Penulis: Furqon Bunyamin Husein| Pemred Radar Indonesia News
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Dalam kehidupan ini, semua orang pasti pernah gagal. Ada yang gagal dalam ujian, gagal dalam bisnis, gagal dalam hubungan, bahkan gagal menjaga semangat hidup. Tapi seperti kata bijak Konfusius, “Kehebatan seseorang tidak diukur dari seberapa sering ia menang, melainkan dari keberaniannya untuk bangkit setiap kali ia jatuh.”
Kalimat ini bukan sekadar motivasi kosong. Ia mengandung pelajaran penting tentang ketangguhan, pembelajaran, dan keberanian untuk melanjutkan hidup. Menang itu hebat, tetapi bangkit setelah kalah adalah tanda jiwa yang kuat. Bagaimana kita menilai ungkapan filsuf ini?
Gagal Itu Manusiawi
Kita hidup di dunia yang serba cepat dan penuh tuntutan. Di tengah tekanan itu, kegagalan seringkali dianggap aib atau kelemahan. Padahal sejatinya, gagal adalah bagian dari proses menuju kematangan. Justru melalui kegagalan, kita belajar mengenali batas, memperbaiki strategi, dan menemukan kekuatan tersembunyi dalam diri.
Thomas Edison pernah berkata, “Saya tidak gagal. Saya hanya menemukan 10.000 cara yang tidak berhasil.” Begitu juga kita — selama terus mencoba, kita belum benar-benar gagal.
Bangkit Butuh Keberanian
Bangkit bukan perkara mudah. Kadang rasa malu, takut dihakimi, dan kecewa terhadap diri sendiri menjadi penghalang terbesar. Namun, justru di situlah letak kekuatan sejati seseorang. Keberanian untuk melangkah lagi meski disakiti kegagalan, itulah bentuk kemenangan yang sesungguhnya.
Kita tidak perlu menjadi sempurna untuk dianggap hebat. Kita hanya perlu tidak menyerah. Dalam semangat Islam, kita diingatkan oleh Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu yang pernah berkata:
“Jangan biarkan dirimu terjatuh dalam satu kesalahan dua kali. Orang cerdas adalah yang belajar dari pengalaman, bukan yang jatuh berulang-ulang tanpa perbaikan.”
Belajar Melihat dari Segala Arah
Agar kegagalan tidak berulang, kita tak cukup hanya bangkit — tapi juga harus belajar dengan cara pandang yang lebih luas. Seperti yang ditegaskan Michael Michalko, penulis buku Thinkertoys, kita harus melatih diri untuk melihat persoalan dari berbagai arah agar bisa memahaminya secara menyeluruh.
Dalam dunia kreativitas dan pemecahan masalah, Michalko menekankan pentingnya berpikir tidak linier, keluar dari kebiasaan (out of the box), dan melatih otak untuk mengembangkan lebih banyak sudut pandang.
Bangkit saja tidak cukup. Perlu evaluasi, mengubah peta dan strategi, dan melihat persoalan dari sudut pandang yang luas tanpa batas. Dengan begitu, kita bisa mendefinisikan masalah dengan tepat dan menghindari kesalahan yang sama untuk kali kedua. Prinsip ini sejalan dengan nasihat Imam Al-Ghazali rahimahullah yang berkata:
“Barang siapa tidak belajar dari masa lalunya, maka ia tidak akan pernah menjadi bijaksana dalam menghadapi masa depan.”
Kegagalan sejatinya membuat kita lebih tajam berpikir dan lebih jernih dalam bertindak. Gagal pada langkah pertama itu normal tapi bukan untuk langkah berikutnya. Perlu waktu berpikir untuk menganalisa dan melakukan studi komparasi antara langkah dan strategi yang membuat gagal dengan strategi baru yang rasional dengan seluruh pirantinya
Bangkit dengan Pelajaran
Bangkit bukan sekadar berdiri, tapi bangun dengan pelajaran dan konsep baru; boleh juga dengan meramu konsep lama menjadi konsep baru dengan komposisi ide dan gagasan yang belum ada sebelumnya. Evaluasi, perbaiki, dan bergerak dengan arah yang lebih bijak. Gagal sekali bukan berarti kita salah jalan — bisa jadi kita hanya perlu mengubah cara menempuhnya.
