Anak-anak yang Kehilangan Rasa Aman

Opini64 Views

Penulis: Asri Wahyuni Achmad, S.Kom | Aktivis Muslimah

 

RADARINDONESIANEWS. COM, JAKARTA– Belakangan ini, publik terus disuguhi berbagai berita tentang kekerasan terhadap anak. Belum usai masyarakat membicarakan satu kasus, muncul lagi kasus lain dengan bentuk yang berbeda.

Ada anak yang menjadi korban pelecehan seksual, kekerasan fisik, penelantaran, perundungan, hingga terjerumus ke dalam judi online sejak usia dini.

Hal yang paling memilukan, banyak peristiwa itu justru terjadi di tempat yang semestinya menjadi ruang paling aman bagi anak: rumah mereka sendiri.

Sebagaimana dilansir KPAI (2026), selama Januari hingga April 2026 tercatat ratusan laporan kasus perlindungan anak. Angka tersebut tentu bukan sekadar data statistik. Di balik setiap laporan, ada anak-anak yang tumbuh dengan luka batin, ketakutan, dan trauma yang mungkin membekas sepanjang hidup mereka.

Situasi ini semestinya membuat kita bertanya: apa sebenarnya yang sedang terjadi dengan negeri ini? Mengapa anak-anak semakin sulit mendapatkan rasa aman dalam kehidupannya?

Selama ini, kekerasan terhadap anak kerap dipandang hanya sebagai akibat lemahnya pengawasan orang tua atau minimnya edukasi. Padahal, jika dicermati lebih mendalam, kerusakan yang terjadi hari ini tidak berdiri sendiri. Ada sistem kehidupan yang turut membentuk cara manusia berpikir dan bersikap terhadap anak.

Kita hidup dalam sistem yang memisahkan agama dari kehidupan. Nilai-nilai agama sering kali hanya ditempatkan di ruang ibadah, sementara kehidupan sehari-hari berjalan berdasarkan ukuran materi dan kepentingan duniawi. Akibatnya, banyak orang kehilangan arah dalam menjalankan peran sebagai orang tua.

Tidak sedikit yang akhirnya memandang anak sekadar sebagai tanggungan hidup. Ketika tekanan ekonomi datang, emosi mudah tersulut. Saat kehidupan terasa semakin berat, anak sering menjadi pihak paling lemah yang menerima dampaknya. Rumah yang seharusnya menghadirkan ketenangan justru berubah menjadi tempat lahirnya rasa takut.

Di sisi lain, tekanan ekonomi memang semakin nyata. Harga kebutuhan pokok terus meningkat, lapangan kerja semakin sulit, dan biaya hidup makin tinggi. Banyak keluarga hidup dalam kondisi serba terdesak.

Ayah dan ibu sama-sama lelah mengejar kebutuhan hidup, sementara waktu bersama anak semakin berkurang. Dalam situasi seperti itu, hubungan dalam keluarga menjadi rentan mengalami keretakan.

Belum selesai persoalan di rumah, anak-anak juga menghadapi ancaman besar di dunia digital. Konten kekerasan, pornografi, perjudian online, hingga berbagai penyimpangan lain begitu mudah masuk ke ruang pribadi mereka.

Ironisnya, semua itu berjalan nyaris tanpa kendali. Negara lebih sering hadir setelah kerusakan terjadi, bukan mencegah sejak awal.

Sungguh, persoalan ini tidak akan selesai hanya dengan imbauan moral atau program sesaat. Akar masalahnya jauh lebih mendalam karena menyangkut cara hidup yang dibangun hari ini.

Islam memandang anak sebagai amanah, bukan beban. Anak adalah titipan Allah yang wajib dijaga, dididik, dan diperlakukan dengan penuh kasih sayang. Karena itu, Islam menempatkan aqidah sebagai fondasi dalam keluarga.

Ketika orang tua memiliki keimanan yang kuat, mereka akan memahami bahwa mendidik anak bukan sekadar kewajiban sosial, melainkan tanggung jawab di hadapan Allah SWT.

Islam juga tidak membiarkan keluarga berjuang sendirian menghadapi tekanan hidup. Negara memiliki tanggung jawab untuk menjamin kebutuhan dasar rakyat agar keluarga dapat hidup layak dan menjalankan fungsi pengasuhan dengan baik. Sebab, keluarga yang terus dihimpit kesulitan akan lebih mudah mengalami keretakan.

Selain itu, Islam memandang negara sebagai pelindung masyarakat. Negara tidak boleh membiarkan media dan ruang digital dipenuhi hal-hal yang merusak generasi. Segala bentuk konten yang membahayakan anak harus dicegah sejak awal, bukan dibiarkan berkembang demi keuntungan industri semata.

Dalam Islam, pelaku kekerasan terhadap anak juga akan diberikan sanksi yang tegas sehingga menimbulkan efek jera. Hukum tidak hanya menjadi formalitas, tetapi benar-benar berfungsi menjaga masyarakat dari kejahatan yang berulang.

Anak-anak hari ini sejatinya sedang mengirim pesan kepada kita bahwa mereka membutuhkan perlindungan yang nyata, bukan sekadar slogan. Mereka membutuhkan keluarga yang kuat, lingkungan yang sehat, serta negara yang benar-benar hadir menjaga mereka.

Jika akar masalahnya adalah sistem kehidupan yang rusak, maka solusi yang dibutuhkan pun tidak cukup setengah-setengah. Menyelamatkan generasi tidak bisa hanya dilakukan melalui kampanye sesaat, tetapi membutuhkan perubahan cara pandang dan sistem yang mendasar.

Sebab sebuah bangsa mungkin masih bisa bertahan ketika ekonominya lemah. Namun ketika anak-anaknya kehilangan rasa aman, sesungguhnya bangsa itu sedang berjalan menuju kehancuran.[]

Comment