![]() |
| Angesti Widadi |
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Kado tahun baru yang sungguh menyesakkan. Lagi dan lagi seperti ritual tahun baru, Indonesia mengimpor pangan baku. Rasanya, seluruh dunia mengetahui bahwa Indonesia menyimpan sumber daya alam yang mewah berlimpah, tetapi mengapa masih saja melakukan impor?
Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengatakan tingginya impor gula disebabkan produksi dalam negeri tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan, khususnya industri. “Impor itu untuk industri,” ujarnya, Rabu, 9 Januari 2019.
Ekonom dari Universitas Indonesia Faisal Basri mengkritik besarnya impor gula yang dilakukan dua tahun belakangan ini. Dia mengunggah infografik berupa grafik batang berjudul “Principal Sugar Importing Countries in 2017/2018” yang bersumber dari Statista. (Tempo.co, 10/1/2019).
Menteri Darmin Nasution mengatakan bahwa produksi dalam negerti tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan. Jika kita ingin mengamati, maka akan terlihat bahwa ekonomi Indonesia diatur dan dikendalikan oleh WTO. Pasar bebas yang dikendalikan oleh WTO menyebabkan negara mana saja yang bergabung di dalamnya, harus mengikuti aturan serta tunduk kepadanya sehingga seringkali negara mengikuti standar baku aturan yang telah ditetapkan oleh WTO. Salah satunya dengan impor pangan baku yang menyejahterakan petani asing.
Selain itu, beberapa faktor lainnya adalah keterbatasan lahan dan kapasitas mesin pabrik yang tidak optimal. Di Indonesia, Rusli melanjutkan, tidak semua pabrik beroperasi penuh karena kurangnya pasokan tebu. Sehingga kinerja pabrik tidak dalam kondisi full capacity. Apalagi tebu merupakan tanaman musiman (tempo.co).
Keterbatasan lahan, minimnya stok tebu, dan kapasitas mesin pabrik yang tidak optimal disebabkan karena sistem yang diterapkan di negeri ini adalah sistem ekonomi kapitalis. Kapitalis global yang mengendalikan pertanian, pasar dan perekonomian Indonesia. Pengelolaan pangan yang buruk karena menerapkan konsep neoliberalisme dan terjebak di dalam liberalisasi pasar global.
Petani dalam negri juga semakin terancam mati perekonomiannya karena mereka seringkali merugi akibat harga pangan yang rendah karena negara lebih memilih produk impor dibanding lokal dan biaya produksi yang tinggi.
Betapa buruknya kehidupan petani dalam negri yang tak tersentuh oleh negara. Negara hanya mementingkan kepentingan asing dan keuntungan petani asing. Betapa sulitnya menjadi petani di masa kini akibat diterapkannya sistem liberal-kapitalisme ditengah melimpahnya sumber daya dalam negri. Betapa buruknya pengelolaan dan pengaturan negara dalam wilayah pangan karena negara harus tunduk kepada WTO.
Berbeda dengan Islam, maka Islam akan mengelola pangan dengan baik karena sadar kedaulatan pangan sangat penting bagi rakyat dengan sistem Ekonomi Islam. Negara Islam yang kaya akan sumber daya alam, didukung oleh anggaran yang cukup untuk mengelola lahan pertanian dan produksi pangan akan menyejahterakan petani dan rakyat dari hulu hingga ke hilir. Khalifah akan melakukan riset dalam bidang pertanian, mengadakan banyak pelatihan terhadap petani, dan juga pengembangan. Khalifah juga akan menjamin berjalannya produksi dan menjaga stok pangan agar stabil.
Sadar akan tanggungjawab sebagai pemimpin rakyat besar, maka khalifah akan menerapkan sistem pertanian dan pertanahan dalam Islam agar sumber daya pangan dapat terkelola dengan baik. Untuk menghindari lonjakan harga pangan, maka Khalifah akan memastikan tidak ada penimbunan yang dilakukan oleh warganya.
Demikianlah jika kita menerapkan Islam secara keseluruhan dalam segala aspek, maka akan turun berkah dari langit dan bumi, in sya Allah.[]
Penulis adalah seorang guru BTQ di SDIT Mutiara Hati, Tambun, Bekasi










Comment