Ada Apa dengan Generasi Sandwich ?

Opini1412 Views

 

Oleh : Emmy Emmalya, Analis Mutiara Umat Institute

__________

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Akhir-akhir ini muncul kembali diskusi terkait istilah Generasi Sandwich setelah surat kabar harian kompas tanggal 8 september 2022 mengangkat sebuah survei terkait fenomena generasi sandwich yang mendominasi penduduk Indonesia.

Berdasarkan survei yang dilakukan kompas, 8 september 2022 itu ditemukan sekitar 56 juta generasi sandwich di Indonesia. Proporsi terbesar dalam generasi ini adalah pertama, generasi gen Y (24 -30 tahun), kedua, generasi gen x (40 – 55 tahun) dan ketiga, generasi gen Z (kurang dari 24 tahun).

Istilah generasi sandwich sendiri sebenarnya sudah pernah diperkenalkan oleh seorang profesor yang berasal dari Amerika sejak tahun 1981. Menurutnya generasi sandwich adalah generasi yang terjepit oleh beban ekonomi (finansial) yang luar biasa.

Atau dengan kata lain, generasi sandwich adalah generasi yang menanggung beban tiga generasi sekaligus yaitu generasi orangtuanya, dirinya dan anak-anaknya dalam hal finansial.

Seorang sosiolog dari Universitas Islam Negeri Jakarta, Tantan Hermansah juga
menyampaikan terkait generasi sandwich ini, dia menyatakan bahwa generasi sandwich ini berkaitan dengan frustasi sosial, apalagi kondisi generasi sandwich di Indonesia yang kebanyakan memiliki pendapatan rendah.

Mereka dipaksa untuk bekerja tanpa pernah mencapai tingkat kesejahteraan yang memadai. Penghasilan mereka habis untuk memenuhi kebutuhan keluarganya dan keluarga besarnya. Mereka tidak punya ruang untuk menabung atau rekreasi untuk sekadar lari dari kepenatan hidup.

Pada saat yang sama mereka disuguhkan dengan pameran kemewahan di media sosial yang selalu merangsang untuk memenuhi kesenangan materi.

Walhasil generasi sandwich di Indonesia menjadi terbebani secara finansial karena harus membiayai hidup generasi sebelumnya, dirinya dan keturunannya.

Penyebab Munculnya Generasi Sandwich

Generasi sandwich sendiri tidak tiba-tiba muncul begitu saja tapi ada yang menjadi penyebabnya. Menurut Direktur Muslimah Negarawan, DR. Fika Komara, setidaknya ada dua penyebabnya yaitu :

Pertama, tata nilai (sistem nilai). Kehidupan saat ini selalu dilekatkan dan dinilai dengan materi. Sebagai contoh, orang yang sekarang sudah bekerja keras tapi gajinya tidak pernah naik tapi suguhan di media sosial selalu memamerkan gaya hidup yang membuat mereka menilai bahwa dirinya telah gagal dan tidak pernah mencapai kesuksesan.

kedua, terkait dengan sistem. Sistem yang diterapkan oleh negara hendaknya berperan sebagai pihak yang melindungi rakyatnya. Menyaksikan sistem ekonomi makro saat ini, terlihat bahwa politik ekonomi kapitalis telah memberikan kehidupan yang sempit, fakta ini kita saksikan saat ini dimana rakyat banyak yang tidak terpenuhi kebutuhan hidupnya dan negara bersikap abai terhadapnya.

Generasi sandwich itu juga merupakan potret produk bangunan dari sistem kapitalis yang menghasilkan manusia yang terjepit dalam kehidupan yang sempit, cinta dunia, jiwa yang kerdil dan akhirnya dihantui oleh penyakit-penyakit mental.

Oleh karena itu, kedua hal tersebut harus dikembalikan kepada cara pandang yang benar berupa sistem yang bisa mengurai kesempitan yang diderita oleh umat manusia termasuk generasi sandwich ini.

Sistem Islam Memiliki Tata Nilai yang Benar

Seorang muslim, ketika berbicara sebuah nilai sudah seharusnya kembali pada nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an. Begitu pula ketika menilai sesuatu dalam kehidupan tidak selalu dikaitkan dengan materi saja tapi ada nilai ruhiyah dimana manusia harus senantiasa mengkaitkan seluruh perbuatannya dengan hukum syariat.

Apabila berpaling dari nilai-nilai yang telah disyariatkan oleh Allah maka penghidupan yang sempit akan menjadi konsekuensinya sebagaimana firman Allah dalam surat Thoha ayat 124 berikut :

وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِ نَّ لَـهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى

“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta,”

Dalam surat ini Allah menggambarkan bahwa orang yang berpaling dari nilai-nilai Islam akan dibangkitkan dalam keadaan buta dan di dunia dia akan memperoleh kehidupan yang sempit.

Maka, jika manusia tidak ingin mendapatkan penghidupan yang sempit, manusia harus kembali pada syariat Allah bukan menjadikan materi sebagai tujuan hidup. Memang hidup butuh materi tapi bukan berarti materi di atas segalanya.

Begitupula, terkait pemenuhan kebutuhan manusia, syariat Islam telah mewajibkan negara untuk memenuhinya tanpa kecuali, sebagaimana digambarkan dalam kitab Ekonomi Islam karya Syekh Taqiyuddin An-nabhani bahwa jaminan kebutuhan pokok rakyat harus dilihat secara individu per-individu.

Negara berkewajiban memastikan pemenuhan pokok hingga tidak ditemukan lagi warga negaranya yang kelaparan karena buruknya distribusi.
Dengan demikian, Islam menempatkan sesuatu sesuai dengan peruntukkannya.

Generasi sandwich yang sekarang digambarkan sebagai generasi yang dibebankan secara materi untuk menanggung 3 generasi tidak akan pernah ada dalam sistem Islam karena yang memiliki kewajiban memenuhi kebutuhan rakyat adalah negara.

Begitupula negara akan mengaruskan kepada generasi muda terutama para pemuda agar berusaha dan bekerja bukan semata demi mendapat materi saja tapi ada nilai ruhiyah bahwa mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya adalah sebuah kewajiban bagi seorang laki-laki dan bernilai pahala di sisi Allah.

Demikianlah Islam sebagai solusi terhadap setiap permasalahan manusia dengan jalan keluar yang tepat.[]

Comment