Penulis: Rahmawati Ayu Kartini | Aktivis Muslimah
RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Kenaikan gaji (yang telah dibatalkan) dan tunjangan anggota DPR yang fantastis di tengah kesulitan rakyat telah memicu kemarahan publik. Demonstrasi besar pada 28 Agustus 2025 yang bahkan merenggut korban jiwa menjadi bukti nyata kekecewaan rakyat.
Saat pajak dinaikkan dan harga kebutuhan pokok merangkak naik, wakil rakyat justru menikmati tambahan gaji lebih dari seratus juta rupiah. Sebuah ironi: mereka yang mestinya memperjuangkan kepentingan rakyat malah hidup bermewah-mewah dari keringat rakyat.
Lebih ironis lagi, sebagian besar dari mereka yang sudah bergelimang harta justru mendapatkan tunjangan pajak dari APBN sehingga terbebas dari kewajiban pajak yang memberatkan rakyat kecil.
Generasi Penghancur Negara
Ibnu Khaldun, Bapak Sosiologi Islam, jauh-jauh hari telah menggambarkan siklus peradaban manusia. Menurutnya, setiap bangsa melewati fase: generasi perintis, pembangun, penjaga tradisi, penikmat, dan akhirnya generasi penghancur.
Generasi perintis penuh semangat juang, membangun peradaban dari bawah. Generasi pembangun mewarisi energi tersebut hingga mengantar negeri pada puncak kejayaan. Generasi penjaga tradisi mulai kehilangan semangat, meski masih menjaga kewibawaan.
Namun, ketika memasuki fase generasi penikmat, tanda-tanda kerusakan mulai muncul. Mereka hanya menikmati hasil perjuangan pendahulunya. Hingga akhirnya lahirlah generasi penghancur: generasi yang hidup sesukanya, mengabaikan tanggung jawab, dan merusak negeri dengan tangannya sendiri.
Pertanyaannya, apakah sikap DPR yang menaikkan tunjangan fantastis di tengah penderitaan rakyat menandakan bahwa bangsa ini sudah memasuki fase kehancuran sebagaimana digambarkan Ibnu Khaldun?
Penyebab Runtuhnya Peradaban
Sejarah mencatat, banyak negeri hancur bukan karena serangan dari luar, melainkan karena rapuh dari dalam. Salah satunya ketika para pemimpin dan pejabatnya larut dalam kemewahan. Demi mempertahankan gaya hidup mewah, mereka rela menaikkan pajak rakyat.
Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah menjelaskan: ketika pengeluaran sultan dan pejabat meningkat karena gaya hidup mewah, mereka menutupinya dengan menaikkan pajak. Akibatnya, beban rakyat bertambah berat, pasar lesu, dan perekonomian runtuh. Kondisi ini menjadi awal keruntuhan dinasti.
Sejarah memang berulang. Pajak yang ditarik untuk membiayai kemewahan pejabat kini tampak kembali. Sistem kapitalisme sekuler yang melanggengkan kesenjangan sosial membuat fenomena ini kian nyata: pejabat kian kaya, rakyat kian tertekan.
Hidup Bermewah-Mewah, Jalan Menuju Neraka
Dalam pandangan Islam, hidup bermewah-mewah adalah sifat tercela. Al-Qur’an menyebutkan bahwa penghuni neraka adalah orang-orang yang dahulu hidup bermewah-mewah (QS. Al-Waqi‘ah: 45). Bahkan Allah memperingatkan, jika suatu negeri dipenuhi orang-orang yang hidup mewah namun durhaka, kehancuran akan datang (QS. Al-Isra: 16).
Sejarah Andalusia dan Revolusi Prancis menjadi bukti. Andalusia yang kuat akhirnya runtuh karena elitnya terjebak perebutan kekuasaan dan kekayaan. Prancis pun bergolak karena raja dan bangsawan larut dalam pesta pora sementara rakyat dicekik pajak.
Berbeda dengan Rasulullah SAW dan Khulafaur Rasyidin yang justru memberi teladan hidup sederhana. Mereka menempatkan dunia di tangan, bukan di hati. Harta bagi mereka hanyalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
Sebaliknya, ketika umat Islam terjebak pada cinta dunia—virus wahn—kelemahan pun datang. Sejarah menunjukkan umat Islam kalah bukan karena musuh lebih kuat, melainkan karena mereka lengah akibat cinta dunia dan takut mati.
Jalan Kembali
Jika umat ingin kembali berjaya, maka penyakit wahn harus disembuhkan. Caranya dengan memperdalam iman, menegakkan nilai Islam secara menyeluruh, dan menjadikan akhirat sebagai orientasi. Dengan pandangan iman, dunia menjadi kecil, sementara akhirat terasa jauh lebih berharga. Wallahu a‘lam bish-shawab.[]














Comment