Oleh: Ema Fitriana Madi, S.Pd, Aktivis Muslimah Sultra
__________
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Anak merupakan generasi penerus perjuangan orang tuanya. Kehadiran anak dalam sebuah keluarga akan jadi tonggak kelangsungan eksistensi sebuah keluarga. Namun apa jadinya jika angka kelahiran terus mengalami penurunan?
Dilansir dari Kendaripost (1/2/2023), Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tenggara mengungkap, angka kelahiran total (TFR) di Sultra terus mengalami penurunan. Data itu diperoleh melalui Long Form Sensus Penduduk (SP) 2020 yang dilaksanakan di tahun 2022. Statistisi Ahli Madya BPS Sultra, Ahmad Luqman, membeberkan hasil Long Form SP2020, dimana TFR Provinsi Sultra sebesar 2,57.
Data di atas menggambarkan, rata-rata anak yang dilahirkan oleh seorang perempuan usia reproduksi 15 sampai 49 tahun, hanya sekitar 2 hingga 3 anak. Saat ini, angka kelahiran Sultra menurut kelompok umur tertentu (ASFR) tertinggi, berada pada kelompok umur 25 sampai 29 tahun dengan angka sebesar 142,79. Hal tersebut bermakna, ada 142-143 kelahiran per 1.000 perempuan umur 25-29 tahun. Sementara, angka kematian bayi (AKB), Infant Mortality Rate (IMR) mencapai 23,29.
Mengutip katadata (30/1/2023), s
ecara kumulatif, angka kelahiran Indonesia sudah berkurang 30,64 persen selama periode 1990-2022 Bahkan, hasil penelitian BPS-BRIN menunjukkan, kondisi demografi Indonesia angka kelahiran diproyeksikan mengalami penurunan dan jumlah kematian diproyeksikan akan semakin meningkat hingga tahun 2045. Hal ini disebabkan oleh kematian dewasa (50,2 persen pada 2015 menjadi 74,9 persen pada tahun 2045).
Kita tentu bertanya mengenai sebab terjadinya penurunan angka kelahiran tersebut. Apakah fenomena tersebut pertanda bahwa Indonesia mulai menunjukkan masalah serius resesi seks seperti yang terjadi di negara-negara lainnya?
Menyoal Penurunan Angka kelahiran dan Resesi Seks
Meskipun Presiden Jokowi menyatakan bahwa tak ada resesi seks di Indonesia, namun penurunan angka kelahiran ini harus terus mendapatkan perhatian dan kajian yang serius. Benar, bahwa negeri ini masih jauh dari resesi seks. Kultur penduduk Indonesia yang mayoritas Muslim ini masih memegang syariat pernikahan dan memahami berkahnya memiliki keturunan. Kultur ini pula yang kerap menjadi kajian yang banyak dipermasalahkan oleh para penyeru kontrol populasi. Namun, jika mengamati munculnya kegelisahan dari kemungkinan resesi seks di Indonesia, teori pengontrolan populasi tampaknya membutuhkan kajian lebih lanjut.
Mari kita berkaca pada Cina yang melakukan kontrol terhadap pertambahan populasi secara ketat. Kini, negeri ‘tirai bambu’ tersebut mengalami resesi seks yang parah. Pasalnya, pada 2021, Cina mencatat rekor angka kelahiran terendah sejak 1949. Dalam laporan berjudul “The Challenges of Law Birth rate in Cina” disebutkan, jumlah populasi di China menurun secara signifikan pada 2021, yakni hanya 7,52 kelahiran per 1.000 orang. Pada tahun yang sama, sekitar 11 juta bayi lahir. Jumlah ini menurun dibanding pada 2016 dengan 18 juta kelahiran.
Negara lain, seperti Korea selatan, Jepang, terlebih di negara-negara Barat pun tengah terancam resesi seks. Di negara-negara tersebut, pemerintah bahkan menggelontorkan dana bagi setiap pasangan yang berencana memiliki keturunan. Pertanyaan menariknya, mengapa di negeri-negeri tersebut terjadi fenomena resesi seks?
