Bullying Kian Menggila: Alarm Gagalnya Sistem Sekuler

Opini937 Views

 

Penulis: Martina Eka Trilova | Aktivis Muslimah

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA — Sepanjang tahun ini, kasus perundungan (bullying) terus menunjukkan kenaikan yang mengkhawatirkan. Berbagai laporan mencatat pelanggaran hak anak dalam bentuk kekerasan fisik, psikis, hingga cyberbullying yang bahkan berujung pada kematian akibat bunuh diri. Fenomena ini menegaskan bahwa bullying bukan persoalan sepele, melainkan ancaman serius bagi tumbuh kembang anak.

Dampak bullying sangat fatal: gangguan mental, depresi, trauma berkepanjangan, penurunan prestasi, hingga hilangnya nyawa. Karena itu, persoalan ini menuntut perhatian serius dari seluruh pihak—keluarga, sekolah, masyarakat, hingga negara.

Mengapa Bullying Semakin Merebak?

Bullying tumbuh subur di tengah lingkungan yang buruk dan tidak sehat. Banyak keluarga mengalami disharmoni dan malfungsi peran, seperti hilangnya figur ayah atau melemahnya peran ibu dalam mendidik anak. Ditambah lagi budaya mengejek, merendahkan, dan menjatuhkan seseorang demi konten viral atau FYP di media sosial semakin memperparah keadaan.

Padahal Islam dengan tegas melarang tindakan merendahkan orang lain. Dalam QS. Al-Hujurat ayat 11, Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengejek kaum yang lain. Boleh jadi yang diejek itu lebih baik daripada yang mengejek…”

Islam juga memiliki sistem sosial yang kokoh. Keluarga berfungsi sebagai madrasah pertama, tempat orang tua menjadi pendidik, pengarah, dan pelindung.

Sekolah memiliki peran membentuk akhlak Islam, bukan sekadar mentransfer pengetahuan, tetapi juga menanamkan syakhsiyah Islamiyah (kepribadian Islami) yang taat dan berakhlak mulia. Negara pun berkewajiban menjaga keamanan jiwa rakyatnya dengan penegakan hukum yang adil dan tegas.

Namun hari ini, sekularisme—yang memisahkan agama dari kehidupan publik—mencabut nilai-nilai moral dari akar kehidupan masyarakat. Agama dipinggirkan, seolah hanya pantas berada di masjid.

Perlindungan Hakiki Bernama Syariat Islam

Realitas menunjukkan bahwa individu, keluarga, dan sekolah tak mampu menyelesaikan persoalan bullying secara mandiri. Negara pun kerap gagal memberikan perlindungan optimal kepada anak-anak.

Islam menawarkan solusi menyeluruh melalui sistem yang Allah turunkan, yakni penerapan syariat secara kaffah. Dalam sistem ini, perlindungan terhadap jiwa dan kehormatan ditempatkan sebagai prioritas utama.

Anak-anak dibina sejak kecil melalui pendidikan Islam yang menguatkan karakter, pergaulan sosial dijaga, media dan hiburan diarahkan agar tidak merusak moral, dan pelaku kekerasan diberi sanksi tegas.

Bullying bukan sekadar fenomena sosial biasa—ia adalah alarm bahwa kerusakan sistem semakin dalam. Ini merupakan konsekuensi dari penerapan sistem sekularisme–kapitalisme dan demokrasi yang diadopsi saat ini.

Karena itu, hanya syariat Islamlah yang mampu menuntaskan akar persoalan dengan memperbaiki keluarga, membangun pendidikan yang berakhlak, serta menghadirkan negara yang benar-benar melindungi rakyatnya.[]

Comment