Alfira Khairunnisa: Menyoal Kemiskinan Dan Kesenjangan Sosial

Berita840 Views
Alfira Khairunnisa
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – “Kami tidur di atas emas, berenang di atas minyak, tapi bukan kami punya. Kami hanya menjual buah-buah pinang.”
Inilah sepenggal lirik lagu penyanyi Edo Kondolangit yang menggambarkan rintihan pilu hati rakyat Papua. Ya, sungguh miris nasib Indonesia kini, problematika umat kian mendera setiap lini kehidupan, dengan seabrek persoalan yang seakan tiada henti menghampiri dan tak jua terselesaikan. Kemiskinan dan kesenjangan sosial masih menjadi fenomena tersendiri tanpa bisa dihindari. 
Indonesia yang kaya belum jua dapat mensejahterakan rakyatnya, kemiskinan pun semakin merajalela, tindak kriminal makin melejit seiring dengan kondisi rakyat yang kian sempit. Mencari nafkah bukan persoalan yang mudah, hingga tak jarang akhirnya halalkan segala cara demi memenuhi kebutuhan keluarga.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan angka kemiskinan saat ini berada di angka 9,82%. Menurut data BPS, jumlah penduduk miskin Indonesia per Maret 2018 adalah 25,95 juta orang. Angka ini bukanlah angka yang sedikit, angka yang cukup fantastis. Betapa masih sangat banyak rakyat yang belum tersejahterakan, bahkan hidup di bawah garis kemiskinan.
Menurut laporan tahunan Global Wealth Report 2016, Indonesia menempati negara keempat dengan kesenjangan sosial tertinggi di dunia. Diperkirakan satu persen orang kaya di Tanah Air menguasai 49 persen total kekayaan nasional (Media Umat, 29/07/2018).
Indonesia yang bergelar “Zamrud di Khatulistiwa” tak bisa membuat penduduknya sejahtera. Justru sebahagian besar penduduknya menderita karna hidup dibawah garis kemiskinan. Hal ini menunjukkan bahwa penguasa belum berhasil dalam pengentasan kemiskinan.
Di Papua saja misalnya, sekitar 20,5% dari 46.600 penduduk pada 2016 hidup di bawah garis kemiskinan dan memiliki akses rendah terhadap pendidikan, layanan kesehatan, dan pasar. Bahkan kebanyakan orang di sana menyebut pendidikan sebagai “barang mewah”, dan hanya sekolah sampai lulus sekolah dasar saja. Hal ini terjadi di Papua belum di daerah-daerah dan tempat yang lain. Sungguh ironis bukan?
Kapitalisme Biang Persoalan
Kemiskinan bukanlah hal yang langka. Derita penduduk miskin Indonesia kian membuat hati dan nestapa. Kemiskinan dan kesenjangan sosial sudah menjadi pemandangan yang biasa di Negeri yang hidup dalam sistem kapitalisme ini. Sistem yang tak bisa diharapkan membawa kesejahteraan bagi rakyat dan seluruh umat manusia. Kapitalisme tidak akan pernah membawa rakyat kepada bahagia. Karna hanya akan membuat sengsara.
Kapitalisme justru menjadi jalan penguasaan kekayaan oleh segelintir orang saja. Lihatlah bagaimana keadaan rakyat Indonesia yang sebahagian besar masih hidup dibawah garis kemiskinan, sementara para kapitalis sibuk dengan urusan memperkaya dirinya masing-masing. Begitulah sistem kapitalis, yang dinilai gagal mengatasi gap sosial dan kemiskinan.
Islam Solusi Tuntas Atasi Kemiskinan
Kemiskinan yang menimpa masyarakat saat ini lebih merupakan kemiskinan yang bersifat struktural atau sistemik, yaitu kemiskinan yang diciptakan oleh sistem yang diberlakukan oleh negara/penguasa, yaitu sistem kapitalisme-liberalisme-sekularisme. Sistem inilah yang telah membuat kekayaan milik rakyat dikuasai dan dinikmati oleh segelintir orang. Di negeri ini telah lama terjadi privatisasi sektor publik seperti pertambangan gas, jalan tol, air, minyak bumi dan mineral. Akibatnya, jutaan rakyat terhalang untuk menikmati hak mereka atas sumber-sumber kekayaan tersebut yang sejatinya adalah milik mereka. 
Kekayaan alam yang ada adalah bagian dari kepemilikan umum. Kepemilikan umum ini haruslah dikelola oleh Negara. Kemudian hasilnya diserahkan untuk kesejahteraan rakyat secara umum. Sebaliknya, maka harusnya tidaklah menyerahkan pengelolaan kepemilikan umum kepada individu, swasta apalagi asing.
Di antara pedoman dalam pengelolaan kepemilikan umum antara lain merujuk pada sabda Rasulullah saw: “Kaum Muslimin berserikat (memiliki hak yang sama) dalam tiga hal: air, rumput dan api (HR Ibnu Majah).
Sistem Islam satu-satunya sistem yang menjamin kesejahteraan bagi semua masyarakat. Karena itu sudah saatnya Indonesia mencampakkan sistem selain Islam yang telah terbukti mendatangkan berbagai problematika dan musibah ditengah-tengah masyarakat. Sudah saatnya Indonesia kembali pada syariah Islam yang berasal dari Allah SWT. Karna hanya syariah-Nya yang bisa menjamin keberkahan hidup manusia. Syariah akan menjadi rahmat bagi mereka (Lihat: QS al-Anbiya’ 107).
Jika penduduk negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami membuka untuk mereka pintu keberkahan dari langit dan bumi (TQS al-A’raf : 96).[]

Comment