Oleh: Arifa Hilma, Ibu Rumah Tangga
__________
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA-“Wanita bukan mesin pembuat anak.” Pernahkah anda mendengar pernyataan demikian? Tentu pernyataan tersebut mudah kita dengar di era kesetaraan gender seperti hari ini. Mirisnya, pernyataan tersebut seringkali dilontarkan oleh perempuan itu sendiri. Seolah-olah mereka protes dengan organ reproduksi yang dititipkan dalam tubuhnya.
Bisa kita pahami, istilah ‘mesin pembuat anak’ berkonotasi merendahkan wanita dan tidak jarang, istilah ini ditunjukkan kepada ajaran agama yang dianggap mendukung budaya patriarkis.
Alih-alih menggambarkan peran ibu sebagai mesin pembuat anak, masyarakat kita sedari dulu menggunakan ungkapan yang memuliakan, seperti ‘surga di bawah telapak ibu’ atau ‘kasih ibu bagai sang surya menyinari dunia.
Tentu jika kita melihat sudut pandang para feminis, yang patut disalahkan dari degradasi peran wanita ini adalah sistem kehidupan patriarkis.
Patriarki sendiri bisa diartikan sebagai sistem budaya yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama dan mendominasi setiap peran. Istilah patriarki tidak sekedar kepemimpinan dan dominansi laki-laki. Karena sesungguhnya istilah patriarki tidak bebas nilai.
Nilai yang melekat pada patriarki adalah dominasi laki-laki dan juga diskriminasi perempuan. Letak diskrimasi disini misalnya menganggap perempuan hanya sebagai objek seksual, makhluk kelas dua, sumber dosa, tidak berkompeten, tidak perlu sekolah tinggi dan sebagainya.
Karena menganggap rendah wanita, maka peran wanita dalam ranah domestik juga digambarkan sebagai peran yang rendahan. Sebaliknya, pihak yang menghasilkan uang dianggap lebih mulia.
Uniknya, meski feminisme dan patriarki saling bersebrangan, mereka berbagi persepsi yang sama. Mereka memandang pihak yang menghasilkan uang lebih baik daripada pihak yang tidak menghasilkan uang. Tentu pandangan ini berdasarkan pada paham materialistik yang melekat pada keduanya.
Jika kita mengganti persepsi matrealisme ini dengan persepsi non materalistik, kita akan mudah memahami bahwa peran wanita dalam ranah domestik dan pengasuhan anak adalah bagian dari pembagian peran yang lazim.
Dalam Islam misalnya, peran wanita dalam keluarga digambarkan sebagai madrasah pertama bagi anak, tonggak peradaban, dan layak mendapatkan puncak penghormatan tertinggi dari setiap anak.
Jika patriarki merendahkan fungsi dan potensi wanita, maka feminis mengeluarkan wanita dari potensi keibuanya bagi keluarga dan ummat dan menggantinya dengan peran ekonomi semata.
Padahal, justru gerakan feminisme dan
kebebasan ala barat lah yang sejatinya menempatkan perempuan hanya sebagai mesin pembuat anak. Jika istilah gender equality sudah akrab di telinga kita, kini muncul istilah fertile equality, atau kesetaraan dalam kesuburan atau lebih tepatnya, kesetaraan dalam hal memiliki anak.
Gerakan feminis radikal yang mengampanyekan kebebasan seksual dan konsep gender menghasilkan orang-orang yang bebas mengidentifikasi gendernya masing-masing. Misal perempuan bebas mengatakan gendernya adalah laki-laki atau nonbinary, dan bebas mengubah seksualitasnya sesuka hati dengan suntik hormon atau operasi.
Kebebasan seksual ini juga membuat pasangan yang tidak mampu memiliki anak secara normal, –misalnya karena homoseksual atau perubahan hormon yang drastis akibat suntik hormon—memilih untuk memiliki anak melalui surogasi.
Surogasi atau ibu pengganti adalah wanita normal yang meyewakan rahimnya untuk dititipi anak. Lazimnya, ibu surogasi ini diberikan kompensasi tertentu sesuai kesepakatan. Surogasi bisa bersifat komersial maupun sukarela. Klinik dan lembaga surogasi kini menjamur di banyak negara barat demi mengakomodasi kelompok yang fitrahnya tidak bisa memiliki anak.
Fenomena surogasi ini justru menunjukkan, ketika manusia mencoba keluar dari fitrahnya. Alih-alih mendapat kemuliaan, mereka justru menjatuhkan diri dalam kehinaan.
Jika kita tengok lagi bagaimana Islam membagi peran laki-laki dan perempuan, kita mendapati bahwa baik laki-laki dan perempuan memiliki kewajiban, hak, dan perannya masing-masing. Keduanya dimuliakan selama berada dalam koridor syariat.
Kepemimpinan laki-laki dalam keluarga dan masyarakat menurut Islam juga jauh berbeda dari sistem patriarki. Jika patriarki memandang tinggi satu pihak dan merendahkan pihak lain, maka Islam memuliakan keduanya.
Laki-laki diwajibkan menjadi pencari nafkah utama dan pemimpin keluarga, bukan sebagai alat opresi, tetapi sebagai tanggung jawabnya terhadap Allah. Begitu juga perempuan, ia diciptakan dengan rahim bukan sebagai mesin pembuat anak tetapi sebagai madrasah dan tonggak peradaban.
Jika feminisme lahir akibat penindasan perempuan oleh patriarki, maka bisa dikatakan solusi dari patriarki adalah feminisme. Tapi nyatanya tidak. Feminisme justru menciptakan masalah baru. Bukannya mengeluarkan perempuan dari penindasan, feminisme justru menjatuhkan perempuan kembali dalam kehinaan.[]














Comment