaman, SPPG Justru Dapat Dukungan
Dalam etika kebijakan publik, pejabat yang lembaganya gagal melindungi masyarakat semestinya mengundurkan diri. Namun hingga kini belum ada langkah konkret dari jajaran pimpinan BGN. Netizen menilai struktur kepemimpinan lembaga tersebut tidak representatif karena minim figur ahli gizi.
Di sisi lain, lembaga pelaksana di lapangan, Satuan Pelaksana Program Gizi (SPPG), justru mendapat simpati publik. Banyak warganet menilai para pekerja lapangan telah berupaya maksimal menyajikan menu yang layak dan bergizi, meski terkendala sistem dan pengawasan di tingkat pusat.
Dari Harapan Jadi Kekecewaan
Pada awal pemerintahan Prabowo-Gibran, program MBG sempat disambut positif karena dianggap bisa membantu memperbaiki asupan gizi anak-anak sekolah. Namun, harapan itu kini berubah menjadi kekecewaan dan kemarahan publik.
“Dulu publik berharap program ini memperbaiki gizi anak bangsa, kini justru membuat mereka khawatir setiap kali anaknya makan,” tulis salah satu unggahan yang menjadi viral di media sosial.
Netizen bahkan membandingkan pengelolaan MBG dengan sektor transportasi seperti penerbangan dan kereta api yang berprinsip “zero accident”, mengingat program ini juga menyangkut nyawa manusia.
Desakan Evaluasi Total
Ribuan unggahan menuntut agar pemerintah segera mengevaluasi kinerja BGN dan melakukan audit menyeluruh terhadap pelaksanaan MBG. Dorongan kuat juga datang agar ke depan, lembaga pengelola diisi oleh tenaga profesional dengan latar belakang gizi, kesehatan masyarakat, dan manajemen pangan.
“BGN dan SPPG harus segera berbenah. Setiap nyawa anak yang terancam karena makanan dari program negara tidak boleh dianggap remeh,” tulis salah satu komentar yang mewakili suara publik.[]









Comment