Bahan Pangan Murah, Atara Janji Manis dan Umpan Politik

 

Penulis : Riska Fadliah Angraini |
Mahasiswi

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA– Harga pangan mahal belakangan ini kembali mencuat ke permukaan, yang membuat munculnya keresahan di tengah masyarakat. Mulai dari kenaikan harga cabai, beras, dan bahan pangan pokok lainnya.

Kian hari kenaikan harga bahan pangan semakin mencekik. Tidak sedikit masyarakat yang kesulitan memenuhi kebutuhan harian akibat kenaikan harga tersebut.

Menurut Sesuai data Badan Pangan Nasional terdapat 9 jenis pangan yang telah mengalami kenaikan lebih dari 10%. Beberapa yang menjadi pokok perhatian masyarakat adalah beras dan cabai, di mana dua komoditas ini kian melangit harganya.

Menurut kementerian perdagangan beberapa harga bahan pangan telah mencapai kenaikan harga hingga 90%, lain di antaranya bawang, minyak goreng, daging ayam, gula dan lainnya.

Namun masyarakat tidak memiliki pilihan lain untuk pemenuhan berbagai bahan pangan pokok tersebut, sehingga  berdampak pula pada berbagai aspek. Dengan naiknya berbagai bahan pangan pokok tentu juga akan meningkatkan biaya produksi dalam aktivitas jual beli.

Fenomena kenaikan harga bahan pangan pokok bukan baru terjadi di tengah masyarakat. Bahan pangan pokok yang menjadi kebutuhan masyarakat dalam keberlangsungan hidup haruslah diperhatikan dan diselesaikan dengan tepat.

Di sisi lain fenomena ini seringkali dijadikan lahan untuk menanam janji manis di tengah hiruk pikuk kehidupan rakyat. Di tengah situasi perpolitikan sekarang ilusi harga pangan murah menjadi salah satu umpan politik yang laris.

Tidak bisanya rakyat mendapatkan harga pangan yang murah menunjukkan kegagalan negara menjamin hak-hak rakyat akan kebutuhan pokok. Situasi hari ini kembali menawarkan berbagai macam solusi untuk kenaikan harga bahan pokok namun dengan pola yang sama, di mana janji bahan pangan murah bukan pertama kalinya diajukan sebagai janji manis untuk rakyat, namun lagi-lagi kembali menuai kegagalan dan masih menjumpai hasil yang sama.

Kenaikan harga bahan pangan pokok menjadi fenomena yang lumrah dan biasa terjadi bagi penguasa. Negara sejatinya mampu melakukan berbagai upaya untuk mengantisipasi kenaikan harga walaupun dengan berbagai persoalan. Negara hadir untuk mewujudkan kedaulatan dan ketahanan pangan di tengah masyarakat dengan berbagai upaya sehingga fenomena harga pangan mahal tidak selalu menjumpai kehidupan masyarakat. Bukan hanya solusi semu melainkan solusi yang hakiki dan berjangka panjang.

Di dalam Islam seorang penguasa bertanggung jawab penuh atas kebutuhan dan kesejahteraan rakyat, menjadikan penguasa sebagai ra’in yang memiliki kewajiban mengurus dan memenuhi hak-hak rakyat. Penguasa dengan kekuasaannya harus mampu menjaga berbagai kebutuhan di tengah masyarakat.

Islam menjadikan penguasa sebagai pelayan rakyat yang bekerja berlandaskan ketaatan kepada Allah dengan penuh rasa tanggung jawab. Selain itu syariat Islam memiliki berbagai strategi dan mekanisme  menjaga kestabilan harga pangan di tengah umat.

Negara pada masa kejayaan Islam menerapkan sitem ekonomi yang benar-benar fokus pada kesejahteraan ummat dan mengelola kekayaan negara dengan baik serta melakukan pengawasan terhadap harga secara proporsional.[]

Comment