Bullying dan Krisis Adab: Pendidikan Sekuler Gagal Membentuk Manusia Berkarakter

Opini349 Views

Penulis: Mansyuriah Mansyur, S.S | Aktivis Makassar Muslimah Urban Forum

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Beberapa hari terakhir, publik dikejutkan oleh dua peristiwa memilukan yang sama-sama berakar dari luka batin seorang remaja korban bullying.

Di sebuah pesantren, seorang santri nekat membakar asrama tempat ia tinggal hanya karena tak lagi sanggup menahan sakit hati setelah menjadi sasaran ejekan dan perundungan teman-temannya.

Kasus lain juga mencuat dari sebuah SMA negeri seorang siswa diduga menjadi dalang ledakan di lingkungan sekolahnya. Ia disebut-sebut kerap menjadi korban bullying, dikucilkan, dan dilecehkan oleh rekan-rekannya sendiri.

Dua kejadian ini bukan sekadar insiden terpisah, melainkan cermin dari tekanan sosial yang kian membebani generasi muda. Di balik wajah polos para pelajar, tersimpan gejolak emosi yang bisa meledak kapan saja saat rasa sakit, marah, dan tidak berdaya bercampur menjadi satu.

Bullying yang dianggap “main-main” ternyata bisa meninggalkan luka psikologis dalam yang tak selalu terlihat. Pelecehan, hinaan, dan pengucilan sosial perlahan mengikis rasa percaya diri, hingga akhirnya mendorong korban ke titik ekstrem melawan dengan cara destruktif.

Fenomena ini menandakan bahwa lingkungan pendidikan kita masih gagal menciptakan ruang aman bagi remaja untuk tumbuh dengan martabat dan empati.

Ketika sekolah dan pesantren seharusnya menjadi tempat menumbuhkan karakter, justru di sanalah sebagian anak muda kehilangan kendali akibat luka sosial yang tak tertangani.

Kini, pertanyaannya bukan sekadar siapa yang salah, tetapi bagaimana sistem dan budaya kita membiarkan perundungan menjadi bara yang sewaktu-waktu bisa menyala.

Bullying, Problem Sistemik dalam Pendidikan

Fenomena bullying yang kini merebak di berbagai daerah bukan sekadar perilaku menyimpang individu, melainkan bukti nyata bahwa masalah ini bersifat sistemik dalam dunia pendidikan.

Lingkungan sekolah yang seharusnya menjadi tempat pembinaan akhlak justru berubah menjadi ruang reproduksi kekerasan verbal maupun fisik.

Kasus demi kasus menunjukkan bahwa sistem pendidikan saat ini gagal menanamkan nilai-nilai moral dan empati yang menjadi pondasi kepribadian manusia beradab.

Peran media sosial juga memperparah keadaan. Aksi bullying yang semestinya memalukan justru dijadikan bahan candaan dan hiburan di berbagai platform digital.

Fenomena ini mencerminkan krisis adab yang kian dalam, serta hilangnya fungsi utama pendidikan sebagai pembentuk karakter dan penjaga moralitas.

Media sosial yang tanpa kontrol membuat remaja meniru perilaku agresif, menormalisasi ejekan, bahkan menilai kejam sebagai lucu.

Lebih mengkhawatirkan lagi, sosial media sering menjadi tempat pelampiasan bagi korban bullying. Tak sedikit yang akhirnya meniru konten berbahaya untuk mengekspresikan dendam atau kemarahan, baik dengan menyakiti diri sendiri maupun orang lain.

Ini menandakan bahwa mereka tidak mendapatkan bimbingan emosional dan spiritual yang memadai dari sistem pendidikan yang ada.

Akar persoalan ini terletak pada sistem pendidikan sekuler-kapitalistik yang berorientasi pada materi semata. Fokusnya hanya pada nilai ujian dan prestasi akademik, bukan pembentukan kepribadian yang berlandaskan akidah Islam.

Akibatnya, lahir generasi cerdas secara intelektual namun kering dari nilai moral dan spiritual. Tanpa perubahan mendasar menuju pendidikan berbasis nilai-nilai Islam yang menanamkan adab, empati, dan ketundukan kepada Allah SWT, fenomena bullying akan terus berulang, menandakan kegagalan sistem dalam membentuk manusia berkarakter mulia.

Bagaimana Islam Membentuk Kepribadian Islam

Tujuan utama pendidikan dalam Islam bukan sekadar mencetak manusia cerdas secara intelektual, tetapi membentuk kepribadian Islam yang utuh. Kepribadian ini lahir dari perpaduan antara pola pikir dan sikap islami yang berakar pada aqidah Islam.

Artinya, seseorang berpikir dan bertindak berdasarkan pandangan hidup Islam, bukan sekadar mengikuti tren atau nilai-nilai duniawi.

Inilah orientasi mendasar yang membedakan sistem pendidikan Islam dari sistem sekuler yang hanya menekankan aspek kognitif dan keterampilan.

Proses pendidikan dalam Islam menuntut pembinaan intensif yang menyentuh seluruh aspek manusia: akal, jiwa, dan perilaku. Pendidikan tidak boleh berhenti pada transfer ilmu pengetahuan, tetapi harus menumbuhkan kesadaran dan keikhlasan untuk beramal sesuai syariat.

Karena itu, nilai maknawi dan ruhiyah memiliki porsi penting di samping nilai materi. Guru bukan hanya pengajar, tetapi pembimbing ruhani yang menanamkan kecintaan kepada Allah, Rasul, dan Islam di hati peserta didik.

Pembelajaran diarahkan untuk membentuk karakter yang tangguh, berakhlak mulia, dan memiliki visi perjuangan bagi kemuliaan umat.

Kurikulum pendidikan Islam harus berbasis aqidah Islam, menjadikan seluruh mata pelajaran terikat dengan nilai-nilai keimanan. Ilmu tidak dipisahkan antara agama dan umum, karena keduanya adalah amanah Allah untuk dikelola sesuai tuntunan syariat.

Dalam sistem ini, adab menjadi fondasi utama. Sebelum anak diajarkan sains dan teknologi, ia harus dididik untuk beradab kepada Allah, Rasul-Nya, orang tua, dan sesama manusia.

Akhirnya, tanggung jawab besar untuk mewujudkan sistem pendidikan semacam ini berada di tangan negara. Dalam islam, negara berkewajiban menjamin pendidikan gratis dan berkualitas bagi seluruh rakyat, membina moral umat, serta melindungi generasi dari pengaruh kezaliman sosial seperti sekularisasi, hedonisme, dan kerusakan moral.

Dengan konstruksi pendidikan yang berlandaskan Islam secara menyeluruh, akan lahir generasi berkepribadian Islam generasi rabbani yang siap memimpin peradaban dengan iman, ilmu, dan akhlak. Wallahu a’lam.[]

Comment