![]() |
| Ayu Ratna Sari |
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Di Indonesia Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dari tahun ke tahun semakin meningkat, virus ini semakin mewabah hingga ke plosok Jawa Timur lebih tepatnya di daerah Bondowoso.
Sebagaimana yang terjadi beberapa bulan terakhir ini, di daerah Bondowoso ODHA semakin meningkat. Pada tahun 2018 per September sebanyak 321 orang yang sudah terjangkit, dan ironinya ada 21 orang diantaranya masih balita dan sudah meninggal 1 anak. (kompasjatim.com) Bahkan kondisi ini tidak hanya terjadi indonesia saja khususnya Jatim tapi berdasarkan data dari UNAIDS pada tahun 2017 terdapat 36,9 juta masyarakat dari berbagai negara hidup bersama HIV dan AIDS. Dari total penderita yang ada, 1,8 juta di antaranya adalah anak-anak berusia 15 tahun. Selebihnya adalah orang dewasa, sejumlah 35,1 juta penderita. Namun sayangnya 25 persen diantaranya sekitar 9,9 juta penderita tidak mengetahui bahwa mereka terserang ODHA.
Sedangkan Indonesia menyumbang angka 620.000 dari total 5,2 juta jiwa di Asia Pasifik yang terjangkit ODHA. Jika dikelompokkan berdasarkan latar belakangnya, penderita ODHA berasal dari kalangan pekerja seks komersial (5,3 persen), homoseksual (25,8 persen), pengguna narkoba suntik (24,8 persen), dan mereka yang ada di tahanan (2,6 persen). (kompas.com) Angka yang spektakuler yang di raih oleh indonesia dengan adanya virus ODHA. Ini menunjukkan bahwa virus ODHA sudah mewabah ke seluruh dunia.
Ibarat bola salju yang terus menggelinding hingga membesar, kasus ODHA tidak pernah ada habisnya di perbincangkan. Penyebab HIV/AIDS yang kian melambung tinggi ini di karenakan bahwa negri kita telah mengadopsi sistem kapitalisme yang menimbulkan gaya hidup liberal, serba bebas dan budaya zina di biarkan tanpa adanya tindakan keras oleh pemerintah.
Bahkan tidak ada tindakan tegas untuk memberantas hingga ke akar-akarnya. Ini di sebabkan karena pemerintah memandang bahwa ODHA adalah masalah kesehatan saja, wajar jika solusi yang diberikan hanya sebatas memberikan kondom secara gratis yang di peringati pada tanggal 1 Desember, pembagian jarum suntik steril, kampanye bahaya AIDS, dan lain sebagainya. Maka kita butuh solusi yang mampu merentaskan permasalahan HIV/AIDS hingga ke akar-akarnya agar tidak ada lagi polemik ODHA di negri ini.
Berbicara tentang ODHA maka permasalahan ini bukan hanya sekedar masalah kesehatan saja seperti yang sudah dijelaskan di atas, namun ini adalah masalah perilaku. Sedangkan perilaku seks bebas seperti lesbian, gay, transgender di dalam sistem pemerintahan kapitalis hari ini adalah suatu hal yang wajar, tidak perlu di hukum bahkan tidak boleh mengucilkan. Padahal di dalam Islam sudah jelas bahwa ini adalah perilaku yang menjijikkan, bahkan ini adalah tindak kriminal yang layak mendapatkan hukuman yang tegas.
Perlu kita ketahui bahwa seharusnya virus HIV/AIDS di atasi bukan hanya sekedar mencegah dan mengobatinya sebagai masalah kesehatan, melainkan dengan upaya menghapuskan segala perilaku menyimpang, seperti seks bebas dan LGBT. Selain itu langkah semestinya yang harus di ambil oleh pemerintah Indonesia adalah menerapkan syariat Islam dan menindak tegas serta memberikan keputusan hukum bagi perilaku zina utamanya pelaku seks bebas (LGBT).
Selain itu juga penutupan tempat-tempat pelacuran atau lokalisasi yang dapat mengundang seseorang untuk masuk dan bekerja di sana. Dengan di terapkannya hukum yang dapat membuat efek jera bagi pelaku zina, seperti hukum cambuk bagi seseorang yang belum menikah. Dan hukum rajam bagi pasangan yang sudah menikah.
Dengan begitu virus HIV/AIDS tidak akan menyebar hingga ke plosok dunia, karena ketika seseorang melakukan tindak kriminal akan mendapatkan sanksi yang tegas dari negara. Jadi permasalahan ODHA bukan hanya permasalahan kesehatan saja, tapi ini adalah masalah perilaku yang harus di tindak keras bagi perilaku zina dengan penerapan hukum-hukum Islam yang dapat di terapkan melalui pemerintahan Islam.[]
Penulis adalah mahasiswi Universitas Muhammadiyah Jember
Fkip B.Inggris, semester akhir










Comment