Di sini, penting untuk memahami akar masalah dan solusi yang tepat.
McKinsey & Company menerangkan bahwa ciri-ciri resesi seks terlihat dari rata-rata jumlah orang dalam sebuah rumah tangga terus menyusut. Sebaliknya, banyak rumah tangga berisi satu orang. Pilihan hidup melajang pun kian meningkat.
Di Indonesia, gejala ini sangat terlihat.
Kampanye ledakan penduduk yang mengacu pada teori Malthus seakan meneror para intelektual dan praktisi. Bumi sudah sesak, sumber daya alam yang akan memenuhi kebutuhan manusia kian menyusut. Padahal, natalitas sesungguhnya beriringan dengan angka mortalitas. Sumber daya alam yang disebut kian menipis, sesungguhnya tergerus habis akibat eksploitasi para pemodal. Jadi, meskipun Indonesia masih jauh dari resesi seks, akan tetapi gejala menuju kesana sudah semakin nyata.
Menurunnya angka kelahiran hingga ancaman resesi seks menunjukkan, ada yang salah dengan pengaturan dan cara pandang tentang kehidupan pada sebagian besar penduduk negeri ini. Bagaimana tidak? Invasi pemikiran dan kultur Barat terus diarahkan menyasar generasi. Satu per satu, gaya hidup Barat berhasil masuk meracuni generasi. Free seks, kehamilan tidak diinginkan, aborsi, L967, menunda pernikahan, hingga childfree, masif dikampanyekan atas nama HAM dan kebebasan.
Pemikiran rusak dan berbagai penyimpangan begitu mudah masuk dan diterima, tidak lain karena seluruh pemikiran dan perilaku menyimpang tersebut bersumber dari sistem kapitalisme-sekularisme yang notabene diadopsi dan diterapkan pada seluruh aspek kehidupan bangsa ini. Akibatnya, invasi mereka tidak menemui kendala yang berarti. Padahal, negeri ini berpenduduk mayoritas Muslim. Sungguh ironis.
Prinsip kebebasan berekspresi diterjemahkan oleh generasi dengan prinsip hidup “semau gue“. Pada akhirnya, gaya hidup hedonistik yang serba boleh, kian menggejala. Interaksi laki-laki dan perempuan tidak terjaga. Suami istri keliru dalam memahami hak dan kewajiban masing-masing. Kasus hamil di luar nikah terus meningkat. Belum lagi, narkoba eksis merusak generasi.
Letak ancaman dari resesi seks ini pada dasarnya tidak hanya dari melambatnya pertumbuhan penduduk, melainkan juga pemahaman yang muncul untuk menguatkan alasan generasi harus menunda pernikahan. Di Barat, pengendalian penduduk berjalan bersama nilai-nilai liberal khas masyarakat Barat. Institusi pernikahan dijauhi bukan semata karena program kontrol populasi, melainkan karena kekhawatiran dan ketidaksiapan terikat dengan segala konsekuensi pernikahan. Walhasil, hidup serumah tanpa komitmen menikah adalah hal biasa. Tingginya angka perceraian juga membuat para lajang dilanda kekhawatiran untuk menikah.
Selain itu, tingginya biaya hidup berumah tangga dan sulitnya mengakses pekerjaan dengan gaji yang mencukupi kebutuhan, membuat pasangan memutuskan enggan memiliki anak atau membatasi jumlah anak. Tak jarang pula, tuntutan karir dan hasutan gaya hidup membuat seseorang atau pasangan, enggan menikah dan memiliki anak. Ironisnya, interaksi seksual terus mereka lakoni, dengan cara dan media sesuai yang mereka kehendaki. Jadi, semua itu sejatinya demi kesenangan semata.
