RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Aqsa Working Group (AWG) menggelar webinar bertajuk “Deklarasi New York: Zionis Israel – Palestina, Siapa Lebih Untung?” pada Sabtu (9/8/2025) malam. Forum ini membedah isi dan implikasi Deklarasi New York yang dihasilkan Konferensi Internasional Tingkat Tinggi Penyelesaian Damai Masalah Palestina di Markas Besar PBB, akhir Juli lalu.
Webinar menghadirkan tiga narasumber, yakni diplomat senior RI (1988–2021) Ple Priatna, Direktur Eksekutif Global Future Institute Dr. Hendrajit, serta Ketua Presidium AWG M. Anshorullah. Diskusi dipandu Koordinator Program AWG, Angga Aminuddin.
Ketua Presidium AWG, M. Anshorullah, menilai Deklarasi New York mencerminkan semakin luasnya dukungan internasional terhadap Palestina, sementara posisi Israel mulai terpojok di komunitas global.
“Kita harus membangun perspektif baru, yaitu satu negara demokratis Palestina di mana semua bisa hidup berdampingan dalam damai dan sejahtera. Perjuangan ini masih panjang untuk menghapus Zionisme dari muka bumi. Kita tidak boleh berhenti bersuara,” ujar Anshorullah.
Ple Priatna menilai deklarasi yang dikeluarkan 30 Juli lalu belum ideal untuk solusi damai. Menurutnya, Israel kerap mengabaikan kewajiban internasional dan menepis resolusi PBB.
“Dunia seolah dibuat tak berdaya, padahal yang sebenarnya lemah adalah Israel,” ujarnya. Ia berharap terjadi perubahan di dalam negeri Israel, termasuk pergantian kepemimpinan dari Benjamin Netanyahu kepada tokoh yang mengedepankan perdamaian, serta mendesak penghentian bantuan internasional kepada Israel.
Sementara itu, Dr. Hendrajit melihat Deklarasi New York sebagai momentum strategis. Dukungan dari negara-negara Eropa seperti Prancis, Italia, dan Spanyol, serta dari kawasan Arab dan Amerika Latin seperti Brasil dan Meksiko, dinilainya sebagai sinyal kuat aspirasi dunia berkembang.
“Internal Palestina harus solid. Rekonsiliasi antara Fatah dan Hamas menjadi syarat penting membangun aliansi strategis menghadapi perundingan internasional,” ujarnya.-[]













Comment