Al Washliyah Perkuat Pemahaman Keorganisasian, Tekankan Peran sebagai Perekat

Nasional379 Views

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Al Jam’iyatul Washliyah, Prof. Dr. H. Saifuddin Herlambang, mengatakan penguatan pemahaman kealwashliyahan akan menjadi salah satu program prioritas jangka pendek kepengurusan mendatang. Program itu ditujukan kepada kader, pengurus, anggota, hingga masyarakat luas.

Saifuddin menyampaikan hal tersebut di Kantor PB Al Jam’iyatul Washliyah, Jalan Ahmad Yani, Jakarta, Senin, 31 Agustus 2026. Menurut dia, program kerja organisasi ke depan akan dibagi menjadi dua bagian, yakni program jangka pendek yang berorientasi pada penguatan internal dan program jangka panjang yang diarahkan pada peran organisasi di tengah masyarakat.

“Salah satu program jangka pendek adalah bagaimana kita memperbaiki pemahaman kealwashliyahan terhadap kader, pengurus, dan masyarakat luas,” ujar Saifuddin.

Ia mengatakan penguatan pemahaman tersebut penting karena tidak semua pengurus, kader, dan anggota memahami secara utuh sejarah, tujuan, serta semangat yang melatarbelakangi lahirnya Al Jam’iyatul Washliyah. Organisasi Islam yang lahir di Medan, Sumatera Utara, pada 1930 itu memiliki latar belakang sejarah yang, menurut dia, penting dipahami oleh setiap kader.

“Kalau orang tidak mengerti sejarah, tidak mengerti tujuan utama, spirit atau semangat yang mendasari kelahiran Al Jam’iyatul Washliyah, ibarat orang pergi ke suatu tempat, tapi tidak tahu tujuannya,” kata dia.

Lahir dari Dinamika Pendidikan Islam

Saifuddin menjelaskan Al Jam’iyatul Washliyah tidak lahir dalam ruang hampa. Organisasi tersebut tumbuh di tengah dinamika sosial dan keagamaan, termasuk perbedaan pandangan antara kelompok yang saat itu dikenal sebagai kaum muda dan kaum tua.

Perbedaan tersebut antara lain berkaitan dengan pendidikan dan sistem pembelajaran. Kaum muda banyak dipengaruhi sistem pendidikan modern dengan pola pembelajaran klasikal dan berjenjang. Adapun kaum tua mempertahankan sistem pendidikan tradisional melalui pengajian berbentuk halaqah yang tidak menggunakan sistem kelas dan jenjang seperti pendidikan modern.

Perbedaan pandangan itu kemudian memunculkan berbagai perdebatan di kalangan masyarakat dan ulama di Sumatera Timur, wilayah yang kini menjadi bagian dari Sumatera Utara.

Sejumlah tokoh muda, di antaranya M. Arsyad Thalib Lubis, H. Abdullah Abbas, Ismail Banda, dan Abdul Karim Hasmi, yang berguru kepada Syekh Hasan Maksum, Mufti Kesultanan Deli, aktif dalam perdebatan tersebut. Mereka kemudian membentuk komunitas yang dikenal sebagai debating club.

Forum itu menjadi ruang bagi kalangan muda untuk mendiskusikan berbagai persoalan, termasuk sistem pendidikan Islam.

“Di situ ada perdebatan tentang sistem pendidikan, apakah sudah bagus kita mengikuti sistem berjenjang, pakai kelas dan sebagainya, atau tetap dengan tradisi lama,” ujar Saifuddin.

Dari dinamika tersebut, kata dia, Al Jam’iyatul Washliyah kemudian lahir dan dimotori oleh kalangan muda. Organisasi itu berupaya menjembatani pemikiran kaum muda dan kaum tua sehingga perbedaan pandangan tidak berkembang menjadi perpecahan.

Karena itu, Saifuddin menilai pemahaman sejarah penting agar kader tidak sekadar mengenal Al Washliyah secara organisatoris, tetapi juga memahami identitas dan misi yang melekat pada organisasi tersebut.

Memaknai Al Washliyah sebagai Perekat

Saifuddin juga menjelaskan makna nama Al Jam’iyatul Washliyah. Menurut dia, Al-Jam’iyyah berkaitan dengan aktivitas menghimpun, menyatukan, dan membaurkan, sedangkan Al-Washliyah bermakna menghubungkan atau mengintegrasikan.

“Al-Jam’iyyah itu menggabungkan, mempersatukan, membaurkan, meleburkan, kalau Al-Washliyah itu menghubungkan, mengintegrasikan,” katanya.

Dari makna tersebut, Saifuddin melihat Al Washliyah memiliki karakter sebagai organisasi yang menjembatani kelompok-kelompok dengan latar belakang berbeda.

“Al Washliyah itu adalah ormas penengah, ormas pemersatu, ormas perekat,” ujarnya.

Menurut dia, karakter tersebut tetap relevan dengan kondisi Indonesia saat ini. Perbedaan dalam persoalan keagamaan, pandangan, maupun kehidupan sosial perlu dikelola melalui dialog dan kebersamaan agar tidak berkembang menjadi persoalan yang memecah persatuan.

Karena itu, ia mendorong kader Al Washliyah memiliki kepercayaan diri terhadap identitas organisasi sekaligus mampu menjalankan semangat persatuan yang menjadi bagian dari sejarah kelahirannya.

“Bangsa Indonesia ini hari ini membutuhkan Al-Jam’iyatul Washliyah,” kata dia.

Ia mengatakan peran sebagai jembatan tidak berarti menghapus perbedaan. Sebaliknya, perbedaan perlu dikelola melalui dialog, kebersamaan, dan semangat persatuan.

Program Prioritas Tak Muluk-muluk

Saifuddin mengatakan program prioritas jangka panjang Al Washliyah masih dalam tahap perumusan. Namun, ia menekankan agar program organisasi tidak terlalu banyak dan dibuat secara realistis.

“Program prioritas itu tidak banyak, tidak muluk-muluk. Karena kadang kalau kebanyakan, nggak ada juga gunanya,” ujar dia.

Menurut Saifuddin, program organisasi harus terukur dan memberikan manfaat nyata. Karena itu, penguatan fondasi internal melalui pendidikan kealwashliyahan akan menjadi perhatian pada tahap awal.

Setelah fondasi internal semakin kuat, Al Washliyah diharapkan dapat menjalankan peran yang lebih luas di tengah masyarakat.

Saifuddin menegaskan pemahaman sejarah organisasi bukan sekadar pengetahuan tentang masa lalu. Sejarah, menurut dia, perlu menjadi dasar bagi kader dalam menjalankan amanah organisasi dan meneruskan semangat persatuan yang menjadi karakter Al Washliyah.

Dengan penguatan tersebut, ia berharap kader dan pengurus memiliki arah perjuangan yang sama serta mampu menjadikan Al Jam’iyatul Washliyah sebagai organisasi yang konsisten menjalankan fungsi menghimpun, menghubungkan, dan menjadi perekat masyarakat Indonesia.[]

Comment