Oleh: Hana Annisa Afriliani, S.S, Aktivis Muslimah dan Penulis Buku
_________
RADARINDONESIAMEWS.COM, JAKARTA — Sudah jatuh tertimpa tangga. Begitulah peribahasa yang tepat untuk menggambarkan kondisi hidup di bawah aturan sistem kapitalistik hari ini. Dari hari ke hari, nasib rakyat kian tak menentu. Sudahlah diselimuti pandemi yang tak kunjung berkesudahan, berbagai kebijakan penguasa ikut-ikutan menambah derita.
Belum usai keterkejutan rakyat akibat wacana penangguhan pencairan Jaminan Hari Tua (JHT) hingga usia 56 tahun bagi pekerja, kini rakyat kembali dikejutkan dengan kebijakan pensyaratan kepesertaan BPJS kesehatan untuk mengurus Surat Izin Mengemudi (SIM), pembuatan Surat Tanda Kendaraan Bermotor (STNK), pemberangkatan ibadah haji dan umroh, serta jual beli tanah.
Aturan tersebut tertuang dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 tahun 2022 tentang Pengoptimalan Jaminan Kesehatan Nasional. Rencananya aturan tersebut mulai berlaku pada 1 Maret 2022 mendatang.
Sangat jelas bahwa kebijakan tersebut merupakan bentuk kezaliman yang nyata terhadap rakyat. Betapa tidak, rakyat ditekan untuk mendaftarkan diri sebagai peserta BPJS Kesehatan padahal hakikatnya layanan kesehatan merupakan tanggung jawab negara secara mutlak. Sementara, dengan adanya BPJS yang tak ubahnya sebagai asuransi, rakyat sendirilah yang membiayai layanan kesehatannya.
Di sisi lain, layanan kesehatan bagi pengguna BPJS pun selama ini banyak menuai persoalan, mulai dari pelayanan yang ala kadarnya, birokrasi yang berbelit-belit, hingga munculnya berbagai kasus korupsi dana BPJS. Sungguh memprihatinkan!
Kini, rakyat dipaksa untuk menjadi peserta BPJS dengan cara menjadikan BPJS sebagai prasyarat banyak urusan. Sungguh ini merupakan kebijakan yang membuat rakyat semakin sulit ! Padahal semestinya negara melakukan pemeliharaan urusan rakyatnya dengan penuh tanggung jawab, bukan malah berlepas tangan. Negara juga semestinya memudahkan urusan rakyatnya, bukan malah mempersulit. Bukankah Allah Swt memerintahkan setiap muslim untuk saling memudahkan urusan saudaranya?
“Dari Abu Hurairah ra, Nabi saw bersabda: _“Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat.” (HR.Muslim).
Maka, semakin jelaslah bagi kita bahwa penguasa hari ini tidak berpihak pada kepentingan rakyat. Karena layanan publik pun dikapitalisasi demi setumpuk materi. Sungguh ironis!
Bergerak Demi Perubahan Hakiki
Tentu saja kita harus memahami bahwa kebijakan pemerintah tersebut merupakan buah dari penerapan sistem kapitalisme. Kemudian, kita sebagai muslim tentu harus meyakini bahwa Islam adalah satu-satunya solusi atas segala permasalahan umat.
Oleh karena itu, semestinya kita merasa gerah untuk segera mengubah kondisi hari ini menuju kondisi yang Allah ridai, yakni berada di bawah naungan penerapan sistem Islam kaffah, yakni hadirnya kepemimpinan islam secara internasional atau khilafah.
Khilafah Pelayan Umat, Mewujudkan Maslahat
Dengan visi negara Khilafah sebagai pelaksana hukum syara, maka tentu saja segala pelaksanaan kebijakannya takkan menzalimi rakyatnya, termasuk dalam hal pelayanan urusan publik.
Islam memandang bahwa negara memiliki peran sebagai ri’ayatussu’unil ummah (pemelihara urusan umat), maka negara harus melayani rakyatnya sepenuh hati tanpa mengharap balasan materi. Negara dalam Islam akan berupaya memberikan pelayanan publik berkualitas kepada rakyatnya, yakni dengan:
1. Menyederhanakan birokrasi. Negara tidak akan membuat proses mendapatkan pelayanan berbelit-belit yang menyusahkan rakyatnya.
2. Menempatkan orang-orang yang profesional dan memiliki keamanahan dalam melayani urusan publik tersebut. Sehingga rakyat akan mendapatkan pelayanan terbaik dan tak takut dicurangi. Dengan itu pulalah, praktik korupsi takkan terjadi. Sebab, pejabat terkait akan amanah melaksanakan tugas-tugasnya, tak silau oleh materi.
3. Memberikan pelayanan publik secara murah bahkan gratis. Negara tidak akan menyerahkan pengelolaan pelayanan publik kepada swasta, karena jelas hal tersebut akan dijadikan ladang bisnis demi meraup profit.
Negara bersungguh-sungguh melayani rakyatnya, tanpa pandang bulu. Kaya miskin mendapatkan pelayanan terbaik dan gratis. Adapun dananya diambil dari Baitul Mal yakni dari pos kepemilikan umum, seperti barang tambang, migas, dll yang dikelola oleh negara kemudian hasilnya diserahkan untuk rakyat. Amat berbeda dengan negara dalam sistem kapitalistik hari ini, menyerahkan berbagai pelayanan publik kepada pihak swasta, sementara negara hanya berperan sebagai regulator semata. Wajar jika rakyat harus merogoh kocek dalam-dalam demi mendapatkan pelayanan publik tersebut.
Dalam hal pelayanan kesehatan, negara akan memberikan kepada rakyatnya yang sakit dengan menyediakan fasilitas rumah sakit lengkap dan dokter terbaik, serta obat-obatan tanpa rakyat harus pusing memikirkan biayanya.
Negara benar-benar bertanggungjawab penuh terhadap kesehatan rakyatnya. Hal tersebut pernah terekam dalam sejarah ketika sistem Islam tegak dalam institusi negara. Ya, Rasulullah saw sebagai kepala negara daulah Islam kala itu, menyediakan seorang dokter hadiah dari Muqauqis kepada rakyat Madinah untuk mengobati rakyatnya yang sakit secara gratis.
Begitulah sejatinya sifat pelayanan negara terhadap rakyatnya di dalam kacamata Islam, yakni sebagai pelaksanaan atas perintah Allah dan pengabdian terhadap rakyat. Sebab kelak penguasa akan dimintai pertanggungjawaban di pengadilan akhirat jika tidak amanah atau bahkan melakukan kezaliman.
Sungguh, sistem pemerintahan Islam akan menjamin urusan rakyat yang berada di bawah naungannya berjalan sesuai tuntunan syara. Begitulah kesempurnaan Islam sebagai sebuah mabda (ideologi), bukan sebatas agama ritual beribadatan.
Islam mampu menghadirkan kesejahteraan, keadilan, dan ketentraman bagi umat. Maka, tak ada pilihan lain selain kita mengembalikan sistem Islam untuk diterapkan di atas muka bumi, yakni dengan melakukan perjuangan dakwah secara terstruktur dan berjamaah. Insyallah, sebagaimana janji Allah, Khilafah yang kita rindukan akan kembali terwujud. Allahu Akbar.!











Comment