Sukses bukan milik mereka yang tak pernah jatuh, tapi milik mereka yang selalu mau bangkit, belajar, dan berjuang kembali. Akui kesalahan dan perbaiki agar tidak terjebak dengan kepentingan jangka pendek.
Langkah praktis untuk Bangkit dan Tidak Terjatuh Lagi
Bangkit dari kegagalan butuh bukan hanya semangat, tapi juga strategi dan lingkungan yang mendukung. Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan agar proses bangkit tidak sia-sia:
1. Jauhi Orang yang Suka Meremehkan
Lingkungan sangat berpengaruh. Jika kita terus dikelilingi oleh orang yang hanya mencibir, meremehkan usaha kita, atau memadamkan semangat, maka semangat untuk bangkit pun bisa luntur. Carilah teman seperjalanan yang mendorong, bukan menarik mundur.
2. Hindari Orang yang Tidak Punya Visi Hidup
Bergaul dengan orang yang tidak punya arah bisa menyesatkan langkah kita. Pilih teman atau komunitas yang punya visi dan semangat berkembang agar kita ikut terdorong maju.
3. Evaluasi Diri dengan Jujur
Tanyakan pada diri sendiri: Apa yang salah? Apa yang bisa diperbaiki? Jangan menyalahkan keadaan terus-menerus. Keberanian untuk mengakui kesalahan adalah kunci awal untuk berubah. Perlu sebuah analisa SWOT terhadap cara pandang dan strategi yang sudah dijalani.
4. Tetapkan Tujuan Baru yang Lebih Realistis
Kadang kita gagal karena target terlalu tinggi atau kabur. Setelah gagal, tetapkan ulang tujuan hidup dengan lebih jelas, lebih realistis, dan bertahap.
5. Bangun Kebiasaan Positif Kecil
Perubahan besar dimulai dari langkah kecil. Misalnya: tidur teratur, disiplin waktu, baca buku motivasi minimal satu jam sehari, atau memperbaiki cara komunikasi. Semua ini memberi energi baru dalam proses bangkit.
6. Dekatkan Diri kepada Allah
Doa, shalat tahajud, dan memperbanyak istighfar menjadi kekuatan spiritual luar biasa. Saat hati terhubung dengan Sang Pencipta, kita tidak mudah goyah.
7. Cari Mentor atau Role Model
Belajar dari orang yang pernah gagal tapi berhasil bangkit. Dengarkan kisah perjuangan mereka, ambil pelajaran, dan jadikan inspirasi untuk melangkah lebih cerdas.
8. Tegaskan Komitmen: Jangan Gagal dengan Kesalahan yang Sama
Gunakan catatan kegagalan masa lalu sebagai peta peringatan. Jangan biarkan diri terjatuh di titik yang sama.
Karena orang bijak belajar dari pengalaman, sementara orang bodoh mengulang kesalahan yang sama.
Jangan Jatuh di Lubang yang Sama
Di dunia yang sering mengukur pencapaian dari angka dan penghargaan, kita perlu mengingat bahwa nilai sejati seseorang ada pada keberanian untuk terus bangkit. Tidak semua orang punya nasib yang sama, tapi semua orang punya kesempatan untuk memilih — menyerah atau terus melangkah.
Namun, jangan lupa bahwa bangkit saja tidak cukup. Harus disertai refleksi dan perubahan nyata. Sebab seperti pepatah mengatakan, “Bahkan keledai yang bodoh pun tidak akan jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya.”
Jangan biarkan diri kita lebih bodoh dari seekor keledai. Gagal boleh, tapi jatuh di tempat yang sama tanpa belajar adalah pilihan yang keliru. Maka, bangkitlah — tapi bangkit yang penuh pelajaran, arah, dan perubahan.[]









Comment