Wabah Kekerasan Seksual Terhadap Anak Bukti Masyarakat Sakit

Opini891 Views

 

Oleh : Luthfiah Jufri, Pemerhati Sosial Asal Polewali

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA–  Belum hilang ingatan terkait kasus kekerasan seksual terhadap 13 santriwati pondok pesantren di Bandung yang sudah berlangsung sejak 2016 dan baru terungkap pada 2021 lalu. Sembilan bayi lahir akibat kekerasan seksual yang dilakukan oleh guru di pesantren tersebut.

Bak gunung es, lagi terjadi setidaknya 21 anak mengaku menjadi korban pencabulan yang dilakukan seorang guru rebana berinisial M di Batang, Jawa Tengah, selama beberapa tahun terakhir. Namun diduga ada banyak korban yang belum terungkap dan belum melapor.(www.bbc.com.9/1/2023)

Berdasarkan data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak selama 2022 hingga 20 September 2022, terdapat 17.150 kasus kekerasan dengan jumlah korban perempuan sebanyak 15.759 orang dan korban laki-laki sebanyak 2.729 orang. Ironisnya berbagai kekerasan terjadi pada anak, baik di ruang publik sekolah bahkan di rumah yang seharusnya menjadi ruang yang sangat aman untuk mereka.(www.metronews.com.20/9/2022)

Harus diakui bahwa ada masalah serius yang menjangkiti mental masyarakat Indonesia, lebih khususnya mereka yang berusia produktif. Intelektualitas pun hilang sekejap akibat nafsu tanpa batas dan kejadian terus berulang seolah tak ada rasa takut dan efek jera bagi pelaku.

Solusi yang diberikan pun seolah tak mampu menyelesaikan dengan memberi sanksi kepada pelaku. Bukan waktunya lagi menyalahkan pelaku kejahatan karena kenyataannya sebagian pelaku adalah mereka yang dipercayakan untuk mendidik anak kita sendiri.

Harus disadari sumber dari permasalahan ini jauh lebih mendasar. Ada persoalan serius pada tata nilai kehidupan masyarakat. Wabah seksualitas yang melanda negeri ini tidak lepas dari dukungan industri hiburan dan media yang secara massif merusak generasi kita, baik itu laki-laki maupun perempuan.

Wabah ini jelas telah menjadikan anak-anak perempuan sebagai objek komoditas seksual dan perlahan tapi pasti telah mengubah mental kaum lelaki menjadi predator seksual. Mengerikan!

Nilai kehidupan masyarakat saat ini adalah nilai liberal yang memandang hubungan laki-laki dan perempuan hanyalah konteks pemuas nafsu sesaat, sehingga akan mengikis mental tanggung jawab dalam memandang hubungan keduanya. Inilah potret masyarakat yang sakit, sesungguhnya adalah buah busuk dari penerapan sekularisme yaitu pemisahan agama dari kehidupan masyarakat, sehingga mereka bebas berbuat apa saja tanpa adanya rasa takut kepada PenciptaNya.

Kapitalisme sebagai kekuatan Barat untuk melumpuhkan vitalitas generasi dan membiarkan mereka mengalami kerusakan peradaban.

Kapitalisme dengan promosi nilai-nilai sekulernya telah mengantarkan anak-anak kita pada gerbang kehancuran. Mereka yang seharusnya menjadi generasi pembangun masa depan, telah binasa masa depannya karena menjadi pelaku sekaligus korban kekerasan seksual.

Benarlah perkataan Imam al Ghazali: “Jika anak dibiasakan berbuat jahat dan dibiarkan begitu saja seperti membiarkan binatang ternak, maka ia akan sengsara dan binasa. Dosanya pun akan dipikul oleh orangtua dan walinya.”

Penguasa saat ini harus menyadari bahwa obat dari wabah penyakit yang menyerang masyarakat saat ini hanyalah Penerapan hukum Islam yang bersumber dari yang Maha benar yaitu Allah SWT. Sejarah gemilang peradaban Islam terbukti telah menjamin kehormatan anak-anak penerus bangsa dan negeri ini.

Islam akan menjaga dan menjamin tumbuh kembangnya generasi emas yang kuat, produktif, dan bertaqwa. Islam jelas menolak nilai-nilai liberal atau aturan yang bukan berasal dari islam itu sendiri.

Islam akan fokus membina generasi khususnya laki-laki menjadi calon pemimpin, pelindung kaum perempuan, disaat yang sama Islam akan menempatkan perempuan sesuai fitrahnya, yang terjaga kehormatannya dan menutup auratnya serta terjamin perwaliannya. Wa’allahu’alambiishowab.[]

Comment