Keadaan semakin diperparah ketika para selebritas memainkan perannya menjajakan nilai-nilai Barat di berbagai media digital. Otomatis, para pengikut mereka akan lata dan menjadi corong untuk menggaungkan pemikiran rusak yang mereka jajakan. Jadi, merasa aman dari resesi seks tanpa menelaah apa yang terjadi di lapangan hanya akan menciptakan blunder dalam mengelola sistem sosial masyarakat.
Dalam perspektif Islam, penduduk adalah investasi sekaligus kekuatan sebuah negara. Untuk itu, negara perlu mempersiapkan terwujudnya penduduk yang produktif dan berdaya. Negara seyogianya memahami bahwa pertumbuhan penduduk yang berkualitas bermula dari pembentukan institusi keluarga yang memiliki visi.
Setiap keluarga dalam sistem Islam sangat memahami bahwa keluarga adalah institusi terkecil dari sebuah sistem kehidupan. Dalam didikan keluargalah, negara mendamba lahirnya generasi-generasi tangguh yang akan menjadi penerus peradaban. Inilah sinergi antara negara dan keluarga.
Munculnya sosok para kesatria tangguh dalam rentang kejayaan Islam, seperti Shalahuddin al-Ayyubi, Muhammad al-Fatih, hingga Imam Asy-Syafi’i, tidak jauh dari didikan orang tua yang memahami betul peran mereka. Cita-cita suci untuk agama dan negara merupakan ekspresi dari keimanan kepada Allah Swt. Walhasil, lahir generasi tangguh yang siap berkontribusi besar bagi peradaban Islam.
Di sisi lain, negara bertanggung jawab penuh menciptakan atmosfer kondusif bagi lahirnya generasi tangguh. Melalui penyelenggaraan pendidikan yang bertujuan untuk membentuk kepribadian Islam, terwujud generasi yang menguasai ilmu agama dan ilmu umum pada saat yang bersamaan.
Pada masa peradaban Islam, melimpah intelektual yang memahami beragam ilmu (polymath). Tidak cukup sampai di situ, negara menjaga ruang sosial masyarakat hingga bersih dari berbagai virus pergaulan yang menstimulus bangkitnya syahwat pada usia muda. Negara juga melakukan edukasi mengenai tata interaksi yang sesuai syariat. Negara mengedukasi pemuda terkait pernikahan, baik aspek syariat maupun ilmu berumah tangga. Didikan di keluarga, bertemu dengan sistem pendidikan yang khas dan sistem sosial yang kondusif, ampuh untuk mencetak generasi produktif.
Negara juga akan membuka lapangan kerja bagi kaum laki-laki sebagai bagian dari mekanisme pemenuhan kebutuhan keluarga. Sehingga, tidak ada ketakutan akan sulitnya memenuhi kebutuhan istri dan anak, sebagaimana kekhawatiran untuk menikah ketika hidup dalam sistem saat ini.
Para ibu hanya fokus pada aktivitas domestiknya, yakni mengatur rumah tangga serta mengasuh dan mendidik anak-anaknya, mempersiapkan mereka menjadi generasi cemerlang. Sebab, orang tua memahami bahwa anak adalah aset berharga yang akan terus mengalirkan kebaikan bagi kedua orang tuanya, juga memberi safaat bagi mereka di akhirat kelak.
Rangkaian sistemis ini menunjukkan, seyogianya negara serius mempersiapkan penduduk yang tangguh dan siap berkontribusi bagi keberlangsungan peradaban. Berbeda dengan kondisi sekarang. Di satu sisi mengharapkan pertumbuhan penduduk, namun di sisi lain membiarkan berbagai paham Barat meracuni pemikiran generasi.
Paham-paham liberal yang membuat para pemuda enggan menikah dan memiliki keturunan adalah bom waktu bagi eksistensi sebuah peradaban. Untuk itu, saatnya berkaca pada Islam dan membincangkannya sebagai sistem alternatif pada masa mendatang.
Wallahu a’lam bishawwab [SP]









Comment