Bedah Buku: Jerat-Jerat Feminisme, Menafsir Isu Gender dari Kacamata Islam

Daerah, Jatim537 Views

RADARINDONESIANEWS. COM, PROBOLINGGO —  Pondok Kyai Sekar Al Amri Probolinggo menggelar bedah buku “Jerat – Jerat Feminisme, Di Antara Simpangan Tafrith dan Ifrath”, karya Diah Pipit di Aula Santri Putri,  Rabu (5/10/25).

Bedah buku tersebut menjadi sebuah diskusi dan refleksi tentang posisi perempuan muslim di tengah arus ideologi global.

Tema yang diangkat — feminisme dalam pandangan Islam — menjadi topik yang jarang disentuh di forum pesantren, tapi justru terasa semakin relevan di tengah derasnya wacana kesetaraan gender global.

Diah Pipit, penulis buku sekaligus aktivis muslimah lulusan Universitas Airlangga, tampil sederhana namun tegas. Dalam sesi pemaparan selama 45 menit, ia menjelaskan bagaimana feminisme modern kerap menyeret perempuan ke dua kutub ekstrem — tafrith (kekurangan) dan ifrath (berlebihan).

“Buku ini bukan semata kritik, melainkan tawaran solusi untuk mengembalikan kesadaran spiritual dan moral perempuan muslim,” ujar Diah Pipit dalam bedah buku yang dihadiri ratusan santri putri pondok Sekar Al Amri tersebut.

Buku yang diterbitkan Jenggala Pustaka Utama pada 2025 itu, menurutnya, berupaya mengurai jerat ideologis yang kerap membingkai perempuan dalam narasi sekular dan liberal.

Ia menekankan perlunya menempatkan kembali Islam sebagai kompas berpikir, bukan sekadar pelengkap dalam diskursus gender.

Diskusi makin hidup saat Diah Pipit menayangkan empat testimoni pembaca. Salah satunya datang dari Furqon Bunyamin Husein, Pemimpin Umum sekaligus Pemred Radar Indonesia News.

Dalam testimoninya, ia menggambarkan pengalaman membaca buku itu “seperti berjalan di taman yang indah dan menenangkan,” sembari menekankan kekuatan buku tersebut dalam menjaga konsistensi dan keutuhan tema dari awal hingga akhir.

“Buku ini bukan sekadar bacaan, melainkan panduan pemikiran. Ia menjadi rujukan penting bagi para aktivis dan penyeru dakwah agar tetap teguh dalam meniti jalan kebenaran di tengah derasnya arus ideologi global yang kerap menyesatkan arah.”

Dua testimoni lain disampaikan lewat video. Nabila Maulidina Widyarahmah, Lc., Dipl., mahasiswi berprestasi Universitas Al Azhar, menilai bahwa buku Jerat Jerat Feninisne ini “tidak ekstrem dalam menolak peran publik perempuan, tapi juga tidak terjebak dalam kesetaraan semu.”

Sementara Ainy Syarif, istri akademisi Dr. Nasrul Syarif, M.Si., menyebut buku itu “referensi penting agar kita tidak mudah terseret ide-ide yang tampak menarik tapi justru menjauhkan dari nilai Islam.”

Sementara itu, santri Institut Ahmad Dahlan, Ukhti Naura Afkarina, menilai buku ini “menggugah dan meneguhkan keyakinan bahwa solusi sejati bagi perempuan hanya ada dalam sistem Islam.”

Ustadzah Maya yang turut menjadi pembedah memuji kedalaman analisis buku tersebut, namun juga memberi sejumlah catatan kritis terkait penyusunan argumentasi.

“Karya ini kuat dalam refleksi ideologisnya, namun perlu disederhanakan di beberapa bagian agar mudah dicerna santri tingkat awal,” ujarnya.

Sesi tanya jawab menutup acara dengan hangat. Beberapa santri bertanya tentang fenomena perempuan karier yang kehilangan peran domestiknya, sementara yang lain penasaran dengan proses penulisan buku tersebut.

Seorang ustadzah menambahkan, “Acara seperti ini penting agar santri punya bekal menghadapi isu kontemporer tanpa kehilangan akar nilai keislaman.”

Tepat pukul 21.00, kegiatan ditutup dengan doa bersama. Bagi para santri, malam itu bukan sekadar bedah buku — tetapi perjumpaan dengan wacana yang menantang sekaligus meneguhkan.

Jerat-Jerat Feminisme menjadi bahan renungan tentang bagaimana perempuan muslimah menapaki dunia modern tanpa kehilangan arah dan kompas spiritualnya.[]

Comment