Oleh: Adzkia Tharra, Aktivis Muslimah
__________
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Keberadaan geng motor sepertinya sudah menjamur di setiap daerah di Indonesia. Beberapa waktu lalu, kita di hebohkan dengan kabar adanya geng motor yang meresahkan warga. Di Cibinong, Kabupaten Bogor, seorang pemuda berisinial LA (21) mengalami luka bacok usai diserang sekelompok orang tidak dikenal yang melintas menggunakan sepeda motor.
Kapolsek Cibinong, Kompol Adhimas Sriyono Putra mengatakan, peristiwa penyerangan itu terjadi sekitar pukul 02.00 dini hari tadi. Ketika itu korban diketahui sedang nongkrong bersama teman-temannya.
“Ada rombongan anak muda sekitar 20 orang melintas menggunakan motor,” ujar Adhimas dalam keterangannya seperti dikutip sindonews.com, Sabtu (11/2/2023).
Tiba-tiba, rombongan motor tersebut berbalik arah dan menyerang kea rah korban beserta teman-temannya. Alhasil, korban mengalami luka bacokan senjata tajam di bagian kepala dan punggung.
Di wilayah lain juga terjadi aksi yang serupa, kawanan geng motor menyerang salah satu apartemen di kawasan Jakarta Selatan pada pukul 02.32 WIB. Aksi mereka terekam oleh kamera Closed Circuit Television (CCTV), sebagaimana ditulis rgb.id, Sabtu (4/2/2023).
Peristiwa yang sama juga terjadi pada seorang mahasiswa di Cimahi, Jawa Barat. Mahasiswa tersebut dibacok oleh dua orang anggota geng motor saat berada di jalan Pesantren.
Maraknya kembali geng motor meresahkan masyarakat. Banyaknya aksi yang menimbulkan keonaran membuat masyarakat merasa tidak aman dengan keberadaan geng motor.
Kondisi ini menjadi cermin banyak hal, di antaranya gagalnya sistem pendidikan dalam mengarahkan kepribadian generasi dan mengekspresikan eksistensi dengan cara yang benar. Demikian juga rendahnya jaminan keamanan oleh negara dan ketegasan aparat dalam menjaga keamanan warga.
Fenomena geng motor menunjukkan indikasi adanya problem infeksi keimanan pemuda yang sudah kronis. Pendidikan ala sekuler kapitalis telah menyebar virus yang melumpuhkan syaraf tauhid sehingga hidup sebatas menurutkan keinginan tanpa berpikir dampaknya untuk jangka panjang.
Rasulullah saw. bersabda ,”Tiga perkara yang membinasakan : (1) kekikiran yang ditaati, (2) hawa nafsu yang diikuti, (3) seseorang merasa ujub dengan dirinya.” (HR. Thabrani).
Setiap manusia memiliki gharizah baqo atau naluri yang ternampakkan dalam bentuk kebutuhan pengakuan terhadap eksistensi diri. Karena pada dasarnya manusia merasa senang ketika dihargai, dihormati dan dipuji atas apa yang dilakukan. Dengan naluri ini juga seseorang memiliki daya untuk mempertahankan hidup.
Islam mengatur bagaimana naluri ini terpenuhi dengan benar dalam kendali dan kontrol agama. Dalam kacamata Islam, kecintaan kepada Allah akan menuntun seseorang bagaimana memenuhi gharizah baqo sesuai kaidah syara’, bukan didasarkan pada perasaan atau menurutkan nafsu.
Dengan memahami hakekat hidup, manusia akan mengerti tujuan penciptaan dan akan ke mana setelah kehidupan di dunia ini. Kepuasan diri bukan tujuan utama dan tidak ada pembelaaan fanatik terhadap seseorang atau kelompok kecuali memihak pada kebenaran. Mencintai orang lain hanya karena Allah dengan menjaga tetap dalam ketaatan kepada Allah SWT.
