Belajar Tanpa Allah, Hidup Tanpa Arah

Opini400 Views

 

Penulis: Poppy Kamelia P. BA(Psych), S.Sos, CBPNLP, CCHS, CCLS, CTRS |
Pelatih Parenting Islam, Konselor dan Terapis Kesehatan Mental, Penulis, Pegiat Dakwah

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Dalam sepekan terakhir, kabar duka kembali mengguncang negeri. Dua anak ditemukan meninggal dunia di Cianjur dan Sukabumi—keduanya diduga mengakhiri hidupnya sendiri, seperti dilaporkan Kompas pada 20 Oktober 2025. Belum kering air mata publik, peristiwa serupa kembali terjadi di Sawahlunto.

Dua siswa sekolah menengah pertama ditemukan meninggal di lingkungan sekolah, sebagaimana diberitakan Kompas edisi 28 Oktober 2025. Tak ada tanda kekerasan, tak ada dugaan perundungan. Hanya keheningan dan tanya yang menggantung: apa yang sesungguhnya tengah terjadi pada anak-anak bangsa ini?

Kegelisahan itu kian beralasan ketika, dalam pernyataannya yang dikutip Republika pada 30 Oktober 2025, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengungkap bahwa dari dua puluh juta jiwa yang diperiksa dalam program kesehatan jiwa gratis, lebih dari dua juta anak Indonesia mengalami gangguan mental.

Angka yang mencekam itu bukan sekadar data, melainkan potret luka sosial yang kian dalam. Di tengah kemajuan teknologi dan pendidikan modern, generasi muda justru tumbuh dengan jiwa yang sepi dan rapuh.

Sementara itu, Komisioner KPAI Aris Adi Leksono—dalam pernyataannya kepada Media Indonesia (31 Oktober 2025)—menegaskan bahwa setiap kasus kehilangan harapan hidup pada anak menunjukkan lemahnya sistem deteksi dini di lingkungan sekolah dan keluarga.

Ia menekankan pentingnya early warning system yang berfungsi nyata, agar anak-anak dengan perubahan perilaku atau gejala stres berat segera memperoleh pendampingan psikologis.

Seruan itu menggema di tengah darurat empati, ketika rumah dan sekolah yang seharusnya menjadi tempat paling aman justru kehilangan kepekaan terhadap jeritan batin anak-anak.

Namun, akar persoalannya tampaknya jauh lebih dalam daripada sekadar kurangnya pendampingan. Kita telah membangun sistem pendidikan yang sibuk mengejar nilai, tetapi lupa menanamkan makna.

Anak-anak dipacu berkompetisi, namun tak disiapkan menghadapi kegagalan. Mereka dibentuk menjadi mesin prestasi, bukan manusia berjiwa kuat.

Di sinilah wajah muram pendidikan sekuler menampakkan diri—sistem yang memisahkan ilmu dari nilai-nilai spiritual, dan menjadikan kesuksesan duniawi sebagai tujuan akhir.

Dalam paradigma pendidikan sekuler, keberhasilan anak diukur dari angka rapor, bukan kedewasaan berpikir. Mereka diajari mengejar cita-cita, tetapi tidak dikenalkan pada tujuan hidup.

Pandai berhitung, tapi tak paham makna bersyukur. Hafal rumus, tapi kehilangan arah ketika hidup terasa gelap. Saat gagal, mereka tak tahu cara berdamai dengan diri sendiri; saat terluka, tak tahu kepada siapa harus bersandar. Padahal Islam menuntun manusia untuk selalu bersandar kepada Allah dalam setiap keadaan.

Islam memandang pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu, melainkan pembentukan akal dan sikap yang selaras dengan akidah. Tujuannya melahirkan pribadi aqil—matang akalnya, kuat jiwanya, dan sadar tanggung jawabnya di hadapan Allah. Sejak balig, seorang anak sudah memikul amanah kehidupan.

Konsep ini berbeda jauh dari pandangan Barat yang baru menganggap manusia dewasa di usia delapan belas. Akibatnya, banyak anak Muslim yang telah balig namun belum diarahkan untuk memahami hakikat hidup.

Bunuh diri adalah puncak dari gangguan mental yang tak tertangani. Ia tumbuh dari tekanan hidup, konflik keluarga, perceraian, beban akademik, dan gaya hidup materialistik yang menyesakkan. Semua itu adalah buah dari sistem kapitalisme yang menuhankan keuntungan dan meniadakan nilai kemanusiaan.

Sementara media sosial dengan mudah menampilkan kehidupan semu—meromantisasi keputusasaan dan menjebak remaja dalam ilusi pelarian. Tanpa fondasi iman yang kuat, mereka mudah tersesat dalam gelapnya putus asa.

Islam sejatinya menawarkan jalan keluar yang paripurna. Pendidikan dalam Islam selalu dimulai dari akidah—baik di rumah, di sekolah, maupun di masyarakat. Anak-anak diajarkan untuk mengenal siapa Penciptanya, untuk apa mereka hidup, dan ke mana mereka akan kembali.

Ketika iman tertanam kokoh, hati menjadi tegar menghadapi ujian. Mereka tumbuh dengan keyakinan bahwa setiap kesulitan pasti disertai kemudahan. Islam tidak hanya membimbing secara spiritual, tetapi juga menata sistem sosial agar adil dan manusiawi.

Dalam tatanan Islam, keluarga dijaga keharmonisannya, kebutuhan dasar dijamin, dan arah hidup masyarakat dipandu oleh syariat.

Sejarah mencatat, pada masa Khilafah Islamiyah, pendidikan mampu memadukan karakter Islami dengan penguasaan ilmu pengetahuan. Anak-anak dibentuk untuk berpikir ilmiah sekaligus syar’i.

Mereka mencintai ilmu karena Allah, bukan karena gengsi atau tuntutan dunia. Dari sistem seperti itulah lahir generasi tangguh—cerdas secara intelektual, kokoh secara spiritual, dan lapang menghadapi hidup.

Setiap kali kabar tragis tentang anak yang mengakhiri hidupnya menyeruak, seharusnya hati ini terguncang. Itu bukan sekadar kegagalan orang tua atau guru, melainkan kegagalan sistem yang mencabut ruh iman dari pendidikan. Sistem yang menanamkan kecerdasan tanpa arah, pengetahuan tanpa makna.

Sudah saatnya bangsa ini berani menatap akar persoalan dengan jujur. Selama pendidikan kita masih bernafas sekuler—memisahkan Allah dari ruang belajar—generasi ini akan terus kehilangan arah.

Hanya dengan kembali kepada pendidikan yang berlandaskan akidah Islam, anak-anak akan tumbuh menjadi generasi beriman yang kuat, memahami arti hidup, dan yakin bahwa setiap ujian adalah jalan untuk semakin dekat kepada Allah. Wallahu a’lam bisshawab.[]

Comment