Antara Kebangkitan Umat dan Gen Z

Opini453 Views

 

Penulis: Imelda Inriani, S.P.  | Aktivis Muslimah 

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Belakangan ini kita kerap disuguhi pemandangan aksi demonstrasi, unjuk rasa, hingga ragam aspirasi yang disuarakan masyarakat melalui media sosial. Fenomena ini menjadi salah satu cara generasi Z (Gen Z) merespons tekanan sosial.

Psikolog Anak dan Remaja, Anastasia Satriyo, M.Psi., Psikolog, menilai bahwa Gen Z memiliki mekanisme menghadapi tekanan yang berbeda dibanding generasi sebelumnya.

Menurutnya, secara psikologis Gen Z sudah mampu menggunakan mekanisme respons face—yakni cara bertahan yang dapat melindungi diri, mengurangi risiko, serta menyampaikan kebutuhan tanpa harus menyakiti diri sendiri maupun orang lain. Media sosial, meme, poster, hingga estetika visual menjadi salah satu ekspresi mereka (Kompas.com, 5/9/2025).

Sementara itu, Prof. Rose Agoes Salim, psikolog dari Universitas Indonesia, menyoroti meningkatnya keterlibatan anak di bawah umur dalam demonstrasi. Menurutnya, meskipun unjuk rasa bisa menjadi ajang belajar menyampaikan pendapat, remaja tetap rentan terprovokasi karena kontrol diri yang belum matang.

Keinginan untuk terlihat berani di hadapan teman sebaya kerap mendorong mereka bertindak impulsif, bahkan melakukan hal negatif kepada orang lain. “Kekhawatirannya, mereka hanya terbawa emosi tanpa memahami isu yang diperjuangkan,” ujarnya (Inforemaja.id, 2/9/2025).

Dari sudut pandang psikologi, Gen Z digambarkan memiliki ciri khas tertentu. Namun, klasifikasi semacam ini sejatinya lebih berakar pada pendekatan kapitalisme yang menekankan pola pikir generasional, ketimbang melihat manusia secara utuh.

Islam, sebaliknya, menilai manusia sebagai makhluk yang diberi potensi menyeluruh –  kebutuhan jasmani (makan, minum, tidur), serta potensi naluri berupa naluri beragama (tadayyun), melestarikan keturunan (nau’), dan mempertahankan diri (baqo’).

Fenomena remaja turun ke jalan atau bersuara lewat media sosial dapat dibaca sebagai aktualisasi naluri baqo’, yakni upaya mempertahankan diri ketika merasa ditekan, marah, atau dizalimi. Namun, pemenuhan naluri tersebut tetap membutuhkan pemahaman yang benar agar tidak terjebak pada perilaku sekadar mencari pujian, konten, atau keuntungan materi.

Remaja, termasuk Gen Z, perlu memahami arah perjuangan yang sesungguhnya. Dorongan untuk menolak kezaliman harus diarahkan pada upaya melakukan koreksi terhadap penguasa, sebagaimana diperintahkan dalam Al-Qur’an, Surah An-Nahl ayat 125:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah yang baik…” Dengan demikian, aksi yang dilakukan tidak berhenti pada simbol perlawanan, melainkan menjadi bagian dari ikhtiar menuju perubahan hakiki.

Perubahan yang dimaksud bukanlah sebatas pergantian pemimpin atau penurunan harga kebutuhan pokok, melainkan transformasi menyeluruh dari sistem kapitalisme sekuler menuju sistem Islam kaffah. Islamlah yang dapat menghadirkan keadilan dan kesejahteraan hakiki bagi umat manusia.

Sejarah pun mencatat betapa pemuda berperan besar dalam kebangkitan umat. Ali bin Abi Thalib, Mus’ab bin Umair, Zubair bin Awwam, hingga Muhammad Al-Fatih, adalah potret generasi muda yang gigih membela kebenaran. Keberanian, kecerdasan, dan keteguhan mereka menjadi inspirasi lintas zaman bahwa perubahan besar sering lahir dari tangan pemuda.

Karenanya, Gen Z hari ini perlu bercermin pada teladan tersebut. Kebangkitan umat hanya akan terwujud bila mereka berjuang bukan sekadar untuk ekspresi diri, melainkan untuk perubahan sistemik menuju penerapan hukum Allah secara menyeluruh.

Perjuangan ini menuntut kesadaran, keimanan, dan keistiqamahan. Di tangan para pemuda inilah, kebangkitan hakiki akan menemukan jalannya.[]

Comment