Dalam kapitalisme sekuler, pemenuhan gharizah baqo dibiarkan secara bebas. Tidak menggunakan pertimbangan halal atau haram. Hal terpenting adalah kesenangan dan bisa berekspresi. Makin parah ketika sudah melanggar hak orang lain seperti membegal atau membunuh agar diakui kehebatannya.
Pemuda yang pemikirannya mengakar pada akidah sekuler menjadi sosok tidak memiliki konsep kokoh. Mereka ibarat layang-layang yang mudah putus lalu tertiup ke mana arah angin berhembus. Memiliki split personality, di satu sisi mengaku beriman tetapi di sisi lain menolak diatur oleh Allah.
Di sinilah pentingnya pendidikan baik dalam lingkungan rumah maupun sekolah untuk membentuk pemuda yang memiliki kontrol terhadap ucapan dan perbuatannya. Sosok dengan pola pikir dan nafsiyah yang harus sejalan dengan tujuan hidup meraih ridlo Allah SWT.
Persoalan geng motor menjadi bahan evaluasi bagi semua pihak yaitu orangtua dan para pemangku kebijakan terutama yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan proses pendidikan. Koreksi tidak hanya pada sisi penerapan tehnis tetapi sampai pada filosofi.
Islam memberikan proteksi pada pemuda dari semua sisi. Termasuk panduan cara pemenuhan semua gharizah dan pencegahan setiap peluang yang dapat merusak fitrah tersebut. Hal ini untuk memenuhi perintah Allah dalam surah Al Baqoroh ayat 208:
”Wahai orang-orang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara kaffah…” Artinya sistem Islam diterapkan melalui sistem politik, ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan pergaulan.
Sistem politiknya menerapkan syariat Islam dalam semua urusan rakyat. Akidah Islam ditetapkan sebagai asas sistem pendidikan untuk menancapkan kecintaan pada Allah dan Rasul-Nya sebagai prioritas utama. Dengan demikian lahirlah pemuda dengan visi dan misi kebermanfaatan bagi umat. Mereka menyibukkan diri agar menjadi terbaik terutama dalam peran dakwah sebagai orbit dalam semua aktivitas. Dakwah merupakan aktivitas yang dapat melanjutkan kehidupan Islam.
Dengan sistem ekonomi Islam, negara menjamin pemenuhan pangan, kesehatan dan keamanan. Bagi kalangan miskin, ada jaminan konsumsi kebutuhan pokok. Sementara kalangan kelas menengah ke atas diajak bergaya hidup berkah. Mereka dianjurkan berlomba untuk bersedekah dan wakaf sebagai pahala jariyah.
Sanksi diberikan tegas pada siapapun yang menganggu hak umum seperti membuat keonaran. Tempat-tempat yang berpotensi menimbulkan kemaksiatan segera ditertibkan dan pelakunya dikenai sanksi.
Di era khalifah Umar bin Khattab, peminum khamr disanksi qital jika meyakini khamr halal. Jika masih meyakini khamr haram, dikenai hukuman ta’zir.
Media termasuk media eletronik digunakan sebagai alat untuk meluaskan syiar Islam. Konten-konten yang merusak seperti pornografi atau gaya hidup liberal dan hedonis, tidak akan diberi ruang. Publik harus bersih dari segala yang dapat melalaikan.
Melalui penerapan Islam kaffah, generasi muda ibarat bibit yang terus dijaga, dirawat hingga tumbuh menjadi pohon kuat sebagaimana yang Allah gambarkan dalam surah Ibrahim ayat 24-25:
“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.”
Hanya dalam naungan Islam, generasi sebagaimana Allah gambarkan ITU dapat terwujud. Di mana pola pikir dan pola sikapnya distandarisasi oleh kaidah Islam. Kaidah berpikir dan berbuatnya benar sehingga menjadi pribadi yang berintegritas. Wallahualam bisshawab.[]














Comment