RADARINDONESIANEWS .COM, DENPASAR — Pemerintah Provinsi Bali bersama Kemitraan Australia-Indonesia untuk Manajemen Risiko Bencana (SIAP SIAGA) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) meluncurkan Unit Layanan Disabilitas untuk Penanggulangan Bencana, Senin (27/10/2025).
Unit ini dirancang untuk memastikan penyandang disabilitas terlibat aktif dalam setiap tahap penanganan bencana — mulai dari perencanaan, mitigasi, hingga pemulihan.
Peluncuran yang digelar di Denpasar ini menjadi bagian dari upaya memperkuat sistem penanganan bencana yang lebih inklusif dan tangguh. Program tersebut menegaskan bahwa penyandang disabilitas bukan sekadar penerima manfaat, tetapi mitra penting dalam pengambilan keputusan berbasis hak.
“Kami senang dapat meluncurkan Unit Layanan Disabilitas untuk memastikan inklusi disabilitas dalam mitigasi bencana. Komunitas ini memiliki pengalaman dan wawasan yang berharga untuk memperkuat ketangguhan masyarakat,” ujar Pelaksana Tugas Wakil Konsul Jenderal Australia di Bali, Sophie Hanemaayer.
Unit Layanan Disabilitas di Bali ini akan menjadi model integrasi inklusi disabilitas dalam penanganan bencana di Indonesia. Pendekatannya berfokus pada lima pilar utama: data terpilah, aksesibilitas, partisipasi bermakna, pengembangan kapasitas, dan perlindungan.
Menurut Sekretaris Daerah Provinsi Bali Dewa Made Indra, keberadaan unit ini merupakan bagian dari komitmen Pemerintah Daerah dalam mewujudkan manajemen bencana yang inklusif dan berkeadilan.
“Ketika penyandang disabilitas turut menentukan strategi, rencana kami menjadi lebih efektif dan berbelas kasih. Dengan mengutamakan inklusi, kami memastikan seluruh warga memiliki akses yang setara terhadap informasi, respons, dan keselamatan,” ujarnya.
Program ini juga diharapkan mendorong peningkatan kesadaran publik mengenai pentingnya penanganan bencana yang inklusif. Dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat, termasuk penyandang disabilitas, pemerintah berharap tercipta komunitas Bali yang lebih tangguh, aman, dan saling mendukung dalam menghadapi situasi krisis.
“Inisiatif ini bukan hanya soal kesiapsiagaan bencana, tetapi juga tentang memastikan tak ada seorang pun yang tertinggal ketika bencana melanda,” kata Hanemaayer menutup pernyataannya.[]











Comment