Bencana Banjir dan Sistem Sekuler

Opini212 Views

 

 

Oleh: Novita Darmawan Dewi, Mahasiswi Universitas Terbuka, Fakultas Ekonomi

____________

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Hujan sepanjang siang menjelang sore yang terus mengguyur kawasan perbukitan Manglayang dan Bukit Tunggul mengakibatkan banjir di wilayah Kecamatan Rancaekek dan Cileunyi serta Jatinangor wilayah perbatasan Kabupaten Bandung dengan Sumedang.

Luapan Sungai Cikeruh yang berhulu di perbukitan Bukit Tunggul mengakibatkan banjir di sejumlah wilayah pemukiman warga serta ruas jalan nasional Jalan Raya Bandung Garut dan juga Jalan Raya Majalaya Rancaekek Dangdeur.

Sejumlah wilayah di kawasan Bandung Timur sudah dua hari berturut-turut dilanda banjir. Banjir sempat memutuskan ruas jalan nasional Jalan Raya Bandung Garut dan Bandung Sumedang di sejumlah titik.

Berulang

Banjir di Kabupaten Bandung tidak hanya terjadi kali ini. Beberapa hari lalu intensitas hujan tinggi juga telah menyebabkan sungai dan anak sungai sempat memutuskan ruas jalan nasional Jalan Raya Bandung Garut dan Bandung Sumedang di sejumlah titik. Belum lagi di tahun- tahun sebelumnya.

Berbagai analisis penyebab banjir pun telah disampaikan. Ada sejumlah persoalan yang menjadikan banjir kerap menggenangi wilayah tersebut saat hujan tiba.

Persoalan pertama adalah adanya alih fungsi lahan di kawasan Gunung Geulis, sebelah timur Jatinangor, di mana menurut Prof Chay seperti ditulis di laman unpad.ac.id, di sisi Timur Gunung Geulis itu sudah terjadi alih fungsi lahan secara masif, tanaman menyerupai hutan di sana sudah berubah menjadi permukiman.

Tidak hanya itu, lereng Timur Gunung Geulis juga banyak dilakukan pengerukan pasir, sehingga meningkatkan run off aliran air ke permukaan yang lebih rendah. Praktis, kawasan Jatinangor dan Rancaekek yang notabene berada di bawah menjadi “korban” gelontoran air dari gunung-gunung yang sudah rusak tersebut.

Tergerusnya area persawahan menjadi permukiman turut menjadi masalah. Padahal, kata Prof. Chay, persawahan setidaknya menjadi area “parkir air” saat hujan turun, sehingga air tidak akan meluap ke bagian rendah yang berada di wilayah itu.

Belum Menyentuh Akar Persoalan

Sejauh ini strategi dalam upaya mengatasi berbagai bencana, termasuk banjir dan bandang, belum menyentuh akar persoalan, melainkan hanya menitikberatkan pada penanggulangan atau mitigasi semata.

Menurut aktivis muslimah Siti Nafidah Anshory, M.Ag, pemerintah masih fokus pada upaya mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana.

Walhasil, seperti dikutip muslimahnewss, soal mitigasi baru sebatas tataran konsep. Alih-alih berkurang, jumlah kejadian bencana dari tahun ke tahun terus meningkat. Apalagi yang menyedihkan, dampak berbagai bencana yang terjadi sebelumnya di beberapa wilayah Indonesia juga belum tuntas teratasi.

Koreksi Mendasar

Semestinya ada koreksi mendasar atas cara pandang aspek bencana dan paradigma pembangunan dengan tetap mempertimbangkan keselamatan lingkungan.

Selama bencana hanya dilihat sebagai faktor alam semata dengan konsep pembangunan yang jauh dari nilai dan paradigma Islam sebagai rahmatan lil alamin, selama itu pula tidak akan muncul dorongan untuk mencari penyelesaian.

Sekularisme kapitalistik neoliberal telah membuka ruang besar bagi berkembangnya perilaku eksploitatif dan destruktif di tengah masyarakat.

Sistem ini memposisikan negara sebatas alat legitimasi munculnya kebijakan dan praktik pembangunan yang justru hanya memenuhi syahwat para pemilik modal sekalipun dampaknya akan merusak alam, lingkungan, dan kemanusiaan, serta memandulkan kemampuan negara sebagai pengatur dan atau penjaga umat.

Begitu pula, ilmu pengetahuan dan teknologi, ketika berada dalam sistem buatan manusia ini justru mempercepat proses perusakan alam yang berdampak jangka panjang. Tanpa mereka sadari sesungguhnya mereka telah berbuat kerusakan.

Firman Allah dalam QS Al-Baqarah ayat 11—12 bahwa apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah berbuat kerusakan di bumi, Mereka menjawab, sesungguhnya kami orang-orang yang melakukan perbaikan. Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari. Wallahu a’lam.[]

Comment