Bunuh Diri Pelajar Meningkat, Apa Kabar Dunia Pendidikan?

Opini421 Views

Penulis: Puput Hariyani, S.Si | Womanpreuneur

 

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA – Baru-baru ini berita tentang bunuh diri pelajar menghebohkan masyarakat. Sebagaimana diberitakan kompas.com, Dua siswa sekolah menengah pertama di Kecamatan Barangin, Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, ditemukan bunuh diri di sekolah selama Oktober 2025.

Berdasarkan hasil penyelidikan sementara oleh kepolisian, tidak ada dugaan tindakan bullying atau perundungan dalam kedua kasus ini.

Dalam rentang waktu yang sama, Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes), Dante Saksono Harbuwono, mengungkapkan data mengkhawatirkan dari program pemeriksaan kesehatan jiwa gratis yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan.

Angka temuan menunjukkan lebih dari dua juta anak di Indonesia saat ini berjuang dengan berbagai bentuk gangguan mental. Hasil pemeriksaan yang telah menjangkau sekitar 20 juta jiwa secara keseluruhan, mengungkap besarnya krisis yang tersembunyi di kalangan generasi muda (Republika.com).

Meningkatnya angka bunuh diri dan temuan lebih 20 juta jiwa pelajar tengah berjuang dengan gangguan mentalnya tentu menjadi kabar yang sangat mengerikan. Kondisi ini sangat penting untuk dicermati dan mendapat perhatian khusus dari seluruh pihak. Kenyataannya tidak semua kasus bunuh diri di kalangan pelajar disebabkan oleh bullying

Fakta ini lebih menggambarkan bahwa faktor bunuh diri di kalangan remaja disebabkan rapuhnya kepribadian mereka. Kerapuhan ini mencerminkan lemahnya akidah anak sebagai pondasi kehidupan.

Lemahnya kepribadian anak berawal dari minimnya pendidikan agama di lingkungan keluarga. Orang tua banyak menghabiskan waktu untuk memenuhi tekanan ekonomi keluarga, kalaupun mereka ada secara fisik nyatanya tak sedikit yang absen memerankan tanggung jawabnya sebagai ibu yang semestinya menjadi madrasah pertama bagi putra putrinya. Juga sebagai ayah yang seharusnya hadir bukan sekedar memberikan materi.

Hal ini juga merupakan implikasi dari sistem pendidikan sekuler yang hanya mengejar nilai, orestasi akademik dan mengabaikan pengajaran agama. Agama tak ubahnya teori dan nasehat yang jauh dari aplikasi.

Agama hanya diperbincangkan dalam ranah ibadah, sementara untuk kehidupan sosial semisal pergaulan itu nihil.

Ditambah kehadiran media sosial yang menjadi bagian dari tumbuh kembang anak namun justru menjadi media paparan bunuh diri, bermunculan pula komuniras sharing bunuh diri yang semakin memicu dan menjadikan anak-anak rentan bunuh diri.

Bunuh diri merupakan puncak gangguan mental yang parah akibat berbagai persoalan yang terjadi melingkupi generasi hari ini. Konflik orang tua yang berujung perceraian, kesulitan ekonomi, pergaulan toxix, hingga tuntunan gaya hidup.

Semua ini akibat penerapan tata aturan sekulerisme kapitalis yang menghilangkan oengaturan Allah dalam kehidupan digantikan aturan buatan manusia yang penuh keterbatasan dan menimbulkan kerusakan.

Tragisnya, paradigma batas usia anak yang tidak tepat. Dalam pandangan barat anak baru dianggao dewasa ketika berusia 18 tahun. Sementara dalam Islam ketika seorang anak sudah baligh maka dia harus disempurnakan akalnya, terikat dengan aturannya Allah dan bertanggungjawab jika melakukan pelanggaran syariat.

Di sinilah urgensinya kembali pada sistem aturan Islam yang menjadikan dasar pendidikan di keluarga dan seluruh jenjang sekolah dengan menanamkan serta memperkuat akidah Islam sehingga punya benteng kuat untuk menghadapi berbagai persoalan hidup dan tak mudah putus asa.

Sekolah jelas memiliki kurikulum yang tujuannya adalah membentuk kepribadian Islam kepada seluruh peserta didik sehingga mamou menyikapi persoalan dalam hidupnya termasuk persoalan yang ada di sekitarnya.

Dibutuhkan sinergitas peran keluarga, sekolah dan media yabg ini membutuhkan peran negara yang akan mampu menstop, memfilter berbagai tanyangan yang meruska generasi.

Semua ini harus dalam payung besar penerapan Islam yang sempurna, dengan demikian terwujud kehidupan yang kondusif untuk pelajar dan masyarakat secara umum karena keberkahan akan menyelimuti seluruh alam semesta. Wallahu ‘alam bi ash-showab.[]

Comment