Ana Nazahah: Tahun Baru, Saatnya Move On

Berita776 Views
Ana Nazahah
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Siapa sih yang ga kepengen hidup lebih baik. Rezeki baik dari pekerjaan yang baik. jodoh yang baik. keluarganya dianugerahi anak-anak yang Soleh dan soleha. Semua orang pasti menginginkannya. 
Terlebih jika sedang patah hati. Cari pekerjaan susah. Jodoh ga kunjung tiba. Pernikahan sudah menua usia, tapi momongan tak kunjung hadir menghiasi. Kehidupan dari hari ke hari semakin pelik.  Hidup susah, lahir dan batin. Siapa yang ingin terus  dirantai oleh masalah? Tentunya kita ingin berubah.
Tahun baru, adalah moment yang tepat untuk melakukan perubahan. Tentunya, dengan menetapkan berbagai resolusi. Karena perubahan itu diawali dari rencana. Bukan tiba-tiba berubah sendiri. 
Sejauh ini tidak ada orang berubah lebih baik atau lebih jahat tanpa keputusan-keputusan masa lalunya yang mempengaruhi hari ini. Ya manusialah yang lebih dulu, merencanakan nilai perubahan apa yang harus dia tentukan di tahun ini.

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (ar-Ra’d : 11)
Perubahan tanpa perencaan adalah nihil. Nol besar. Kita tidak akan mendapat apa-apa kecuali menuai kegagalan kembali. Karena sudah sifat manusia, mengulang kebiasaan yang kerap dia lakukan setiap hari. Jika kebiasaannya adalah mengeluh dalam setiap  situasi, maka bisa dipastikan,, apapun yang menimpa hidupnya ditahun-tahun berganti akan  tetap sama. Apalagi jika tanpa perencanaan itu sendiri. Maka bisa jadi kebiasaan mengeluhnya akan semakin lebih parah lagi.
Karena itu, seseorang yang ingin berubah, selalu dituntut untuk bisa berdamai dengan masa lalunya. Yang terjadi biarlah berlalu. Anggap sebagai pelajaran dan ambil sisi positifnya. Orang yang menerima apapun kondisinya, sembari terus memperbaiki diri dengan penuh perencanaan. Maka dia akan meraih kebahagian meski kadang yang diharapkannya tak kunjung datang. 
Katakan saja soal jodoh. Jika seseorang terus berusaha, menjadi yang terbaik, setelah berdamai dengan setiap  kondisi. Dia terus berusaha untuk bisa meraih cita-citanya, untuk bisa menikah tahun ini. Namun Allah berkata lain, masih inginkan dia hidup sendiri. Maka dia takkan bersedih, toh dia sudah berusaha, biar Allah yang tentukan hasilnya. Inilah bentuk perubahan yang hakiki.
Karena, perubahan itu bukan selamanya tentang apa yang kita inginkan. Tapi bagaimana kita bisa menyikapi hari ini. Orang-orang yang menyerah akan Rahmat Tuhan itu adalah orang-orang yang minim usaha. Semetara orang-orang yang bertekad baja untuk meraih cita-cita, kegagalan tidak membuat mereka bersedih hati. 
Toh, mereka sudah berusaha menjadi terbaik. Apa yang disesalkan? Selain keyakinan telah tertanam di hatinya. Bahwa Allah tidak pernah menyia-nyiakan usaha hambanya. Setiap jerih payahnya akan selalu bernilai pahala. Dalam hidup, bukankah itu yang ingin kita cari?
Selain berfikir positif, bahwa Allah hanya memberikan yang terbaik untuk diri.

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).[]

Penulis adalah anggota Revowriter, Aceh

Comment